5 Kebodohan Ini Bisa Bikin Pendaki Mati di Gunung

Sabtu, 15 Agustus 2015 07:01 Penulis: Arai Amelya
5 Kebodohan Ini Bisa Bikin Pendaki Mati di Gunung
Ilustrasi para pendaki gunung ©via ruliamrullah.files


Kapanlagi Plus - Kematian pendaki cantik asal Sukabumi, Jawa Barat, Dania Agustina Rahman di gunung Semeru memang menyisakan duka. Jika kamu ketinggalan, perempuan berusia 19 tahun itu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia sekitar 200 meter dari puncak Mahameru.

Dania diduga tewas terkena bebatuan besar dari puncak gunung tertinggi di pulau Jawa itu. Kematian Dania memang disesalkan, apalagi disebutkan jika pihak TNBTS sempat melarang para pendaki naik ke puncak. Apa yang dialami Dania ini membuat banyak orang harus ingat lagi, bahwa kegiatan pendakian ke gunung bukanlah sesuatu yang mudah.

Ya, tak semudah dan seindah yang kamu lihat di film 5 CM tentunya. Mendaki gunung tak hanya butuh fisik yang kuat, tapi mental dan hati yang tegar juga. Mendaki gunung bukan soal sok-sokan ingin punya koleksi foto di puncak gunung, tapi bagaimana kamu tahu siapa dirimu sebenarnya. Kamu yang sedang menjadi pendaki pemula, lima hal ini bisa kamu pelajari supaya tidak dapat sial di gunung. Salam lestari!

1. Jadi Sok Jagoan

Ada kalanya para pendaki baru ini begitu haus akan tantangan. Karena hal itu tak sedikit dari mereka yang dengan percaya diri naik gunung lewat jalur tidak resmi. Mereka dengan berani mencoba jalur pendakian baru yang belum pernah dilewati atas nama haus akan petualangan' Namun parahnya, para pendaki pemula melewati jalur baru ini tanpa kemampuan navigasi yang baik. 

Tidak bisa membaca arah mata angin dan tidak bisa membaca peta topografi atau kompas adalah masalah pendaki pemula. Lantas mau mengandalkan GPS HP di puncak gunung? Tak ada sinyal bung! Belum lagi jika dipikir lebih jauh, mencari jalur baru bisa saja merusak ekosistem kehidupan liar. Hasilnya, mereka para pendaki pemula ini akan tersasar, bertemu dengan hewan liar dan akhirnya ditandu tim SAR ke rumah sakit. Kemungkinan lebih buruknya? Ditemukan mati kedinginan di bawah jurang.

2. Bekal Makan Tak Diatur

Bekal makanan adalah hal penting saat mendaki gunung. Dari para pendaki pemula atau yang sok-sokan ingin disebut pendaki, biasanya berpikir kalau mendaki identik dengan mie instan sehingga bekal yang dibawa kebanyakan mie instan. Padahal untuk mendaki gunung, dibutuhkan tenaga besar dengan kalori rata-rata dua kali kegiatanmu sehari-hari.

Para pendaki pemula biasanya memasak makanan tidak sempurna seperti nasi tidak matang dan masih keras. Belum lagi mie instan yang sulit dicerna tubuh menambah buruk kondisi mereka. Untuk itu, saat mendaki gunung ada baiknya kamu memperbanyak daging-dagingan berlemak atau setidaknya cokelat. Satu batang cokelat bisa membuatmu bertahan hidup di gunung lho.

3. Packing Kacau

Salah satu hal yang kerap dipandang remeh para pendaki pemula adalah urusan packing atau mengepak dan menata barang di ransel (carrier). Padahal seluruh barang bawaan saat mendaki gunung itu harus masuk ke dalam carrier dan tak ada yang boleh tergantung di luar ransel selain botol air minum. Kedua tanganmu harus dalam kondisi bebas untuk memegang tongkat atau akar-akar pohon.

Hanya saja pendaki pemula kerap menggantungkan barang mereka ke tas dengan tangan membawa sleeping bag dan tenda karena packing seenak udel. Belum lagi carrier pendaki pemula kerap tidak dilindungi oleh cover bag. Padahal udara gunung yang dingin bisa menimbulkan embun yang membasahi tas. Bisa dibayangkan dong saat kamu mau ganti baju di malam hari, eh semua baju di dalam tas sudah basah? Nekat tidur dalam kondisi basah? Selamat datang di Hipotermia, penyebab utama kematian pendaki gunung.

4. Ingin Jadi Yang Tercepat

Satu lagi ciri khas pendaki pemula adalah mereka ingin segera cepat sampai ke puncak. Apa tujuannya? Biar disangka hebat dan bisa selfie di puncak dengan segera. Padahal bisa-bisa karena pengen sok cepat, tak sadar ototnya cedera. Para pendaki pemula merasa haram hukumnya ada di belakang sendiri karena akan dianggap lemah. Padahal tahukah kamu? Dalam sebuah grup pendakian ideal, ada sosok terkuat dan paling bisa diandalkan yang berjalan paling belakang. bernama Sweeper.

Sosok itu adalah yang paling bertanggung jawab karena memastikan tak ada anggota yang tertinggal di belakang. Untuk itulah kerjasama tim diperlukan dalam pendakian. Mendaki gunung dalam rombongan harus saling pengertian, mereka yang merasa lelah jangan malu mengakui dan mereka yang masih kuat harus mendampingi rekannya yang mulai lelah dan ikut istirahat. Jangan sampai kamu cuma mengejar ingin cepat sampai di gunung, akhirnya melupakan temanmu di belakang sehingga dia tewas kelelahan.

5. Gunung Bukan Untuk Ditaklukkan

Mereka yang disebut pendaki pemula biasanya naik gunung dengan tujuan ingin punya foto saat di puncak supaya bisa pamer di sosial media. Rasa bangga dan level keren meningkat saat bisa menaklukkan gunung. Tunggu, gunung bisa ditaklukkan? Kamu salah bung! Tak ada satupun manusia yang bisa menaklukkan gunung. Jadi, mulai sekarang kamu para pendaki harus mengingat baik-baik, tujuan naik gunung adalah untuk menghargai ciptaan Tuhan Semesta Alam.

Ada yang bilang, sifat asli manusia akan terungkap saat dia naik gunung. Ya, hakikat naik gunung itu sama seperti kehidupan. Akan ada jalanan yang terjal, rintangan, mendaki atau menuruni tanah yang curam. Kamu akan merasa menyerah dan kakimu mati rasa. Namun di hatimu, tujuan untuk bisa berada di tempat yang lebih tinggi demi mengagumi alam semesta inilah yang membuat kakimu melangkah lebih jauh. Salam lestari, cintailah gunung dan hormatilah gunung selama kamu mendaki di sana.

(kpl/aia)

Editor:

Arai Amelya



MORE STORIES




REKOMENDASI