Sugeng, Pahlawan PETA Terlupakan Yang Hidup Keras Hingga Tua

Selasa, 10 November 2015 17:18 Penulis: Arai Amelya
Sugeng, Pahlawan PETA Terlupakan Yang Hidup Keras Hingga Tua
Potret perayaan Hari Pahlawan ©2015 merdeka.com/chandra iswinarno

Kapanlagi Plus - Tinggal beberapa jam lagi, Indonesia akan meninggalkan hari Selasa (10/11) yang berarti terlewatnya Hari Pahlawan. Kalau membicarakan soal Hari Pahlawan, pasti bakal teringat-ingat dengan para pejuang zaman dulu. Sedihnya nasib mereka demi membuat Indonesia berjaya rupanya tak terbalas di hari tuanya. Hal itulah yang dialami Sugeng Hadisuyatna ini.

Pria berusia 89 tahun ini bahkan menjadi satu dari pejuang veteran yang tak mendapat perhatian dari mereka. Tak banyak yang tahu jika kakek yang tinggal di Plumbungan, Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta ini pernah menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA). Bahkan Sugeng juga pernah bergabung di Batalyon 10 Yogyakarta saat perang kemerdekaan.

Kakek Sugeng memperlihatkan piagam perjuangannya © merdeka.comKakek Sugeng memperlihatkan piagam perjuangannya © merdeka.com

Namun perjuangan Sugeng tak berhenti saat membela negara saja. Kini kakek 17 cucu dan 8 cicit ini masih harus berjuang hidup yakni bekerja sebagai petani di usia senjanya. Jika banyak pejuang veteran dengan jabatan dan tanda jasa tinggi hidup damai di perkotaan, Sugeng harus berjuang mengayun cangkul ke ladang demi bisa makan sehari-hari.

"Sekarang ini saya jadi petani ke ladang. Kalau nggak ke ladang, mau makan apa? Dulu saya punya rumah limasan lima tapi habis dibakar Belanda waktu tahun 1948. Waktu itu ada tentara mereka yang mati ditembak pejuang jadi habis semua barang-barang. Sebelumnya di tahun 1944 sempat gabung PETA bentukan Jepang dan berpangkat Gyuhei di PETA DAI.IV.Daidan, Gunungkidul," kisah kakek Sugeng penuh semangat, seperti dilansir Merdeka.

Meski harus berjuang di usianya yang sudah 89 tahun, Sugeng tetap kuat © merdeka.comMeski harus berjuang di usianya yang sudah 89 tahun, Sugeng tetap kuat © merdeka.com

Sugeng melanjutkan bahwa setelah PETA dibubarkan dia masuk ke Batalyon 10 Yogyakarta yang berjuang menghadang pasukan sekutu di Ambarawa. Sugeng pun masih ingat jika kakaknya gugur di medan perang karena ditembak tentara sekutu. Karena hal itulah ibu Sugeng memintanya keluar dari Batalyon.

"Meski tahun 1946 saya keluar dari Batalyon 10, saya diam-diam mengumpulkan logistik untuk dikirim ke pejuang dan saya antar sendiri. Itu semua perjuangan saya untuk negara dan saya tak mau memelas bantuan. Sekarang ini saya bisa makan dari keringat sendiri, belum pernah ada bantuan dari pemerintah," cerita Sugeng mantap.

(mdk/aia)

Editor:

Arai Amelya



MORE STORIES




REKOMENDASI