Kapanlagi.com - Habib Husein Ja'far Al Hadar atau Habib Jafar kerap menceritakan kenakalan masa kecilnya sebagai materi dakwah. Cerita itu salah satunya tentang pengalamannya mencuri rel kereta api yang dijual ke pengepul barang bekas.
"Itu (cerita kenalan) cerita masa kecil yang saya sampaikan untuk memberikan motivasi. Bahwa masa depan itu di tanggan kamu, bahwa kamu bisa menentukan masa depan kamu, kalau kamu mau. Apapun kondisimu saat ini. Karena dakwah saya kan ke 'Pemuda Tersesat' yang memang rata-rata nyolong rel dan lain sebagainya," ungkap Habib Ja'far tersenyum saat ditemui di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Malang, Sabtu (3/9).
Advertisement
Aksinya dilakukan secara diam-diam dan butuh waktu beberapa hari untuk berhasil membawa rel tersebut. Apalagi saat itu tidak sembarang pengepul mau menjadi penadah barang jenis rel kereta api.
Cerita-cerita kenakalan masa kecilnya itu kerap disampaikan dalam berbagai kesempatan ssat berdakwah. Ia juga menceritakannya saat menjadi bintang tamu di TonightShow.
"Saya ingin memotivasi mereka, bahwa kalian masih punya kesempatan kok dan mau mengajarkan orang juga untuk tidak ngejudge orang seburuk apapun, karena setiap kita juga orang buruk di masa lalu," sambungnya.
"Alhamdulillah kalau (cerita kenakalan) itu menjadi inspirasi, ya paling tidak memang tujuan utamanya menjadi inspirasi. Karena tidak mungkin saya sendiri bisa memberikan perubahan yang besar bagi umat, karena itu yang paling pas menjadi inspirasi untuk tumbuhnya dai-dai digital yang moderat," urainya.
Ia mengutip survey Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta yang menyebut lebih dari 63 persen pengguna internet belajar agama melalui internet. Sehingga dakwah di dunia digital menjadi keharusan dengan segala tantangannya.
"Kontennya bisa diputar berulang-ulang, bisa didengerin kapan saja, dimana saja, bisa dishare ke siapa saja. Dakwah digital itu bagi saya adalah dakwah yang utama," tegasnya.
"Maka kembali pada pribadi dalam kedaulatan belajar. Kalau serius, mau belajar di media digital maka akan mendapat keilmuan yang serius. Bahkan menurut ulama, misalkan Habib Umar bin Hafid itu mengakui sanad pembelajaran yang berbasis digital. Tapi kalau tidak serius, mau di pesantren itu juga percuma," urainya.
"Semua orang itu (termasuk pesulap) punya medan dakwahnya sendiri yang penting dia harus berbasis kepada kopetensi yang itu sumbernya adalah keilmuan. Kalau memang sumbernya itu (keilmuan), okay, dakwah ngajak orang entrepreneur, dakwah mengkritik orang yang salah, yang penting itu tetap disampaikan dengan pendekatan yang positif," urainya.
"Saya nggak tahu motivasinya apa, tapi yang jelas kemudian itu membuat kita berbincang di media digital tentang perdukunan, termasuk saya bikin konten di youtube saya tentang perdukunan. Akhirnya menjadi perbincangan yang positif, perdebatan yang positif dan kita menjaga untuk menjadi hal-hal yang positif," pungkasnya.
Habib Ja'far menjadi pembicara dalam Sarasehan Pra Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiah Ke-48 di Dome UMM. Sarasehan mengambil tema Muhammadiyah Menyambut Indonesia Emas 2045.
(kpl/dar/dyn)