Kapanlagi.com - Vanness Wu kembali menunjukkan karakter panggungnya lewat konser perdana Forever 2.0 di Hangzhou. Selain musik dan koreografi, penampilan visual menjadi bagian penting dalam membangun sosok Vanness sebagai performer di atas panggung.
Dalam konser tersebut, Vanness tampil dengan sejumlah look yang memperlihatkan bagaimana fashion dan jewelry menjadi bagian dari personal style-nya. Dua nama desainer Indonesia, Wanda Ponika dan Harry Halim, turut hadir dalam perjalanan visual tersebut melalui karya yang dikenakan Vanness.
Kolaborasi ini melanjutkan penampilan Vanness dalam rangkaian konser sebelumnya di Asia Tenggara. Sejumlah jewelry karya Wanda Ponika serta busana rancangan Harry Halim sebelumnya juga telah menjadi bagian dari penampilan sang performer.
Potret Dulu vs Sekarang Member F4 yang LegendarisAdvertisement
Salah satu penampilan Vanness di Hangzhou memperlihatkan pilihan fashion yang sederhana dari sisi busana. Ia mengenakan kemeja putih dan celana hitam, tetapi karakter keseluruhan look justru dibangun melalui penggunaan fine jewelry secara berlapis.
Kalung, anting, cincin, hingga gelang dikenakan secara bersamaan untuk memberikan aksen pada penampilannya. Berdasarkan unggahan Wanda Ponika, Vanness juga terlibat langsung dalam proses pemilihan jewelry yang digunakan untuk konser tersebut.
Vanness ikut mengkurasi pieces bersama Wanda Ponika, termasuk menentukan layering serta mix and match antarperhiasan. Cara tersebut membuat jewelry tidak berdiri sendiri, tetapi disesuaikan dengan gaya personal Vanness.
Potret Dulu vs Sekarang Member F4 yang LegendarisWanda House of Jewels sendiri menggunakan berlian D color, kategori warna tertinggi dalam standar warna berlian. Detail tersebut memberikan tampilan yang terang dan bersih ketika jewelry terkena pencahayaan panggung.
Karakter berbeda terlihat ketika Vanness mengenakan setelan velvet berwarna ungu rancangan Harry Halim. Warna purple yang telah lekat dengan identitas Vanness diterjemahkan melalui suit dan celana dengan siluet structured.
Potongan pada bagian pundak memberikan bentuk yang lebih tegas pada tubuh Vanness. Detail di bagian belakang busana juga menciptakan efek visual yang semakin terlihat ketika ia bergerak mengikuti koreografi dan dance di atas panggung.
Pemilihan velvet turut mendukung karakter look tersebut. Material ini memberikan dimensi ketika terkena cahaya konser, membuat warna ungu dan struktur busana terus berubah mengikuti gerakan Vanness.
Potret Dulu vs Sekarang Member F4 yang LegendarisSebagai performer dengan kemampuan dance yang kuat, kebutuhan Vanness terhadap busana panggung tidak hanya berkaitan dengan tampilan saat berdiri diam. Setelan yang dikenakannya juga harus tetap terasa menyatu ketika ia bergerak aktif mengikuti pertunjukan.
Penampilan Vanness di Forever 2.0 memperlihatkan bagaimana fashion dan jewelry dapat mengikuti karakter seorang performer. Fine jewelry dari Wanda Ponika memberikan aksen melalui layering dan komposisi, sedangkan Harry Halim menghadirkan kesan yang lebih kuat melalui struktur, material, dan siluet.
Keduanya memiliki pendekatan berbeda, tetapi sama-sama disesuaikan dengan personality, attitude, serta movement Vanness. Karena itu, elemen fashion dalam konser tersebut terasa menjadi bagian dari penampilannya, bukan sekadar tambahan di luar musik dan koreografi.
Dari konser-konser sebelumnya di Asia Tenggara hingga Forever 2.0 di Hangzhou, Vanness Wu terus membawa gaya visual yang menjadi bagian dari identitasnya sebagai performer. Kehadiran karya desainer Indonesia dalam sejumlah penampilannya sekaligus memperlihatkan bagaimana Vanness memadukan fashion, jewelry, musik, dan gerakan menjadi satu tampilan panggung.
Potret Dulu vs Sekarang Member F4 yang Legendaris(kpl/gtr)