Meraih Mutiara Hidup Dari PKL Di Tempat Mengais Sampah Bripka (Pur) Seladi, Nicolas Jasen: Biar Dapat Pengalaman Hidup

Jum'at, 10 Januari 2020 14:35 Penulis: Canda Dian Permana
Meraih Mutiara Hidup Dari PKL Di Tempat Mengais Sampah Bripka (Pur) Seladi, Nicolas Jasen: Biar Dapat Pengalaman Hidup
© KapanLagi.com/Darmadi Sasongko


Kapanlagi Plus - Tangan Nicolas Jasen (16) meraih salah satu karung dari tumpukan yang menggunung. Tali pengikatnya berusaha dibuka, sementara rekan-rekannya menunggu sambil ngobrol ringan tentang tidurnya yang tak nyenyak semalam.

Karung itu berisi aneka sampah, dengan dominasi botol dan gelas bekas air mineral. Namun juga ditemukan sendok plastik dan kotak kardus nasi berikut sisa makanan dengan bau yang menyengat.

Saat itu, Jasen dan teman-temannya mendapat tugas memilah dan mengenali sampah di depannya. Jenis gelas dikumpulkan di tempat tersendiri begitupun untuk botol, sambil sisa air di dalamnya dikeluarkan. Sendok plastik dan kardus nasi kotak pun ditempatkan di karung tersendiri.

"Ini kegiatan sekolah kayak magang gitu. Biar dapat pengalaman hidup. Bagaimana hidup menjadi orang susah, biar tahu hidupnya orang susah," kata Jasen.

1. Kaget Dengan Jawaban Jansen

Saya sedikit kaget dengan jawaban Jansen yang antimainstream. Karena selama ini tugas magang selalu dilakukan di perusahaan besar, kantor pemerintahan bahkan di perusahaan bonafit di luar negeri. Tetapi mereka justru ditempatkan di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang kumuh dan becek karena musim hujan.

Di tempat itu, saya melihat lalat dengan jumlah tidak terhitung, bahkan ukurannya lebih besar, berterbangan mengerubungi sampah yang dihadapi Jasen dan kawan-kawan. Saat berjalan melalui sampah itu, lalat berterbangan dari tempatnya.

Ketika tangan dan kaki saya dikibaskan sejenak, lalat dengan ukuran lebih besar itu berterbangan, tetapi selalu saja lalat itu kembali ke tempatnya semula. Suara dengungnya pun tidak juga berhenti menganggu bagi yang tidak biasa.

2. Lakukan Kegiatan Serupa

Sementara di sisi tempat yang lain, saya melihat Chistopher Adhif Primova (16) juga bersama teman-temannya melakukan kegiatan serupa. Remaja asal Serang, Banten itu mengais botol dan gelas mineral bercampur tumpukan sampah di depannya.

Tangannya cekatan memasukkan botol-botol plastik yang ditemukan ke dalam sebuah karung. Lalat yang hinggap di tubuhnya pun sesaat diabaikan, walaupun sesekali diusir dengan kibasan tangan saat membuatnya risih.

"Belajar melihat pekerjaan dari prespektif berbeda. Kan orang-orang melihatnya sampah nggak ada duitnya, tapi dari sini saya belajar ternyata bisa dapat uang untuk kehidupan kita," jelas Adhif.

3. Belajar Hidup

Jasen dan Adhif adalah siswa sebuah sekolah SMA swasta favorit di Yogjakarta. Tentu dari sisi penampilan fisik, mereka memiliki kulit dan tubuh bersih dan terawat, termasuk dari pakaian yang dikenakannya.

Keduanya bersama 28 siswa yang lain sedang 'belajar hidup' di tempat pengelolaan sampah Lowokdoro, Kota Malang dengan didampingi Bripka (Pur) Seladi. Total 30 anak tersebut hidup dan tinggal selama lima hari di area tempat sampah dengan makan dan minum ala kadarnya.

Pak Seladi membaginya dalam tiga kelompok dengan tugas di tempat yang berbeda di sekitar TPS Lowokdoro, Kota Malang. Mereka mengikuti aktivitas Pak Seladi sepanjang hari dari pukul 07.00 WIB hingga 16.00 WIB, walaupun Pak Seladi sendiri sudah berkeliling sejak pukul 03.00 WIB dinihari.

4. Tak Malu Jadi Orang Pengumpul Sampah

Bripka (Pur) Seladi sendiri adalah sosok yang pernah populer sebagai polisi sederhana dan menjujung kejujuran. Namanya pada 2017 sempat viral, karena kegigihannya yang selalu menolak suap dan memilih hidup ada adanya.

Seladi tidak malu menjadi seorang pengumpul sampah sebagai sumber pendapatnya, dibandingkan menerima suap dari masyarakat. Atas dedikasinya itu, Seladi banyak menerima penghargaan, di antaranya dari Kapolri yang saat itu dijabat Jenderal Tito Karnavian.

Sejak tiga tahun lalu Pak Seladi sudah pensiun, tetapi aktivitasnya sebagai pengais sampah tetap ditekuni. Sesekali, Pak Seladi masih diundang menjadi nara sumber guna memberi motivasi sekaligus sharing pengelolaan sampah.

"Katanya pihak sekolah itu menemukan nama saya dari berita di internet, kemudian datang dua guru, sebelum kemudian menitipkan anak-anakanya ke sini," kisah Pak Seladi.

5. Pantang Tolak Tamu Apalagi Tuntut Ilmu

Bagi Pak Seladi pantang menolak tamu, apalagi untuk menuntut ilmu, asal mau menerima seadanya. Anak-anak itu ditempatkan dalam satu ruangan ala kadar yang digunakan untuk tidur. Alasnya disediakan tikar dan sebagian menggunakan kardus.

Penutupnya pun papan dan atapnya dari seng yang dikumpulkan dari buangan masyarakat. Tempat itu sudah dibuat beberapa tahun dan berada komplek area tempat sampah. Butuh sedikit permak agar kuat untuk tempat tidur bersama-sama.

"Sehari-hari yang saya lakukan, saya berikan. Tentang kesabaran berusaha, kejujuran, yang menguji mental. Karena sampah-sampah itu baunya luar biasa, apalagi tidak biasa. Mereka akhirnya juga tahu bahwa sampah itu bisa diuangkan, tidak dibuang begitu saja," jelas Pak Seladi.

Pak Seladi dengan kerendahan hatinya selalu bercerita tentang nilai kebaikan dalam hidup, selain menyampaikan pengetahuan teknis pemanfatan sampah. Kata-katanya sederhana, mudah dicerna, tetapi memang wujud dari kehidupanya sehari-hari.

Sunguh, saya menilai bukan tempat yang salah, Pak Seladi sebagai ladang belajar tentang kehidupan. Kosistensi Pak Seladi, saya mengibaratkan sebuah mutiara yang sangat berarti meski di antara tumpukan sampah. Tergantung masing-masing bisa menyerap ilmunya.

(kpl/dar/CDP)

Reporter:

Darmadi Sasongko



MORE STORIES




REKOMENDASI