Cara Sungkem Lebaran yang Baik Beserta Hukumnya dalam Ajaran Islam, Apakah Jadi Kewajiban?

Penulis: Ricka Milla Suatin

Diterbitkan:

Cara Sungkem Lebaran yang Baik Beserta Hukumnya dalam Ajaran Islam, Apakah Jadi Kewajiban?
Ilustrasi sungkem (sumber: freepik via Liputan6.com)
Kapanlagi.com -

Lebaran adalah momen yang sangat berarti bagi umat Islam, terutama untuk mempererat silaturahmi dan saling memaafkan. Salah satu tradisi yang masih tetap hidup, khususnya di masyarakat Jawa, adalah sungkeman. Prosesi ini melibatkan sikap hormat dari yang lebih muda kepada yang lebih tua, dengan cara bersimpuh, mencium tangan, dan mengucapkan permohonan maaf.

Sungkeman telah berintegrasi dengan nilai-nilai Islam, di mana permintaan maaf dan penghormatan kepada orang tua merupakan ajaran penting dalam agama ini. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia.

Namun, sering muncul pertanyaan mengenai hukumnya dalam Islam. Apakah sungkeman merupakan tradisi yang dianjurkan? Bagaimana Islam memandang sikap hormat yang dilakukan dengan cara bersimpuh? Artikel ini akan membahas tata cara sungkem Lebaran yang benar serta hukumnya dalam Islam, berdasarkan berbagai pendapat ulama, dirangkum oleh Kapanlagi.com berikut ini.

1. Makna dan Sejarah Sungkeman dalam Tradisi Lebaran

Sungkeman merupakan tradisi yang berasal dari budaya Jawa, yang berarti bersujud atau memberikan penghormatan kepada orang yang lebih tua. Dipercaya bahwa tradisi ini sudah ada sejak masa pemerintahan KGPAA Sri Mangkunegara I di tanah Jawa dan berkembang luas menjadi bagian dari tradisi Lebaran di Indonesia.

Umumnya, sungkem dilakukan sebagai bentuk penghormatan dari anak kepada orang tua, cucu kepada kakek-nenek, dan dari yang lebih muda kepada yang lebih tua. Selain sebagai wujud bakti, sungkem juga menjadi momen untuk meminta restu dan doa dari orang tua agar kehidupan di masa depan menjadi lebih baik.

Dalam Islam, penghormatan kepada orang tua sangat dianjurkan. Bahkan, dalam hadis Nabi, memuliakan orang tua dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam yang harus dijaga. Oleh karena itu, meskipun sungkem adalah tradisi lokal, maknanya selaras dengan ajaran Islam yang menekankan penghormatan terhadap sesama.

(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)

2. Tata Cara Sungkem Lebaran yang Benar

Agar prosesi sungkem dilakukan dengan baik dan sesuai adab, berikut adalah beberapa tata cara yang perlu diperhatikan:

  1. Posisi Duduk Orang Tua
    Orang yang lebih tua, seperti orang tua atau kakek-nenek, sebaiknya duduk di tempat yang lebih tinggi, seperti di kursi atau tempat duduk khusus. Posisi ini melambangkan penghormatan dan menunjukkan kedudukan mereka yang lebih mulia dalam keluarga.

  2. Posisi Tubuh Orang yang Lebih Muda
    Orang yang lebih muda berjongkok atau bersimpuh di hadapan orang tua dengan kepala menunduk. Posisi ini menunjukkan sikap rendah hati dan ketulusan dalam meminta maaf.

  3. Mengucapkan Permohonan Maaf
    Sampaikan permohonan maaf dengan kalimat yang tulus, seperti:
    "Mohon maaf atas segala kesalahan yang telah saya perbuat, baik yang disengaja maupun tidak disengaja." Bisa juga disertai dengan doa untuk kesehatan dan keberkahan orang tua.

  4. Mencium Tangan sebagai Tanda Hormat
    Setelah mengucapkan permohonan maaf, cium tangan orang tua sebagai bentuk penghormatan. Jika tidak memungkinkan, cukup menempelkan dahi atau pipi ke tangan mereka sebagai simbol kasih sayang.

  5. Mendoakan Orang Tua
    Setelah sungkem, biasanya orang tua akan memberikan doa dan nasihat. Dengarkan dengan baik dan ucapkan "amin" sebagai bentuk penghormatan terhadap doa mereka.

Dengan menjalankan tata cara ini, sungkem bukan hanya sekadar formalitas, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan keluarga dan memperkuat nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

3. Hukum Sungkeman dalam Islam

Dalam Islam, segala bentuk penghormatan kepada orang tua dan orang yang lebih tua sangat dianjurkan. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar sungkem tetap sesuai dengan syariat Islam.

  1. Tidak Menyerupai Ibadah kepada Allah
    Islam melarang penghormatan yang menyerupai ibadah kepada Allah, seperti sujud dan ruku’. Oleh karena itu, posisi bersimpuh dalam sungkem tidak boleh menyerupai gerakan sujud dalam sholat.

