48 Kepala Keluarga Miskin di Jabar Ternyata Lulusan S2 dan S3?

Sabtu, 22 Oktober 2016 09:18 Penulis: Arai Amelya
48 Kepala Keluarga Miskin di Jabar Ternyata Lulusan S2 dan S3?
Ilustrasi wisuda © foghornnews.com

Kapanlagi Plus - Pernahkah kamu mendengar ungkapan bahwa tak selamanya sekolah tinggi hingga mempunyai gelar akademis berjejer bisa menjamin kehidupanmu di masa depan? Mungkin pernah. Bahkan ada banyak sekali contoh mereka yang lulusan S1, kalah secara finansial dengan mereka yang cuma lulusan SMA. Meskipun tidak semuanya, tapi data yang satu ini mungkin bisa jadi pembelajaran bagimu.

Baru-baru ini, Agus Ismail selaku Kepala Pusdalisbang Jawa Barat mendapat laporan data Kepala Keluarga (KK) miskin yang cukup mengejutkan. Karena dalam laporan yang diperoleh dari TNP2K, terungkap jika 48 KK justru memiliki latar belakang pendidikan tinggi hingga jenjang S2 dan S3. Wew, apakah itu benar?

"Data yang kami terima dari TNP2K ini didapat dari sekitar empat juta KK miskin. Dan rupanya 48 di antaranya adalah mereka yang merupakan lulusan S2 dan S3. Kita bukan meragukan, tapi kita ingin memverifikasi dan memvalidasi ke rumah tangga tersebut, apakah benar atau tidak," jelas Agus.

Salah satu contoh kehidupan keluarga miskin di bawah kolong tol © Merdeka.com/Muhammad Luthfi RahmanSalah satu contoh kehidupan keluarga miskin di bawah kolong tol © Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Agus menjelaskan bahwa data KK miskin ini didapat pada Juni 2016 dan menargetkan jika proses cek ulang harus kelar pada Desember 2016. Bukan tanpa alasan jika pihaknya mengebut proses validasi, karena rupanya data KK miskin ini untuk bahan dasar pengetnasan kemiskinan tahun 2017 di Jawa Barat, seperti dilansir Merdeka.

Disinggung mengenai posisi para KK miskin berlatar belakang universitas ini, Agus belum bisa memastikan karena temuannya tersebar di Jawa Barat dan masih bersifat rahasia. Tak hanya Pusdalisbang, Wakil Gubernur Jabar yakni aktor Deddy Mizwar juga mendesar agar verifikasi ulang data segera dilakukan supaya anggaran yang dikeluarkan bisa tepat sasaran.

Nah kalau menurutmu, apakah memang data ini benar? Ataukah ternyata benar pendidikan tinggi tidak jadi patokan hidup seseorang bisa makmur di masa depan?

(mdk/aia)

Editor:

Arai Amelya



MORE STORIES




REKOMENDASI