KapanLagi Book Club Kupas "Lagi Probation" Bersama Samuel Ray, Segera Diadaptasi Jadi Film

Kapanlagi.com - KapanLagi Book Club kembali menggelar diskusi buku pada Jumat (30/10/2026). Bertempat di gedung KapanLagi Youniverse (KLY), kegiatan kali ini menghadirkan Samuel Ray selaku penulis buku Lagi Probation.

Melalui sejumlah sesi interaktif, peserta diajak merefleksikan perjalanan hidup, memahami kembali tujuan bekerja, hingga mengenang pengalaman yang telah dilalui. Rangkaian acara juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyaksikan trailer film "Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih?" yang diadaptasi dari buku karya Samuel.

Buku Lagi Probation menyajikan berbagai tips seputar dunia kerja, mulai dari mencari pekerjaan, menyusun CV, hingga melakukan negosiasi gaji. Setelah hadir dalam format buku, karya tersebut kini dikembangkan menjadi film dengan judul yang sama, "Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih?".

KapanLagi Book Club: Ketika Buku Jadi Medium Penghubung Generasi Muda

Advertisement

1. Berawal dari Keresahan soal HRD Galak, Samuel Ray Tulis Buku Lagi Probation

Samuel Ray ungkap perjalanan buku Lagi Probation hingga diadaptasi menjadi sebuah film (KapanLagi.com/Fatimah Azzahra)

Dalam diskusi bersama KapanLagi Book Club, Samuel Ray mengungkapkan bahwa buku pertamanya telah hadir sejak 2020. Perjalanan tersebut bermula setahun sebelumnya, ketika ia aktif membuka sesi tanya jawab melalui Instagram Story.

Format tanya jawab itu sebenarnya juga digunakan oleh banyak kreator konten. Namun, Samuel memilih membahas persoalan pekerjaan dan dunia HRD karena profesinya sebagai praktisi di bidang tersebut. Dari berbagai pertanyaan yang masuk, ia menemukan banyak pengikut yang berbagi cerita mengenai pengalaman bekerja, termasuk menghadapi atasan dan HRD yang dianggap galak.

"Kebetulan aku nulis tentang HRD, karena aku memang praktisinya dari kerjaan tuh HRD. Dari tulisan-tulisan itu, seru tuh banyak yang curhat, banyak yang cerita tentang bosnya. Terus merasa HRD di kantornya galak, jadi topik-topiknya banyak," jelas Samuel.

KapanLagi Book Club Bareng Naela Ali, Curhat Lewat Gambar Jadi Pengalaman yang Bikin Hati Hangat

Berbagai tulisan dan cerita tersebut kemudian membuka kesempatan bagi Samuel untuk menerbitkan buku. Ia mengaku belum mengetahui cara menulis buku ketika pertama kali mendapatkan tawaran dari Gramedia.

"Dan waktu itu akhirnya dikontak sama Gramedia. Gramedia ngajak untuk nulis, aku juga jujur gak tau caranya ya, karena itu awal-awal diajak nulis untuk bikin buku," jelasnya.

Samuel menjelaskan bahwa Lagi Probation juga lahir dari keresahannya terhadap anggapan bahwa HRD merupakan sosok yang perlu ditakuti oleh para pencari kerja. Sebagai praktisi HR, ia kerap menemukan cerita di media sosial tentang kandidat yang merasa takut ketika harus berhadapan dengan HRD.

"Saya tuh resah banget kalau ada orang bilang saya takut sama HRD," ujar Samuel saat sesi diskusi KapanLagi Book Club.

2. Lagi Probation Diadaptasi Jadi Film, Bawa Pesan Optimisme

Peserta berkesempatan mendapat tanda tangan penulis buku Lagi Probation hingga foto bersama (KapanLagi.com/Fatimah Azzahra)

Setelah diterbitkan dalam bentuk buku, Lagi Probation kini dikembangkan menjadi film berjudul "Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih?". Film tersebut dijadwalkan tayang pada 12 November 2026 mendatang.

Samuel mengungkapkan rasa syukur dan bahagia karena karyanya bisa hadir dalam format film. Ia menjelaskan bahwa produser tertarik mengadaptasi buku tersebut karena nilai dan pesan yang terkandung di dalamnya.