  2. Dibolehkan Selama Bukan Pengagungan yang Berlebihan
    Imam al-Nawawi dalam Raudlah al-Thalibin menyatakan bahwa mencium tangan seseorang karena keilmuannya, kezuhudannya, atau usianya yang lebih tua tidak makruh dan diperbolehkan dalam Islam. Hal ini menunjukkan bahwa sungkem sebagai bentuk penghormatan masih dalam batas yang diperbolehkan, selama tidak berlebihan.

  3. Melestarikan Tradisi selama Tidak Bertentangan dengan Syariat
    Sayyidina Ali pernah menyatakan bahwa mengikuti tradisi yang tidak bertentangan dengan Islam merupakan bentuk akhlak yang baik. Dalam Islam, meninggalkan tradisi yang tidak bertentangan dengan syariat dianggap sebagai tindakan yang tidak terpuji. Berdasarkan pendapat para ulama, sungkem diperbolehkan dalam Islam selama dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan bukan sebagai pengagungan yang menyerupai ibadah kepada Allah.

Menurut Imam al-Nawawi, hukum sungkem dalam Islam adalah sah dan tidak bertentangan dengan syariat, karena ini adalah bentuk penghormatan dari yang muda kepada yang tua. "Tidak makruh mencium tangan karena kezuhudan, keilmuan, dan faktor usia yang lebih tua." (al-Imam al-Nawawi, Raudlah al-Thalibin, juz 10, halaman 233), mengutip NU Online.

4. Hikmah dan Manfaat Sungkeman Lebaran

Sungkeman bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga memiliki banyak hikmah dan manfaat, baik dari segi sosial maupun spiritual.

  1. Mempererat Hubungan Keluarga
    Sungkeman menjadi momen untuk mempererat hubungan antara anak dan orang tua, serta antar anggota keluarga lainnya. Dengan adanya sungkem, suasana Lebaran menjadi lebih hangat dan penuh kasih sayang.

  2. Melatih Sikap Rendah Hati
    Dengan bersimpuh dan meminta maaf, seseorang belajar untuk merendahkan hati dan mengakui kesalahan. Ini sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya akhlak yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.

  3. Meningkatkan Keberkahan dalam Hidup
    Dalam Islam, doa orang tua sangat penting dan diyakini mustajab. Melalui sungkem, seseorang mendapatkan kesempatan untuk menerima doa dan restu dari orang tua, yang dapat membawa keberkahan dalam hidup.

Dengan berbagai manfaat ini, sungkem menjadi tradisi yang tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga sejalan dengan ajaran Islam.

5. Sungkeman dalam Islam: Tradisi atau Ibadah?

Banyak yang bertanya apakah sungkeman termasuk ibadah atau hanya sekadar tradisi. Berdasarkan pandangan ulama, sungkeman lebih dipandang sebagai tradisi yang baik, bukan ibadah dengan aturan khusus dalam Islam.

  1. Sungkeman Bukan Ibadah Wajib
    Tidak ada dalil dalam Islam yang mewajibkan umat Muslim untuk melakukan sungkem saat Lebaran. Sungkeman lebih merupakan bentuk adat dan budaya yang diwariskan turun-temurun.

  2. Sungkeman sebagai Bentuk Etika dalam Islam
    Nabi Muhammad SAW mengajarkan pentingnya berbudi pekerti yang baik kepada sesama. Tradisi seperti sungkem dapat menjadi bagian dari akhlak mulia jika dilakukan dengan niat yang baik.

  3. Membantu Menjaga Warisan Budaya yang Positif
    Selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, menjaga tradisi yang baik dianjurkan. Sungkeman bisa menjadi salah satu cara untuk mempertahankan budaya penghormatan kepada orang tua.

6. FAQ

1. Apakah sungkem saat Lebaran wajib dalam Islam?

Tidak, sungkem bukan ibadah wajib dalam Islam, tetapi merupakan tradisi yang dianjurkan sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua.

2. Bagaimana cara sungkem yang benar saat Lebaran?

Sungkeman dilakukan dengan bersimpuh di hadapan orang tua, mencium tangan, dan mengucapkan permohonan maaf dengan tulus.

3. Apakah Islam melarang sungkeman?

Tidak, Islam membolehkan sungkem selama tidak menyerupai sujud dalam ibadah dan dilakukan sebagai bentuk penghormatan, bukan pengagungan.

4. Apakah mencium tangan orang tua saat sungkem diperbolehkan dalam Islam?

Ya, menurut Imam al-Nawawi, mencium tangan karena keilmuan, usia, atau kezuhudan adalah hal yang diperbolehkan dalam Islam.

5. Mengapa sungkem penting dalam budaya Indonesia?

Sungkeman melestarikan nilai-nilai penghormatan, mempererat hubungan keluarga, dan menjadi sarana meminta restu serta doa dari orang tua.

(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)

(kpl/rmt)