Kisah Rakhmat, Meski Gagap Sukses Raih IPK 3,93 di Qatar

Rabu, 13 Mei 2015 16:18 Penulis: Arai Amelya
Kisah Rakhmat, Meski Gagap Sukses Raih IPK 3,93 di Qatar
┬ęBrilio

Kapanlagi Plus - Pernahkah kamu mendengar sebuah ungkapan bahwa jika ada seseorang yang lahir dengan kondisi tak sempurna, dia pasti punya kelebihan yang tak dimiliki orang lain dan membuatnya sempurna. Hal itulah yang sepertinya dialami oleh Muhammad Zulfikar Rakhmat, seorang mahasiswa Indonesia yang meraih beasiswa penuh di Universitas Qatar.

Bayangkan saja, pria kelahiran Pati yang masih berusia 23 tahun itu sukses lulus dengan cumlaude dengan IPK 3,93 pada Januari 2014 lalu. Hebatnya, hal itu diraih Rakhmat dengan segala kekurangan dalam dirinya. Ya, Rakhmat terlahir dengan didiagnosa gangguan motorik pada kedua tangannya. Hal itu membuat kedua tangan Rakhmat selalu bergetar sehingga sulit melakukan aktivitas dengan mudah.

Inilah sosok Rakhmat yang tak pernah menyerah ©BrilioInilah sosok Rakhmat yang tak pernah menyerah ©Brilio

Sejak kecil Rakhmat cukup sulit menulis dan memegang benda sehingga membuatnya terbata-bata atau gagap saat berbicara. Namun ketidaksempurnaan itu tak membuat Rakhmat ragu akan masa depannya. Rakhmat beruntung punya orangtua yang selalu memberikan semangat untuknya. Bukannya masuk ke SLB, orangtua memasukkan Rakhmat ke sekolah normal sehingga membuatnya mengikuti serangkaian tes khusus untuk membuktikan jika dia mampu secara akademis bersaing dengan teman-teman normal lainnya.

Menjalani SD dan SMP biasa-biasa saja, Rakhmat remaja mengikuti sang ayah yang seorang dokter dan berpindah ke Qatar tahun 2007 lalu. Di sana, Rahmat diterima di Cambridge School of Doha dan meraih International General Certificate of Secondary Education alias ijazah SMA, seperti dilansir Brilio.

Proses wisuda Rakhmat di Universitas Qatar ©BrilioProses wisuda Rakhmat di Universitas Qatar ©Brilio

Semenjak itu Rakhmat jadi haus pendidikan. Dia langsung diterima dengan beasiswa penuh di Universitas Qatar dan mengambil jurusan Hubungan Internasional. Di tengah kekurangan fisiknya, Rahmat mampu lulus S1 dalam waktu 3,5 tahun dengan skripsi Politik Luar Negeri China Terhadap Konflik Israel-Palestina. Skripsi dengan judul berat itu membuat Rakhmat meraih IPK cumlaude, 3,93.

"Untuk pendidikan saya nggak hanya ingin berhenti sampai sini saja. Saya ingin nantinya mencari beasiswa S3 di Amerika," papar Rakhmat. Jadi kamu yang lebih sempurna daripada Rakhmat, jangan pernah menyia-nyiakan waktumu untuk kuliah dan mencari ilmu setinggi mungkin ya.

(kpl/aia)

Editor:

Arai Amelya



MORE STORIES




REKOMENDASI