"Produsernya kemarin bilang, yang kita lihat adalah valienya, value dari bukunya. Ini punya pesan yang hopefull, bahwa kalau kita gagal, coba lagi, coba lagi, karena hidup itu probation yang berulang terus," ujar Samuel Ray.

KapanLagi Book Club Bareng Naela Ali, Curhat Lewat Gambar Jadi Pengalaman yang Bikin Hati Hangat

Melalui proses diskusi bersama produser dan sutradara, film ini dikembangkan dengan membawa pesan tentang harapan dan optimisme dalam menghadapi kehidupan. Samuel menyebut pesan tersebut menjadi salah satu hal yang ingin dipertahankan dalam adaptasi film.

"Kita mau film yang ada pesan, membawa pesan harapan, optimis, bahwa kita nggak boleh cengeng. Kehidupan memang susah, tapi di tempat kehidupan susah, pasti bangkit lagi, bangkit lagi. Saya rasa itu pesan yang bagus banget, dan mereka kuat banget dengan itu," kata Samuel.

Samuel juga menceritakan bahwa buku Lagi Probation ditulis berdasarkan pemikirannya ketika berusia sekitar 25 tahun. Kala itu, ia menggambarkan dirinya sebagai sosok idealis dengan ambisi besar untuk meraih kesuksesan dalam dunia kerja. Karakter tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan tokoh utama dalam film.

"Jadi ini seseorang yang di usia 25 tahun, penuh dengan semangat, dan kayaknya apa pun dia akan hajar, untuk mencapai goal," ungkap Samuel.

Meski mengambil inspirasi dari buku, versi film menghadirkan pengembangan cerita dengan latar trauma dan konflik yang lebih beragam. Salah satunya melalui kehadiran karakter Lutfi yang digambarkan sebagai sosok pencari perhatian atasan. Menurut Samuel, penambahan karakter dan konflik tersebut membuat cerita film memiliki perbedaan dari versi bukunya.

3. KapanLagi Book Club Ajak Peserta Refleksi Lewat Sesi Berbagi Cerita

Acara diskusi buku yang digelar oleh Book Club menghadirkan Samuel Ray, pebulis buku Lagi Probation (KapanLagi.com/Fatimah Azzahra)

Tak hanya membahas buku dan adaptasi film, KapanLagi Book Club juga menghadirkan sesi refleksi bertajuk "Gue Kerja Ngejar Apa?". Sesi ini mengajak peserta untuk melihat kembali tujuan mereka dalam bekerja dan hal-hal yang ingin dicapai dalam perjalanan hidup.

Dalam kegiatan tersebut, tim KapanLagi Book Club menyediakan kertas bagi peserta untuk menuangkan pemikiran masing-masing. Mereka mendapat kesempatan untuk menuliskan refleksi mengenai tujuan bekerja berdasarkan pengalaman dan perjalanan yang telah dilalui.

Rangkaian acara kemudian berlanjut dengan sesi "One Page One Memory". Pada sesi ini, peserta diminta menuliskan kenangan yang memiliki makna dalam perjalanan hidup mereka. Setelah selesai menulis, beberapa peserta mendapat kesempatan untuk membacakan hasil refleksinya di hadapan peserta lainnya.

KapanLagi Book Club: Ketika Buku Jadi Medium Penghubung Generasi Muda

Salah satu peserta, Nur Rahma, turut membagikan cerita melalui tulisan yang telah dibuatnya. Samuel Ray juga berinteraksi langsung dengan peserta yang hadir. Suasana diskusi semakin terasa personal ketika mereka saling mendengarkan cerita dan pengalaman yang dituangkan dalam tulisan masing-masing.

Menjelang akhir acara, peserta dan Samuel Ray mengabadikan momen melalui foto bersama. Mereka juga mendapat kesempatan untuk meminta tanda tangan Samuel pada buku Lagi Probation yang dibawa. Momen tersebut sekaligus menjadi penutup rangkaian kegiatan KapanLagi Book Club bersama Samuel Ray.

    (kpl/azr)

 

Topik Terkait