Belanda Geram Hingga Jubah Usang, Inilah Sepak Terjang Diponegoro

Rabu, 11 November 2015 06:48 Penulis: Lusi Vita
Belanda Geram Hingga Jubah Usang, Inilah Sepak Terjang Diponegoro
Sosok Pangeran Diponegoro dan ilustrasi 'Perang Jawa' yang terjadi pada tahun 1825 hingga 1830 di Mataram ©Asiapacific

Kapanlagi Plus - Setujukah kamu kalau zaman memang sudah berubah? Ya, kamu pasti bakal setuju dengan hal itu. Apalagi kini era teknologi yang sudah berkembang gila-gilaan ini semakin membuat waktu berjalan ekstra terburu-buru. Hingga tak terasa, bumi dan segala isinya sudah mengalami berbagai macam hal di masa lampau.

Berbicara soal sejarah, berbagai peristiwa yang pernah terjadi sebagian besar sudah tercatat rapi baik skala nasional dan internasional. Di mana, kamu sendiri sudah bisa menyimaknya di berbagai macam media. Entah itu sejak masa prasasti hingga era dunia maya.

Sebagai masyarakat yang terbentuk dari bagian sejarah itu sendiri. Tentu kamu tidak boleh lupa dengan berbagai macam peristiwa yang membawa kita ke era masa kini. Sebab tanpa jasa orang-orang yang terdahulu, bisa jadi kenikmatan zaman yang kamu rasakan sekarang tidak akan pernah eksis.

Sosok Pangeran Diponegoro separuh baya dan saat masih muda ©UGMSosok Pangeran Diponegoro separuh baya dan saat masih muda ©UGM

Menilik dari berbagai macam peristiwa, tentu kamu bakal ingat dengan tokoh pahlawan nasional yang terlahir hari ini. Bagaimana tidak ingat, pria yang terlahir pada tanggal 11 November 230 tahun silam ini membawa banyak perubahan pada tata pemerintahan di kawasan Pulau Jawa terutama Mataram.

Menurut sejarahnya, pria yang diberi gelar Raden Mas Ontowiryo ini adalah putra dari selir Raja Mataram Hamengkubuwana III. Pria yang satu ini sempat menolak saat akan dijadikan Raja. Namun, ia lebih suka merakyat dan belajar mendalami keagamaan lho. Makanya, ia ini lebih suka tinggal di Tegalrejo.

Akan tetapi, perang dengan Belanda (VOC) tidak dapat dihindarkan lagi karena kesewenang-wenangan mereka. Belanda pun dibuat kocar-kacir sampai-sampai tak kurang dari 15 ribu orang tentara Belanda dan 12 Juta Gulden (mata uang saat itu) ikut melayang. Alhasil, Belanda pun sampai rela memasang harga untuk kepala Pangeran Diponegoro.

Ilustrasi pertempuran pasukan Kolonel Le Bron de Vexela dengan pasukan Pangeran Diponegoro di Gawok ©UGMIlustrasi pertempuran pasukan Kolonel Le Bron de Vexela dengan pasukan Pangeran Diponegoro di Gawok ©UGM

Singkatnya, Belanda yang licik itu pun berhasil menangkap Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830. Ia bersama para pejuang lain yang mendukungnya pun dijauhkan dari Pulau Jawa dan diasingkan ke Manado dan kemudian terakhir dipindahkan ke Benteng Rotterdam di Makassar pada tanggal 8 Januari 1855.

Perang dan perjuangan selama 5 tahun yakni sejak 1825 hingga 1830 ini tercatat sebagai salah satu pertempuran dahsyat yang pernah dihadapi Belanda. Selain itu, sekitar 200 ribu rakyat di negara kita waktu itupun ikut terenggut nyawanya. Begitu pun juga akhir hayat sang pejuang yang ikut wafat di usia 69 pada tanggal 8 Januari tahun 1855 itu.

Ilustrasi Diponegoro saat ditawan Belanda dengan cara yang licik ©UGMIlustrasi Diponegoro saat ditawan Belanda dengan cara yang licik ©UGM

Kini, bekas-bekas perjuangan Pangeran Diponegoro pun masih berdiri tegak dan dialihfungsikan sebagai museum yang sering dikunjungi oleh wisatawan. Contohnya saja seperti tempat bertemunya Pangeran Diponegoro dan Jenderal de Kock itu sekarang merupakan kompleks Eks Karesidenan Kedu yang difungsikan sebagai Kantor Bakorwil II wilayah Kedu dan Surakarta. Ruangan tempat mereka dulu berunding pun menjadi sebuah Museum Pengabadian Diponegoro, seperti dilansir melalui Brilio.

Inilah jubah usang dan kusam yang menemani perjuangan Pangeran Diponegoro ©BrilioInilah jubah usang dan kusam yang menemani perjuangan Pangeran Diponegoro ©Brilio

Di dalam bangunan yang cukup besar itu, ternyata ada simbol bekas pakaian Diponegoro yang berupa jubah kebesaran pun tampak tersimpan rapi di dalam lemari kaca. Jubah dengan warna cokelat dan agak kusam itu pun menjadi bagian dari sejarah dan saksi bisu perlawanan Diponegoro terhadap Belanda.

Menurut Gabriel Lorok, museum pengabadian Diponegoro yang masih asli bangunan Belanda ini tetap dirawat dan dijaga dengan baik beserta isi-isinya. Keberadaan museum dan jubah Pangeran Diponegoro yang terkenal selalu dipakainya saat perang itu memang tak bisa lepas dari catatan sejarah perang gerilya dari Gua Selarong hingga Kedu.

Penampakan bangunan Belanda, tempat Pangeran Diponegoro disergap Belanda dengan cara yang licik dahulu ©BrilioPenampakan bangunan Belanda, tempat Pangeran Diponegoro disergap Belanda dengan cara yang licik dahulu ©Brilio

Uniknya, jubah berusia ratusan tahun itu masih terlihat utuh dan tidak compang-camping sama sekali. Meski penampakan kainnya juga tampak kusam dan usang. Kira-kira ini karena bahannya atau memang pernah dipakai seorang pahlawan yang dikenal juga mendalami berbagai ilmu kebatinan itu ya? Menurutmu sendiri bagaimana?

(kpl/bri/vit)

Editor:

Lusi Vita



MORE STORIES




REKOMENDASI