Nasib Miris Atlet Disabilitas Yang Harus Santap Makanan Sisa

Selasa, 30 Agustus 2016 08:18 Penulis: Arai Amelya
Nasib Miris Atlet Disabilitas Yang Harus Santap Makanan Sisa
Atlet disabilitas Sumsel © Merdeka

Kapanlagi Plus - Perjuangan Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir di cabang badminton dalam Olimpiade Rio 2016 memang menuai decak kagum. Pasangan ganda campuran itu berhasil menyumbangkan satu-satunya medali emas untuk Indonesia. Tak heran jika semua lapisan masyarakat begitu mengelu-elukan pasangan yang kerap disapa Owi-Butet itu.

Mulai dari diarak saat tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta hingga Istana Negara untuk menemui Presiden Jokowi, Owi-Butet sampai dipuja dan dijuluki pahlawan olahraga. Pemerintah pun memberikan apresiasi besar dengan memberi bonus lima miliar rupiah per orang serta tunjakan Rp 20 juta per orang setiap bulan seumur hidup. Tak hanya itu, maskapai Air Asia bahkan sampai memberi tiket pesawat gratis untuk seluruh atlet peraih medali emas Olimpiade Rio 2016 asal Asia.

Owi-Butet di final Olimpiade Rio 2016 © ReutersOwi-Butet di final Olimpiade Rio 2016 © Reuters


Singkat kata, apa yang diraih Owi-Butet memang membuat banyak orang mendamba menjadi atlet karena betapa besarnya penghargaan pemerintah kepada mereka. Namun apakah semua atlet mendapat keistimewaan bak Owi-Butet? Jawabannya adalah tidak. Kisah miris justru dirasakan atlet disabilitas yang mengikuti PON Bandung 2016. Sama-sama menginap di gedung Wisma Atlet Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, atlet disabilitas justru mendapat perlakuan menyedihkan.

Salah satu atlet disabilitas cabang atletik yakni Agus bahkan jujur punya masalah dalam hal asupan makanan. "Sejak ikut Pelatda pada 14 Juli 2016 sudah bermasalah dan nggak cukup. Sering diajukan ke pemerintah  tapi belum juga disetujui, padahal kami utusan Sumsel. Agar jatah makanan kami cukup, kami terpaksa minta makanan sisa atlet PON lainnya. Anak-anak PON itu baik-baik, mereka tahu kondisi kami. Kalau ada makanan sisa, ditawari, ya kami ambil. Tapi kalau habis apa boleh buat, malu juga tiap hari minta terus. Kami tetap semangat, kalau tidak ya sudah bubar. Yang penting nanti bisa juara," jelas  jelas atlet berusia 25 tahun ini.

Seperti ini penampakan makanan atlet disabilitas Sumsel © MerdekaSeperti ini penampakan makanan atlet disabilitas Sumsel © Merdeka


Menurut pantauan Merdeka, meskipun atlet disabilitas dan atlet PON asal Sumsel menginap satu gedung di JSC, tempat makan mereka dipisahkan. Atlet PON bebas memilih makanan di meja prasmanan sementara atlet disabilitas hanya memakai kotak nasi plastik. Bukan hanya cara penyajian makan, atlet PON rupanya mendapat daftar menu makanan yang berbeda setiap hari saat sarapan-makan siang hingga makan malam. Menu makanan pun bervariasi mulai ayam goreng, ikan bumbu kuning, bakwan, telur rebus, snack hingga buah segar. Sementara itu atlet disabilitas harus makan nasi dengan lauk dua ekor ikan sepat, tempe, udang-udang kecil, tumis kubis dan sepotong semangka.

"Ayam juga pernah dikasih, tapi jarang. Jatah makan saja kurang, gimana mau ada suplemen untuk tubuh? Padahal suplemen penting biar latihan maksimal. Kita juga di sini pakai tabungan sendiri. Kemarin naik bus umum ongkosnya 900 ribu rupiah pp. Untung masih bisa tanding, itupun capek di jalan. Pergi pakai duit sendiri, dapat medali buat daerah, pulangnya nggak dapat apa-apa bahkan bonus nggak ada. Cobalah atlet disabilitas lebih diperhatikan lagi. Kami pengen disamakan dengan atlet umum atau PON itu. Kami juga berjuang bawa bendera Sumsel," curhat Heru Ramdani, atlet tolak peluru.

(mdk/aia)

Editor:

Arai Amelya



MORE STORIES




REKOMENDASI