Kapanlagi.com - Pandemi virus corona covid-19 yang tak kunjung usai berdampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia seni. Hampir setahun lamanya, panggung pertunjukan seni dibatasi. Tak ada lagi suara tepuk tangan penonton yang menyaksikan pentas secara langsung. Kini penonton hanya bisa menyaksikan pertunjukan kesayangannya melalui layar digital.
Papermoon Puppet Theatre, kelompok teater boneka asal Yogyakarta yang sudah mendunia juga merasakan dampaknya. Hampir genap satu tahun lamanya, Papermoon tidak lagi tampil secara langsung di atas pentas. Terakhir kali sebelum pandemi, Papermoon sempat tampil di Jepang membawakan cerita "Bucket of Beetles". Sejak saat itu, sampai sekarang Papermoon belum lagi bisa menyapa penontonnya secara langsung.
Padahal, bisa dibilang saat ini Papermoon sedang naik daun. Namanya semakin dikenal setelah tampil di video musik Tulus yang berjudul Manusia-Manusia Kuat, serta muncul di film ADA APA DENGAN CINTA 2. Papermoon semakin punya banyak penggemar. Pentas dan workshop-nya juga selalu dinanti. Tapi apa boleh buat, pandemi datang tanpa bisa diprediksi. Alhasil, kini Papermoon harus beradaptasi.
Advertisement
Kapanlagi.com berkesempatan mewawancarai Pambo Priyojati, salah satu seniman di Papermoon Puppet Theatre. Sedikit banyak, Pambo bercerita tentang proses adaptasi yang dilalui Papermoon di masa pandemi ini. Ditemui di studio Papermoon di kawasan Desa Sembungan, Bangunjiwo, Bantul pada 31 Desember 2020, berikut cuplikan wawancara Kapanlagi.com dengan sosok Pambo.
Terus, kita bikin kesepakatan kalau sementara waktu kita tidak akan belanja produksi. Jadi kita tetap berkarya, dengan menghabiskan habiskan stok barang produksi yang kita punya.
Kemudian Pak Anton (salah satu seniman di Papermoon) mengambil batang ranting-ranting dari pohon di depan. Ternyata, ranting-ranting itu justru bisa mewakili garis-garis di gambar Lunang yang lugas dan jujur. Kalau (Bucket of Beetles Satu) sebelumnya pakai triplek, kalau dipakai lagi kok kayanya "wagu" istilahnya.
Kemudian, saya juga coba bikin set gubuk pakai ranting-ranting di depan. Setelah jadi, ternyata menarik dan cocok dengan konsep. Jadi ya, tanpa perlu belanja produksi artistik tetap bisa berjalan. Akhirnya kita beradaptasi di antaranya dengan memanfaatkan itu. Terus sekalian kita bawa batang pohon tumbang, jadi kita pindah hutan kecilnya ke sini.
Tapi, kemudian kami ingat kesepakatan kami dari awal, bahwa kami bikin festival itu untuk menghidupkan lingkaran seniman boneka. Jadi target utamanya bukan audien, audien adalah impect yang lain. Dan mau dilihat atau tidak, lingkaran inilah sebenarnya esensinya. Makanya, kemarin kita tanyakan teman-teman ini minat tidak kalau pesta boneka kita buat online. Ternyata banyak antusiasnya. Dan alhamdulillah animo masyarakat juga semakin.
Dan ketika terakhir (mereka) diminta testimoni, mereka berterima kasih sekali karena sudah diundang. Kalau kata Mbak Ria itu semacam upaya menjaga kewarasan, dengan ngobrol bareng teman-teman sekomunitas.
Ada juga dari penonton yang tertarik dengan teater boneka juga bisa ngobrol, langsung lewat sesi QNA setelah pertunjukan. Jadi, audien bisa langsung ngobrol dengan senimannya. Para seniman juga merasa senang, karena ibaratnya sudah lama "ngampet". Pesta boneka bisa jadi wadah untuk menyalurkan keluh kesah. Kita juga jadi sadar, bahwa pesta boneka itu memang harus ada.
Biasanya di hari ketiga semua membaur. Di hari ketiga itu semua creative boleh masuk, ada salah satu program yang mana teman-teman seniman membuat masakan menu khas negaranya masing-masing. Kemudian, warga bisa ikut mencicipi. Momen itu semua berbaur, biarpun bahasanya beda-beda. Tapi sayangnya, tahun ini nggak bisa. Dan mereka (seniman-seniman Pesta Boneka) lumayan merindukan itu juga ternyata.
Tapi kemudian kemarin kita sudah ada wacana akan bikin konsep (pementasan) hand carry performance. Tapi, itu masih wacana. Jadi, pertunjukan kecil yang harus janjian dulu. Kita hanya akan bawa satu koper, kemudian kami pentaskan di depan penonton paling 10-15, benar-benar di batasi. Kemarin kami sudah simulasi. Kami juga sudah mulai buka studio tapi dengan limitasi hanya 15 orang dan protokol tertentu.
Itulah cuplikan wawancara kapanlagi.com dengan Pambo Priyojati, salah satu seniman di Papermoon Puppet Theatre. Terbukti, pandemi sudah semestinya tak dijadikan alasan untuk berhenti berkarya. Justru, proses adaptasi yang dilalui bisa jadi jalan baru untuk tetap berkreasi. Semoga menginspirasi!
(kpl/psp)