Saat Editor Berita TV Indonesia Lelah, Jadi Salah Tulis Deh

Sabtu, 12 Juli 2014 09:00 Penulis: Arai Amelya
Saat Editor Berita TV Indonesia Lelah, Jadi Salah Tulis Deh


Kapanlagi Plus - Bekerja di sebuah media berita adalah hal yang memiliki tanggung jawab besar. Seperti kami di KapanLagi.com® ini. Kami selalu dituntut memberikan informasi yang benar dan penulisan yang tepat pula. Namun ada kalanya para editor berita mengalami kelelahan sehingga melakukan kesalahan.

Hal ini pula yang dialami oleh sederet berita kantor berita TV ini. Maksud hati mereka ingin menyampaikan sebuah berita yang tepat, tetapi mereka melakukan kesalahan sehingga penulisan berita itu mengalami kekeliruan.

Alhasil, para penonton yang menyimak pemberitaan mereka akan langsung tertawa karena ketika satu huruf salah tulis, maka kata bisa berubah dan mengubah pula susunan kalimat pemberitaan. Seperti apa kesalahan konyol mereka? Intip yuk!

1. Takut Nasi Panas

Ketika gunung Sinabung meletus, rasa-rasanya hampir semua perhatian publik Indonesia tertuju kepada penduduk di daerah Karo, Sumatera Utara sana. Selama berbulan-bulan lamanya, pemberitaan media TV, cetak sampai online berfokus pada gunung Sinabung.

Seperti salah satu TV berita nasional ini. Mereka bahkan mengirimkan reporter untuk melakukan liputan langsung di gunung Sinabung. Saat itu, dikabarkan 15 orang warga tewas karena diterjang oleh awan panas. Namun sepertinya sang editor berita sedang lapar saat menampilkan berita olahannya di layar TV.

Karena alih-alih menulis awan panas, mereka justru memberitakan jika warga tewas karena diterjang nasi panas. Mungkin kamu kalau diterjang nasi panas malah kegirangan bisa makan ya?

2. Yang Kabur Para Nabi

Beberapa waktu lalu sempat dikabarkan jika terjadi sebuah kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan yang menyebabkan para tahanan kabur. Sudah pasti kabar besar itu langsung menghiasi media-media berita di Indonesia.

Media ini juga ikut memberitakan mengenai puluhan tahanan yang kabur. Namun lagi-lagi, sepertinya sang editor berita sedang asyik membaca kisah perjalanan para Nabi. Karena yang tertulis bukanlah NAPI melainkan menjadi berita bahwa pihak kepolisian menangkap 55 NABI yang kabur. Nah lho, kenapa nabi harus kabur?

3. Berbahasa Jorok?

Bagi para pekerja media yang terbiasa menyampaikan sebuah informasi, pengecekan atas segala huruf dalam setiap kata dan kalimat adalah keharusan. Karena bisa saja, salah tulis satu huruf, kata tersebut menjadi memiliki artian yang benar-benar beda.

Fatalnya, jika kesalahan itu sudah terlanjur terjadi, bisa-bisa mempertaruhkan nama baik sebuah media. Hanya saja yang namanya manusia memang menjadi tempat di mana kesalahan berada.

Seperti editor pemberitaan media TV ini. Harusnya dia memberikan informasi bahwa SBY memerintahkan penJEMPUTan tersangka korupsi Nazaruddin. Namun bukannya ditulis JEMPUT, editor ini malah menulis sesuatu yang bisa berarti jorok dan benar-benar berbeda. Bagaimana menurut kalian?

4. Palembang di Sumatera Utara

Mungkin editor berita yang satu ini seringkali membolos saat pelajaran Geografi di sekolah dulu. Karena dia dengan tenangnya menyebutkan bahwa Palembang kini berada di Sumatera Utara.

Benar, jika sejatinya Palembang ada di Sumatera Selatan, sang editor yang sedang khilaf ini justru menulis di Sumatera Utara. Apakah Medan sekarang juga sudah pindah? Hmm, mungkin sang editor media TV ini tertekan karena berita harus ditayangkan sesegera mungkin ya?

5. Truk Tewas, Sedih Ya?

Berita mengenai sebuah kecelakaan memang selalu mendatangkan kepedihan. Apalagi jika dalam kecelakaan itu ada korban jiwa yang membayangkan saja kita bisa menangis. Namun editor media ini justru membuat berita menyedihkan menjadi aneh.

Karena dia menuliskan si korban jiwa adalah sopir sekaligus truk yang tewas masuk ke jurang. Sungguh, apakah ada salah seorang penumpang bernama 'truk' yang ikut tewas?

6. SBY Ternyata Pesinden

Menjadi seorang Susilo Bambang Yudhoyono sekaligus Presiden Indonesia bukanlah sesuatu yang mudah. Kamu mungkin bisa mengkritiknya sepanjang hari, tetapi duduk di posisinya dan memikirkan ratusan juta rakyat bisa membuatmu pening.

Dan sepertinya kesabaran SBY benar-benar diuji oleh TV berita yang satu ini. Bukannya sang editor menulis PRESIDEN, mereka malah melakukan kesalahan dan menulis PESINDEN. Sungguh pak SBY, tabahkan hati Anda dan tetaplah semangat ya pak.

(kpl/aia)

Editor:

Arai Amelya



MORE STORIES




REKOMENDASI