Bikin Promo Startup yang Efektif, Ini Rahasia Blak-Blakan Founder Kitabisa.com

Kamis, 09 Agustus 2018 15:01 Penulis: Zaki Mursidan Baldan
Bikin Promo Startup yang Efektif, Ini Rahasia Blak-Blakan Founder Kitabisa.com
(c) Syakur Usman

Kapanlagi Plus - Menghadirkan aplikasi yang memiliki dampak sosial bagi masyarakat luas ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan, lho. Menguasai disiplin ilmu pemrograman saja belum cukup untuk menciptakan startup yang dapat mengubah taraf hidup banyak orang. Ada beberapa poin yang kerap disepelekan, padahal sebenarnya cukup penting saat merintis startup. Kebanyakan developer lebih berfokus pada pengembangan produk, tanpa melihat bagaimana ‘hasil' pekerjaan mereka saat diterjunkan di masyarakat.

Selain itu, kesalahan lain yang juga sering dilakukan oleh para developer setelah startup jadi adalah melakukan promosi gencar-gencaran. Andai disadari, hal seperti ini sebenarnya kurang efektif. Yang lebih diperlukan oleh konsumen dan calon konsumen adalah edukasi pengenalan produk. Aspek ini punya efek positif. Sebagai perintis startup, kamu jadi tahu apa kekurangan yang mesti dibenahi dari User Experience yang didapat lewat edukasi tersebut.

(c) Stella Maris(c) Stella Maris

Rahasia ini terkuak di sela-sela talkshow interaktif Talent Scouting The NextDev 2018 di Hotel Ibiza Style Nagoya, Batam. Sebuah pertanyaan meluncur dari Co-Founder Alamaak, Robby Kurniawan tentang waktu yang dibutuhkan untuk mengedukasi orang lain kepada M. Alfatih Timur, Co-Founder dan CEO Kitabisa.com.

"Mengedukasi itu memang enggak mudah. Saya pernah salah sangka. Pertama saya bikin produk, kedua saya ngomong di depan publik. Nah, ngomong di depan publik ini yang saya maksud adalah edukasi," jelas cowok yang akrab disapa Timmy ini.

Berdasarkan pengalaman Timmy sendiri, promo jor-joran justru merupakan langkah yang kurang efektif bagi sebuah early stage startup. Dirinya lebih menyarankan agar proses pengenalan diisi dengan edukasi berbasis produk.

"Paling benar adalah mengedukasi lewat produk untuk mencari product market. Produk dipakai atau tidak oleh pengguna, kalau tidak dipakai berarti ada sesuatu di produk yang enggak menyelesaikan masalah," kata cowok kelahiran 27 Desember 1991 tersebut.

(c) Stella Maris(c) Stella Maris

Diharapkan dengan edukasi lewat produk seperti ini, sebuah startup dapat memetakan besaran attraction dan intention masyarakat. Bila keduanya punya nilai tinggi, bisa dianggap bahwa proses edukasi produk kepada publik telah sukses dilakukan.

Langkah edukasi berbasis produk seperti ini diyakini Timmy bisa membuat masyarakat lebih memahami tentang sebuah startup. Lambat laun, apabila telah benar-benar merasakan dampaknya, mereka akan menyebarkan sendiri kepada orang lain.

"Kalau orang sudah paham dengan senang hati mereka akan me-revert dan menjelaskan ke teman-temannya. Ini momen dari mulut ke mulut. Nah, itu artinya product market," ujarnya.

Ilmu bermanfaat seperti yang dibagikan oleh Timmy ini menjadi salah satu highlight Talent Scouting platform early stage startup terbaik, The NextDev 2018 di Batam. Tahun ini, kompetisi tersebut mengusung tema besar “Tanpa NextDev, Indonesia Kehilangan Platform Early Stage Startup” dan periode submission-nya bisa dilakukan di www.thenextdev.id.

Jangan sampai ketinggalan Talent Scouting-nya yang akan dihelat di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Samarinda (Agustus), Yogyakarta (September), dan puncaknya di Jakarta (Oktober). Tunggu apalagi? Daftarkan diri sekarang juga, yuk!

(kpl/zki)



MORE STORIES




REKOMENDASI