2 Jam Menembus Ombak demi Melihat Kembali: Saat Kabut Putih Tak Lagi Menghalangi Kasih di Ujung Kei
source: YPP Emtek
Kapanlagi.com - Selama bertahun-tahun, suara serutan kayu dan aroma mahoni menjadi bagian dari keseharian Bp. Jhon (68) di rumah kecilnya. Namun dalam setahun terakhir, aktivitas itu mulai menghilang seiring penglihatannya yang semakin menurun akibat katarak. Mata kanannya tertutup kabut putih tebal yang perlahan mengurangi kemandiriannya sebagai pengrajin meubel.
Kini, jemarinya yang dulu lincah mengolah kayu lebih sering meraba-raba dengan ragu di sekitar meja kerja. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi pekerjaannya, tetapi juga kehidupan sehari-harinya, membuatnya harus berjuang lebih keras untuk menjalani rutinitas yang sebelumnya terasa begitu sederhana.
Di sisi lain, istrinya, Ibu Parmin (74), harus berjuang dengan mata kiri yang juga meredup. Di usia senja, saat anak-anak mereka merantau jauh dari Desa Depur, mereka hanya memiliki satu sama lain. Sebuah tugas sederhana seperti memasak atau berjalan ke teras rumah kini menjadi perjalanan yang penuh risiko dan ketidakpastian.
Advertisement
1. Martabat di Balik Gergaji yang Terhenti
Bp. Jhon bukan sosok yang ingin dikasihani. Ia adalah seorang pejuang ekonomi yang terbiasa menghidupi diri dengan membuat kursi dan meja pesanan. Dari satu set meubel, ia membawa pulang Rp300.000 hingga Rp500.000�sebuah jumlah yang hanya cukup untuk makan, jauh dari kata cukup untuk membiayai operasi mata yang mahal di kota besar.
Katarak bukan hanya merampas penglihatannya, tapi juga mengancam harga dirinya sebagai kepala keluarga. Tanpa mata yang tajam, gergaji dan pahat miliknya tak lagi bisa menghasilkan karya yang presisi.
Menembus Gelombang demi Satu Harapan
Harapan itu muncul saat kabar bakti sosial Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih (YPP) dari Emtek Media sampai ke telinga mereka. Namun, perjalanan menjemput cahaya tidaklah mudah. Pasangan lansia ini harus menempuh 2 jam perjalanan laut menggunakan perahu, membelah ombak dari Pelabuhan Elat menuju RSUD Karel Sadsuitubun.
Bayangkan, di tengah penglihatan yang kabur dan berbayang, mereka harus meniti tangga dermaga dan menghadapi guncangan samudra. Semua itu mereka lakukan demi satu mimpi: ingin melihat dunia dengan terang kembali.
(Alex Abbad resmi menikah di usia 47 Tahun, istrinya sahabat sendiri.)
2. 150 Mata, Termasuk Milik Mereka
Melalui sinergi YPP bersama Kementerian Sosial RI dan tim dokter PERDAMI, Bp. Jhon dan Ibu Parmin kini telah mendapatkan akses ke ruang operasi. Mereka adalah bagian dari 150 mata di Kepulauan Kei yang sedang kita perjuangkan untuk melihat indahnya Maluku Tenggara lagi.
Operasi ini bukan sekadar bantuan medis. Bagi Bp. Jhon, ini adalah kesempatan untuk kembali memegang pahatnya. Bagi Ibu Parmin, ini adalah kemampuan untuk kembali mengurus rumah dengan tenang tanpa rasa takut akan terjatuh.
3. Jadilah Jembatan Cahaya Bagi Mereka
Di pelosok Nusantara, masih banyak "Bp. Jhon dan Ibu Parmin" lain yang terisolasi oleh jarak dan biaya. Mereka tidak menunggu belas kasihan, mereka menunggu sebuah kesempatan untuk kembali berdaya.
Kehadiran Anda adalah alasan mengapa gergaji Bp. Jhon bisa kembali berbunyi dan langkah Ibu Parmin bisa kembali tegak. Seluruh donasi Anda akan disalurkan secara transparan untuk membiayai lensa, peralatan medis, dan perawatan bagi mereka yang membutuhkan di daerah terpencil.
4. Mari Temani Perjuangan Mereka Melihat Dunia Lagi
Jangan biarkan jarak dan kabut putih memadamkan harapan saudara-saudara kita di pelosok Indonesia. Uluran tangan Anda adalah jawaban atas doa-doa mereka.
Salurkan bantuan tulus Anda dengan melalui QRIS berikut ini:
(Azura anak Aurel Hermansyah jatuh dari tangga, langsung dilarikan ke UGD.)
(kpl/jje)
Advertisement
