Rebana Arif Riyadi Habis Terjual Saat Ramadan

Sabtu, 09 April 2022 13:07 Penulis: Dian Eka Ryanti
Rebana Arif Riyadi Habis Terjual Saat Ramadan
Arif Riyadi Usaha Rebana © KapanLagi.com/Darmadi Sasongko


Kapanlagi Plus - Arif Riyadi pria yang berumur 35 tahun ini ternyata sejak usia anak-anak sudah menyukai musik rebana. Alunan rebana menjadi musik membudaya yang akrab di telinganya, karena memang keseharian dimainkan kala pembacaan salawat nabi secara berkeliling dari rumah ke rumah.

Diawali dari rasa menyukai musik pengiring saat bershalawat itulah, kemudian berkembang belajar 'otak-atik' atau servis rebana. Secara otodidak kemampuannya pun terus berkembang hingga berinisiasi memproduksi rebana.

Sekitar 9 tahun lalu, Arif mulai memproduksi aneka jenis rebana, selain jasa service dan penyetelan nada. Namanya pun begitu dikenal sebagai pembuat aneka rebana, selain kemampuan khususnya menyetel nada.

"Pesanan paling banyak dari Kabupaten Malang dan Kota Malang, ada juga sih dari Kediri, Blitar dan sekitarnya," kata Arif Riyadi di rumahnya, Jalan Kyai Parseh Jaya Bumiayu, Kota Malang, Selasa (5/4).

1. Melayani Aneka Rebana

Arif melayani aneka kebutuhan rebana berbahan kayu, baik untuk aliran banjari atau pun Habib Syech (Habsy). Sementara di pasaran memang banyak jenis rebana berbahan plastik.

Kisaran harga untuk ukuran standart (30 Cm) antara Rp200 sampai Rp350 ribu. Pembeli biasanya akan menyesuaikan kebutuhan dan ketersediaan keuangan.

"Satu set untuk versi Pekalongan misalnya kan 5 buah, 4 rebana dan bass. Kalau yang Habsy itu sembilan buah," terangnya.

2. Bahan Baku

Rebana dibuat dari bahan kayu nangka, mauni dan mangga serta kulit kambing betina. Arif juga mengaku mengolah kulit kambing sendiri untuk pesanan rebana tertentu.

"Kulit kambingnya betina, biasanya kalau jantan untuk beduk kecil. Karena hasil suaranya beda dan teksturnya juga beda," jelasnya.

"Kalau yang pesanan khusus, kulitnya proses sendiri, tapi kalau ingin cepat ya beli di pasaran," terangnya.

3. Dari Berbagai Daerah

Bahan baku kayu diperoleh dari Blitar, Jepara dan Demak, sementara kulit kambing diperoleh dari Cirebon, Blitar dan Ponorogo. Bahan kayu melalui proses pengeringan sampai pengecatan, sedangkan kulit kambing hanya butuh perendaman dan pengeringan.

Proses pengerjaan sekitar dua minggu, dan terlama di pengeringan bahan. Proses pengeringan dilakukan manual dengan sinar matahari.

4. Sisa Kulit Ada Manfaat

Sisa kulit kambing biasanya dimanfaatkan pengrajin lain untuk pembuatan souvenir jimbe atau kendang mini. Jika tidak bisa dimanfaatkan lagi, karena ukurannya terlalu kecil dimanfaatkan untuk kerupuk rambak.

"Kulit direndam, terus dipasang, nanti ditarik saat dijemur. Kendala kalau dari segi produksi pada cuaca," tegasnya.

5. Stok Ramadan Ludes

Arif Riyadi mengaku dalam sebulan memproduksi antara 30 sampai 50 rebana atau menyesuaikan pesanan. Proses produksi barang dilakukan sebulan sebelumnya, seperti produksi Ramadan dijual Syawal atau setelahnya.

Siklus penjualan sebenarnya paling ramai saat Maulid, tetapi khusus Ramadan tahun stok sudah terjual di luar perkiraan. Sebelum Ramadan sudah banyak terjual di luar pesanan.

"Ramadan tahun ini meningkat dibanding sebelumnya. Kan saya sudah usaha 9 tahun, selama 8 tahun itu kalau Ramadan biasanya sepi. Karena kegiatan kan sepi, biasanya yang banyak itu cuma servis saja. Tapi tahun ini pesanan banyak dan servis juga banyak," urainya.

6. Menambah Karyawan

Arif pun mengaku harus menambah karyawan dari sebelumnya dikerjakan tiga orang menjadi 4 orang. Mereka harus menyelesaikan produksi, sementara Arief harus mengerjakan servis, karena tidak semua karyawan dapat menyetel nada rebana.

Sementara itu, pembelinya terbanyak dari sekolah dan kelompok-kelompok pengajian di kampung-kampung. Mereka biasanya memesan satu set yang tinggal pakai.

(kpl/dar/dyn)

Reporter:

Darmadi Sasongko



MORE STORIES




REKOMENDASI