Penuh Haru, Kisah Seorang Ayah Yang Ingin Anak Difabelnya Sekolah

Rabu, 12 Maret 2014 09:01 Penulis: Rizal Bagus Ramadhan
Penuh Haru, Kisah Seorang Ayah Yang Ingin Anak Difabelnya Sekolah
©dailymail


Kapanlagi Plus - Tak dipungkiri, pendidikan adalah salah satu hal yang mutlak harus didapatkan setiap manusia yang hidup di dunia ini. Dengan mengenyam pendidikan yang cukup, banyak hal baik yang tentu akan datang dan terjadi di masa depan.

Hal ini agaknya disadari betul oleh seorang ayah hebat asal Cina bernama Yu Xukang, yang mendedikasikan hidupnya demi pendidikan sang anak tercinta, Xiao Qiang. Demi menyekolahkan si kecil, Yu Xukang rela berjalan dan menggendong Xiao Qiang sejauh kilometer setiap hari.

Kisah selengkapnya berikut ini akan makin membuatmu terharu. Buktikan sendiri!

1. Berpisah Dengan Ibu

Malang memang nasib Xiao Qiang, yang harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya telah berpisah. Saat itu, Xiao Qiang masih berusia tiga tahun, yang artinya masih sangat membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Hal ini pun memaksa sang ayah, Yu Xukang, berjuang sendirian membesarkan sang buah hati tercinta. Pria berusia 40 tahun ini memang tak kenal lelah demi menunaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah yang baik.

2. Penyandang Disabilitas

Kemalangan yang dialami Xiao Qiang tak berhenti di situ saja. Selain harus berpisah dengan sang ibu di usia tiga tahun, Xiao Qiang terlahir menyandang disabilitas sejak lahir.

Hingga usianya yang kini telah 12 tahun, Xiao Qiang belum mampu berjalan. Lebih lanjut, tumbuh kembang Xiao Qiang berbeda dengan anak-anak normal biasanya.

"Anakku, dengan disabilitas yang ia sandang, tak mampu berjalan sendiri dan artinya ia tak bisa mengendarai sepeda. Apalagi, di usianya yang sudah 12 tahun, tinggi badannya masih 90 sentimeter," terang sang Ayah.

3. Menggendong Puluhan Kilometer

Letak kediaman ayah dan anak ini memang sangat jauh dari hiruk pikuk perkotaan, yakni di sebuah desa kecil di Cina bernama Yibin. Yu Xukang rela menggendong Xiao Qiang yang memang menyandang disabilitas sejak lahir, sejauh 28 kilometer setiap harinya ke tempat sang anak bersekolah.

Jalan terjal pun dilaluinya setiap hari. Di daerah ini memang tidak ditemui kendaraan umum semisal bus, lantaran letak desa yang berada di daerah perbukitan yang curam.

"Aku sudah menggendongnya seperti ini sejak September tahun lalu, setiap pagi aku bangun pukul 5 untuk menyiapkan bekal makan siangnya, kemudian aku mengantarkannya dan kembali ke sini untuk bekerja," tutur sang ayah seperti yang dikutip dari situs DailyMail.

"Aku kemudian kembali ke sekolah untuk menjemput putraku dan menggendongnya pulang," imbuhnya.

4. Ditolak di Berbagai Sekolah

Di desa Yibin sendiri memang terdapat beberapa sekolah reguler di mana anak-anak seusia Xiao Qiang dapat bersekolah. Namun malangnya, sekolah-sekolah ini menolak Xiao Qiang belajar di tempat mereka lantaran dianggap tak mampu secara fisik dan mental.

Itulah mengapa sang Ayah rela berjalan sejauh 28 kilometer setiap harinya demi membuat sang anak tercinta tetap bersekolah. Sebuah perjuangan yang tentu tak mudah.

5. Berprestasi di Kelas

Perjuangan sang ayah yang begitu keras nyatanya dibayar memuaskan oleh Xiao Qiang. Meskipun ia menyandang disabilitas, terbukti Xiao Qiang adalah salah satu murid paling berprestasi di kelas. Hal ini pun makin meyakinkan Yu Xukang akan kemampuan luar biasa sang buah hati.

"Aku sangat bangga dengan fakta bahwa ia mendapat ranking pertama di kelas dan aku yakin dia akan terus berprestasi. Mimpiku adalah nantinya ia terus bersekolah hingga ke perguruan tinggi," harap Yu Xukang.

6. Mendapat Perhatian Pemerintah

Pemerintah Cina pun lambat laun mendengar kisah mengharukan antara ayah dan anak ini. Antusias dan ekspos media begitu besar yang akhirnya terdengar juga oleh masyarakat luas.

Pemerintah Cina pun dikabarkan telah menyewa tempat tinggal yang layak di dekat sekolah Xiao Qiang agar sang ayah tak perlu lagi bersusah payah menggendongnya puluhan kilometer dari desa Yibin. Sungguh sebuah kisah yang sangat menginspirasi kita semua, bukan?

(kpl/zal)



MORE STORIES




REKOMENDASI