Kapanlagi.com - Apakah nama Wicahyono terdengar tak asing di telinga KLovers? Yup, ia adalah mantan petinju profesional dengan nama populer Dobrak Arter. Siapa sangka? Kini ia adalah juru parkir, padahal saat masih aktif menjadi petinju, ia pernah menjadi juara tinju internasional.
"Kerjaannya ya seperti ini. Saya jaga dua hari di sini, Selasa dan Rabu," tegas Dobrak Arter di lokasi jaga parkir di Jalan Gajah Mada Kota Malang, Rabu (9/3).
Dobrak Arter mengaku menjaga di dua lokasi parkir lain yakni di Jalan Ir Rais dan Jalan Majapahit dengan jadwal bergiliran. Selain juga terkadang diminta membantu menjaga proyek.
Advertisement
"Sebelumnya menjaga pembangunan stasiun Malang yang timur, kemudian Hotel Kalpataru dan sekarang jaga parkir," ungkapnya.
Pria bertubuh atletis dengan jaket dan topi hitam itu, sesekali berbincang dengan dua rekannya yang duduk di kursi kayu. Berjajar tiga kursi kecil, satu di antaranya dimanfaatkan sebagai meja tempat kopi dan rokok.
Sambil mengawasi sepeda motor yang datang dan pergi, Wicahyono duduk di trotoar menghadap kedua temannya. Mereka ngobrol santai, namun Wicahyono akan buru-buru meninggalkan perbincangan saat melihat sepeda motor datang atau hendak pergi.
Tahun 1993, Dobrak yang berdarah Ambon mulai bergabung di sasana Sawunggaling Boxing Camp Surabaya. Promotor Aseng Sugiarto yang kemudian mengantarkannya naik ring sebagai petinju profesional.
"Pernah di WBF (World Boxing Federation) Intercontinental tanding di Surabaya dan Pan Asia Pasifik, tapi lupa saya tahunnya," ungkap pria kelahiran Malang, 5 Juni 1974 itu.
Ia juga pernah meraih sabuk emas kelas ringan yunior 58,9 kilogram pada pertandingan tinju profesional Inra Super Fight 2010, Rabu (21/4/10) malam di GOR Hayam Wuruk, Surabaya.
Juru parkir menjadi sumber pendapatan penghidupan keluarganya. Sementara istrinya, Kusuma Dewi sudah sangat sibuk dengan urusan pekerjaan rumah tangga yang mengurus kedua anak.
"Makanya saya putar otak, putar tenaga bagaimana bisa punya pendapatan. Saya keliling yang bisa menghasilkan uang berapa pun itu jumlahnya. Yang jelas saya tidak tipu menipu," jelasnya.
"Pendapatan juru parkir tidak bisa diprediksi, sehari itu nggak lebih dari Rp80 ribu, bisa-bisa hanya bawa Rp40 Ribu," jelasnya.
"Saya pernah ngisi formulir akan diberi rumah dari Menpora, tiga kali tapi tidak cair. Saya disodori formulir, tapi tidak terbukti," ungkap Dobrak.
Kondisi Marvin, kata Dobrak sudah tidak bisa berjalan dan melihat, selain hidup sendirian. Keadaan itu yang menggugahnya bersama beberapa atlet tinju untuk menyisihkan rezeki untuk kehidupannya.
"Saya dengan kawan-kawan cari lahan parkir, saya jaga dan hasilnya sebagian untuk dia, untuk makannya setiap hari," ungkapnya.
Dobrak mengaku belum memiliki rumah pribadi yang layak untuk tempat tinggal keluarganya. Rumah yang ditinggalinya saat ini dikontrak dengan sistem pembayaran secara bulanan. Pendapatan sebagai juru parkir belum cukup untuk membeli rumah.
"Kurang beruntung jika dibandingkan prestasi yang pernah ditorehkan," tegasnya.
Eko mencontohkan mantan atlet tinju juara dunia tetapi saat ini terpaksa harus menjadi tukang pijat. Seorang petinju juga mengalami kebutaan atau tuna netra. Eko juga mengatakan padahal ini menjadi tuna netra juga karena bertinju.
(kpl/dar/dyn)