Devanosa: Bukan Berarti Orang Yang Hobi Jalan-Jalan Itu Kesepian

Arai Amelya | Jum'at, 15 Januari 2016 11:18
Devanosa: Bukan Berarti Orang Yang Hobi Jalan-Jalan Itu Kesepian
Devanosa © Instagram @devanosa

Kapanlagi.com - Usianya baru akan menginjak 27 tahun pada 2016 ini. Namun Devanosa sudah berhasil menjejakkan kaki di 29 provinsi yang ada di Indonesia selama 14 bulan. Tentu dengan biaya sendiri, hijaber ini mampu mewujudkan mimpi yang mungkin hanya akan menjadi angan dalam benak mayoritas generasi muda Indonesia.

Melepaskan pekerjaanya di sebuah perusahaan finansial, perempuan kelahiran Sampit ini pun menjelajahi Nusantara secara backpacker. Dalam wawancaranya dengan KapanLagi.com® lewat email beberapa waktu lalu, Deva pun banyak bercerita mengenai kesulitannya selama menjalani solo backpacker. Lantas apakah keinginan Deva untuk tahun 2016 ini?

Deva saat berada di lembah Baliem, Papua © Instagram @devanosaDeva saat berada di lembah Baliem, Papua © Instagram @devanosa

"Ingin menikah lah pastinya! Menjelajah dunia ini bersama travelmate yang halal sepertinya sangat menyenangkan. Karena kalau udah nikah kan pasti maunya travelling sama suami. Sama anak juga kalau sudah punya hahaha," canda Deva.

Sebagai seorang traveller, Deva pun kerap kali mengunggah foto-foto tempat indah di Indonesia lewat Instagram. Disinggung mengenai banyaknya anak-anak muda yang merusak tempat wisata usai melihat informasi tempat wisata di media sosial, Deva memilih untuk berhati-hati dalam menulis caption/keterangan. "Aku lebih suka mengunggah foto indah dan terbaik di Instagram sambil nulis ulasan informatif serta edukatif supaya bijak terharap lingkungan."

Seperti ini pengalaman Deva saat di Bima, NTB © Instagram @devanosaSeperti ini pengalaman Deva saat di Bima, NTB © Instagram @devanosa

Menurut Deva, jika seseorang memulai langkah awal traveling dengan pemikiran yang positif, maka bakal mendapatkan perjalanan yang dimudahkan dan pengalaman yang luar biasa. Mematok impian menjadi Menteri Pariwisata Indonesia ketika dirinya sudah semakin dewasa nanti, Deva pun angkat bicara dengan anggapan bahwa seorang traveller itu adalah sosok yang kesepian.

"Nggak bisa dipukul rata untuk semua orang yang hobi travelling itu pasti kesepian dan hatinya terluka sih. Meski memang sebuah perjalanan bisa menjadi terapi untuk emosi yang tidak stabil. Perjalanan itu bahasa universal. Penelitian bahkan bilang kalau travelling bisa menghasilkan penemuan yang bermanfaat. Jadi perjalanan itu tak hanya menyembuhkan luka atau pelipur sepi," tutup Deva yang diketahui kini tengah berada di Kwatisore, Papua Barat itu. (kpl/aia)




PLUS TERKAIT

LATEST UPDATE




REKOMENDASI