Guru Bimbingan Konseling SMP di Malang Minta 18 Murid Onani

Sabtu, 07 Desember 2019 20:30 Penulis: Rahmi Safitri
Guru Bimbingan Konseling SMP di Malang Minta 18 Murid Onani
(cr: KapanLagi.com/Darmadi Sasongko)


Kapanlagi Plus - Chusnul Huda (28) seorang guru bimbingan konseling (BK) sekaligus guru mata pelajaran PPKN di Kabupaten Malang mencabuli 18 orang murid SMP yang diajarnya. Korban yang keseluruhan laki-laki diminta bertelanjang dan mengeluarkan sperma atau beronani di hadapan pelaku.

Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung mengatakan, pelaku melakukan aksi cabul kepada korbannya sebanyak 18 orang anak. Aksi cabul dilakukan dalam rentang Agustus 2017 sampai Oktober 2019 atau sekitar 2 tahun dengan korban siswa kelas 1 sampai 3.

"Hasil pemeriksaan setidaknya ada 18 siswa yang menjadi korban, dan sudah dilakukan pemeriksaan ke beberapa anak, serta memenuhi unsur sebagai perbuatan cabul," kata Yade Setiawan Ujung di Mapolres Malang, Sabtu (7/12/2019).

1. Pelaku Sempat Menghilang

Aksi pelaku terungkap, saat salah satu korban berani bercerita kepada orangtuanya kalau mengalami perlakuan tidak senonoh oleh gurunya. Selanjutnya, orangtua tersebut mendatangi sekolah untuk melaporkan kejadian tersebut. Kepala sekolah selanjutnya berkoordinasi dengan mengumpulkan para murid guna menanyai satu-per satu anak, sebelum kemudian membuat laporan ke Polres Malang.

Pelaku sendiri sempat menghilang atau tidak pulang ke rumahnya sejak muncul laporan ke kepolisian pada Selasa (3/12). Namun petugas berhasil melakukan penangkapan pelaku di sebuah SPBU di Kabupaten Malang, Jumat (6/12) malam.

2. Modus Pelaku

Pelaku meminta siswanya bertelanjang dan mengukur alat vital dan kemudian diminta (maaf) mengeluarkan sperma atau beronani di hadapan Chusnul Huda. Aksi cabul pelaku dilakukan di ruang tamu ruangan Bimbingan Konseling (BK) sekolah tersebut.

"Modusnya saat jam istirahat membujuk korban, dikatakan kamu menghadap saya di ruang BK karena ada yang akan saya katakan. Setelah pulang sekolah, mereka janjian. Saat sekolah sepi melakukan perbuatan tersebut," jelasnya.

3. Tidak Disodomi

Aksi pelaku juga dilakukan di luar sekolah, dengan janji bertemu dengan korban. Sehingga memang tidak ada guru atau siswa lain yang melihatnya.

"Kejadiannya di atas pukul 14.00 WIB dengan posisi korden ditutup. Hasil pemeriksaan korban tidak disodomi," jelasnya.

Sementara jumlah korban diperkirakan bisa bertambah, karena pelaku menjadi guru di tempat tersebut dalam rentang waktu sekitar dua tahun.

(kpl/dar/pit)

Reporter:

Darmadi Sasongko



MORE STORIES




REKOMENDASI