4 Tips Menerapkan Responsible Fashion, Bukan Cuma Asal Stylish Tapi Juga Mencegah Kerusakan Lingkungan

Kapanlagi.com - Perubahan iklim yang terjadi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir dan mengakibatkan berbagai bencana memang perlu diperhatikan secara serius. Mulai dari kebanjiran, kekeringan sampai terancam tenggelamnya pulau-pulau di Indonesia adalah sesuatu yang tidak bisa kita diamkan saja. Beragam upaya pun telah dilakukan banyak pihak untuk mencegah dampak perubahan iklim semakin parah.

Tak hanya pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat saja, kita juga bisa berkontribusi untuk mencegah dampak perubahan iklim semakin parah. Salah satunya adalah dengan cara memperhatikan pakaian yang kita pakai dengan menerapkan responsible fashion. Penggunaan bahan kimia, bahan baku secara masal, hingga limbah yang dihasilkan membuat industri fashion menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar yang mendorong pemanasan global dan perubahan iklim.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai konsumen produk fashion dalam menerapkan responsible fashion? Untuk membahas hal ini, tim redaksi Dream.co.id berkesempatan untuk berbincang dengan Gita Syahrani selaku Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), serta Chitra Subyakto, pakar fesyen sekaligus founder dari fashion brand Sejauh Mata Memandang yang telah menerapkan responsible fashion dalam usahanya.

Advertisement

1. Teliti Sebelum Membeli

Kata kunci yang tepat untuk memulai kebiasaan responsible fashion adalah menjadi konsumen yang cerdas. Menurut Chitra Subyakto, mengedukasi diri sendiri sebelum berbelanja akan memunculkan kebiasaan selektif serta tracing sehingga bisa lebih memahami berbagai produk yang dikonsumsi termasuk dari segi fashion.

"Penting untuk selektif dalam membeli produk fashion. Kita perlu memilih barang, mewaspadai asal produknya, apakah sumbernya sustainable atau tidak, atau komoditasnya baik atau tidak. Intinya adalah menjadi shopper yang lebih teredukasi," ujar desainer yang pernah meraih Piala Citra untuk Penata Busana Terbaik ini.

"Hubungan antara pakaian dan kelestarian lingkungan serta krisis iklim adalah bagaimana latar belakang produknya. Bila kita tahu cara memilih barang, kita dapat menjadi konsumen cerdas," tambah Gita.

2. Pilih Bahan Pakaian yang Ramah Lingkungan

Bagi orang yang awam terhadap rancangan busana, akan sulit mengetahui mana bahan dari pakaian harian yang ramah lingkungan. Namun, Chitra Subyakto memiliki beberapa kriteria dasar yang membedakan pakaian sesuai bahan yang digunakan.

Polyester, katun, dan viscose sendiri menjadi bahan yang paling sering digunakan dalam berbagai model serta produk fashion. Namun, tak semua dari bahan ini ramah lingkungan. Indikator ramah lingkungan pada bahan dasar pakaian ini bukan hanya dilihat dari segi produksi, namun juga dari bahan baku, proses pembuatannya, hingga efek apa yang ditimbulkan.

"Kita bisa mengetahui bahan pakaian berdasarkan tekstur dan tampilannya. Jika tampilannya mengkilat dan teksturnya stretch, itu bisa jadi berbahan polyester yang mana bahan ini tidak ramah lingkungan karena berbahan dasar serat plastik. Polyester sulit untuk didaur ulang ke arah organik karena terbuat dari plastik, sehingga proses daur ulangnya harus dengan cara lain. Sedangkan, katun dan viscose lebih ramah lingkungan dan bisa diolah kembali karena terbuat dari alam. Katun berasal dari serat tumbuhan sementara viscose dari kayu," tutur Chitra.

3. Pilih Pakaian yang Bisa Dipakai Berulang Kali dalam Jangka Waktu Lama

Ada banyak langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk menerapkan konsep responsible fashion mulai dari diri sendiri. Chitra Subyakto mengatakan bahwa memilih dan menggunakan outfit yang tepat juga bisa membantu melestarikan alam, loh.

"Saran saya, pilih outfit yang bisa dipakai kapanpun, sebab tren akan selalu berputar dalam kurun waktu tertentu. Kemudian pilih yang kemungkinan masa pakainya lama, bisa lebih dari 5 atau bahkan 10 tahun. Swap cloth dengan teman atau saudara juga bisa dilakukan untuk menghindari kebosanan," jelas Chitra.

Lebih jauh lagi, Gita Syahrani menyampaikan bahwa melakukan sesuatu yang baik nggak perlu harus menunggu kesempurnaan. Menurutnya, ketakutan untuk melakukan suatu langkah perubahan akan membuat kita semua terhambat dalam melangkah.

"Jangan sampai pada akhirnya kita ketakutan terhadap labelling yang malah akhirnya membuat kita nggak bisa ngapa-ngapain. Padahal perubahan positif bisa dimulai dengan cara-cara sederhana," ujar Gita.

4. Lakukan Daur Ulang

Chitra Subyakto juga menjelaskan bahwa konsep daur ulang tak hanya berlaku untuk sampah. Namun, pakaian yang sudah mengalami kerusakan pun juga bisa dimanfaatkan sebagai hal lain yang fungsional berbekal kreativitas yang dimiliki.

"Jika misalnya memiliki kaos yang sudah bolong dan kurang layak pakai jangan langsung dibuang. Coba buat didaur ulang secara kreatif, contohnya dengan cara memotong bagian lengannya dan menjahit bagian bawah baju untuk dijadikan tas belanja," lanjut Chitra.

Nah, gampang kan untuk menerapkan responsible fashion dalam keseharian kita?

    (kpl/pit)