Akhirnya, Mahasiswa UGM Ungkap Mitos Ritual Seks Gunung Kemukus

Jum'at, 08 Juli 2016 10:18 Penulis: Arai Amelya
Akhirnya, Mahasiswa UGM Ungkap Mitos Ritual Seks Gunung Kemukus
Gunung Kemukus via jatengonline.com

Kapanlagi Plus - Jika kamu berkunjung ke kabupaten Sragen di Jawa Tengah, pasti bakal dengar yang namanya lokasi wisata gunung Kemukus. Berada di desa Pendem, Sumberlawang, lokasi wisata Kemukus memang identik dengan hal-hal klenik. Kemukus yang berupa perbukitan ini kerap jadi tempat mencari pesugihan tetapi lewat ritual seks. Apakah memang benar begitu?

Mencoba mencari kebenarannya, lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pun membongkar mitos ritual seks Kemukus. Mereka akhirnya menemukan fakta jika wacara ritual seks demi meraih kekayaan sengaja diciptakan oknum tertentu demi meningkatkan bisnis prostitusi.

Gerbang masuk Kemukus © MerdekaGerbang masuk Kemukus © Merdeka


"Ada dua versi mitos yang beredar Versi pertama bersumber dari juru kunci makam yang isinya menyatakan bahwa berziarah ke makam Pangeran Samudro harus berniat lurus dan suci. Versi penjaga makam melarang peziarah melakukan hal aneh-aneh seperti ritual seks. Sementara versi kedua disebutkan pemilik warung dan jasa penginapan yang menyediakan PSK menyebut bahwa peziarah harus melakukan ritual seks jika mau doanya terkabul," ungkap Taufiqurahman salah satu mahasiswa Fakultas Filsafat UGM yang melakukan penelitian.

Taufiq dan keempat rekan lainnya yakni Fitriadi, Melfin Zaenuri, Rangga Kala dan Surya Aditya menyebut jika bisnis prostitusi Kemukus menghasilkan uang yang sangat besar. Tiap tahun obyek wisata Makam Pangeran Samudro menyumbang sekitar Rp 190 juta untuk PAD Sragen dan ada lsekitar 30 ribu orang yang datang ke sana.

Sudut-sudut pemukiman warga di Kemukus © MerdekaSudut-sudut pemukiman warga di Kemukus © Merdeka

"Karena besarnya perputaran rupiah membuat wacana ritual seks gunung Kemukus akan terus diproduksi. Selama mitos itu terus diwacanakan, selama itu juga akan mempengaruhi tindakan dan pandangan individu serta masyarakat," lanjut Taufiq seperti dilansir Merdeka.

Bicara soal aturan tak resmi, mitos masyarakat menyebutkan jika setiap peziarah yang datang ke makam pangeran asal Kerajaan Majapahit itu harus melakukan hubungan badan. Tak main-main, mereka harus berhubungan sebanyak tujuh kali dengan orang yang bukan suami/istri sendiri. Ritual seks itu paling baik dilakukan pada Kamis Pahing atau Kamis Wage.

(mdk/aia)

Editor:

Arai Amelya



MORE STORIES




REKOMENDASI