Mahmud Junianto, Sosok Heroik Penemu Jenazah Pertama QZ8501

Jum'at, 09 Januari 2015 16:10 Penulis: Arai Amelya
Mahmud Junianto, Sosok Heroik Penemu Jenazah Pertama QZ8501
┬ęChannel News Asia

Kapanlagi Plus - Selasa, 30 Desember lalu mungkin adalah hari penuh harapan bagi keluarga korban pesawat AirAsia QZ8501. Pada hari itu, pesawat rute Surabaya-Singapura yang hilang kontak pada Minggu, 28 Desember 2014, sudah dipastikan bagaimana nasib mereka.

Saat itu, publik yang selama tiga hari bertanya-tanya nasib QZ8501. Tepat hari Selasa (30/12), tim BASARNAS menemukan puing pesawat QZ8501 di perairan Pangkalanbun dan Jawa serta beberapa jenazah penumpang. Di tengah histeris keluarga korban, apakah ada yang mengingat sosok Mahmud Junianto?

Serda Akhyar - Serda Mahmud Junianto ©Xabryna Kek/Channel News AsiaSerda Akhyar - Serda Mahmud Junianto ©Xabryna Kek/Channel News Asia

Serda Mahmud adalah anggota BASARNAS yang berhasil mengambil jenazah pertama korban QZ8501 di laut Jawa. Saat itu Mahmud dan timnya tengah patroli di atas laut dengan sebuah helikopter. Tiga hari pencarian melelahkan, Mahmud melihat sebuah benda yang diduga serpihan QZ8501 terombang-ambing di permukaan. Diapun turun ke laut untuk mengambilnya, seperti dilansir Channel News Asia.

Dengan berani, Mahmud turun dari ketinggian 25 meter menggunakan seutas tali dan melayang di atas gelombang laut. Namun saat berada di atas permukaan, apa yang dikira Mahmud adalah serpihan QZ8501 itu rupanya jenazah seorang perempuan.

"Reaksi pertama saya adalah meraih tubuh itu secepat mungkin. Mungkin saja dia masih hidup. Tetapi setiap kali saya mencoba meraihnya, ombak laut menghempaskannya," beber Mahmud. Ada 20 menit lamanya Mahmud berada di atas permukaan laut dengan ombak ganas kala itu. Bahkan rasa menolong yang besar membuat Mahmud nekat terjun ke laut dan berenang di tengah ombak setinggi 4 meter menuju tubuh kaku itu tanpa mempedulikan keselamatannya.

Khawatir, rekan-rekan Mahmud pun memintanya kembali ke atas helikopter dan tubuh tersebut akhirnya dievakuasi oleh tim BASARNAS yang ada di kapal Indonesia. Saat dievakuasi, rupanya tubuh kaku itu sudah tak bernyawa. Meskipun begitu, Mahmud masih menyesal. "Saya sedih karena gagal membawanya ke daratan. Saya sudah mencoba sebisa mungkin," Dua jempol untukmu Serda Mahmud dan BASARNAS.

(cha/aia)

Editor:

Arai Amelya



MORE STORIES




REKOMENDASI