Kapanlagi.com - Di bulan suci Ramadan, alangkah baiknya KLovers menambah pengetahuan nih, salah satunya adalah Masjid. Tau nggak? Kalau Masjid At-Thohiriyah atau Masjid Bungkuk di Pagentan, Singosari, Malang awal dibangun abad 18 Masehi. Keberadaan masjid tersebut tidak lepas dari aktivitas dakwah di kawasan Malang bagian utara oleh Kyai Hamimuddin. Kyai Hamimuddin sendiri adalah anggota laskar pasukan Pangeran Diponegoro yang melarikan diri saat kalah dalam Perang Jawa (1825-1830). Kekalahan tersebut membuat laskar tercerai-berai dalam pelarian ke beberapa daerah termasuk ke Malang.
Keluarga Kyai Hamimuddin, KH Moensif Nachrawi (87) mengungkapkan, berdasarkan dokumen keluarga dan cerita turun-temurun bahwa pembangunan masjid Bungkuk sudah didahului dengan aktivitas dakwah di gubuk-gubuk kecil. Saat itu, masjid masih belum dibangun, bahkan sekitar lokasi masih dalam bentuk hutan belantara. Kawasan tersebut memang merupakan sisa-sisa kerajaan Singosari yang berjaya sekitar 500 tahun sebelumnya, dengan mayoritas masyarakatnya beragama Hindu.
"Dari laskar Diponegoro yang semburat (melarikan diri), satu (Kyai Hamimuddin) lari ke sini. Bikin gubug, disebut gubug karena memang terbuat dari ayaman bambu, gedeg dan bangunan kecil untuk mengajar mengaji dan sholat," jelas KH Moensif Nachrawi di rumah kediamannya Jalan Bungkuk, Pagentan, Singosari, Malang, Sabtu (9/4).
Kyai Hamimuddin mengajarkan Islam dengan penuh kesabaran dan tanpa unsur paksaan. Namun masyarakat berbondong-bondong tertarik dengan 'agama baru' sebagai alternatif keyakinan yang sudah turun menurun saat itu. Lewat mulut ke mulut, Islam dan ajarannya semakin menyebar dan mengundang banyak orang berdatangan. Majelis atau pengajian pun mulai banyak dihadiri dari berbagai kalangan dari petani, pedagang, buruh bahkan pejabat.
"Ketika orang mendengar agama baru yang tidak membeda-bedakan kasta, mereka datang berbondong-bondong. Semuanya dianggap sama, tidak ada bedanya antara mereka, yang membedakan cuma taqwanya," kisahnya.
"Mereka ingin diorangkan, itu sebabnya orang-orang tersebut masuk Islam. Tidak ada paksaan, dari mulut ke mulut, cerita satu dengan yang lain sehingga makin lama makin besar," tegasnya.
Â
Sementara nama Bungkuk sendiri merupakan julukan atau sebutan oleh warga sekitar terhadap aktivitas Kyai Hamimuddin dan para santrinya. Namun seiring waktu nama itu tetap melekat hingga melekat di kawasan tersebut secara turun menurun sampai sekarang ini.
"Ketika Kyai Hamimuddin mengajar di sana, mengaji dan sholat, di sana tempatnya orang Mbungkuk-Mbungkuk, tidak tahu aktivitas apa. Itu adalah aktivitas orang yang lagi sujud itu, yang diajarkan Kyai Hamimuddin. Masyarakat tahunya itu orang Mbungkuk dan Mbungkuk itu dilestarikan sebagai wilayah di sini, namanya wilayah Mbungkuk," urainya.
Â
Ketika jumlah santri semakin banyak dan dibutuhkan tempat ibadah lebih besar maka diputuskan membangun masjid. Pembangunan masjid diperkirakan 1850, walaupun jauh sebelumnya sudah dimulai aktivitas dakwahnya. Bangunannya dibuat lebih permanen dengan menggunakan material kayu, batu-bata dan genting, walaupun tidak terlalu besar untuk ukuran sekarang.
"Masjid yang dibangun, kalau awalnya dari bambu atau gubug saja, kemudian dibangun semi permanen, ada bata, kayu, genteng. Karena sudah dimulai genteng, maka harus ada penyangga, kuda-kuda dan tiang. Itu zamannya Kyai Hamimuddin, ketika santri mulai semakin banyak," jelasnya.
Â
Masjid Bungkuk telah mengalami beberapa renovasi seiring usianya yang sudah 172 tahun. Tetapi bangunan aslinya berupa empat pilar utama atau soko guru masih terjaga hingga sekarang. Empat pilar itu diposisikan di tengah-tengah masjid Masjid At-Thohiriyah sekarang. Posisinya serupa soko guru di rumah gaya Jawa, kendati saat ini tidak lagi menjadi topangan bangunan di atasnya.
"Empat tiang itu sekarang diabadikan. Karena bangunan yang sekarang sudah konstruksi modern, tidak perlu kayu, tapi bangunan yang berupa tiang empat itu dilestarikan sampai sekarang. Tidak ada rangkaiannya dengan bangunan, tapi untuk melestarikan sisa zaman Kyai Hamimuddin," jelasnya.
Â
Seperti diketahui, pelarian para laskar Pangeran Diponegoro di kemudian hari banyak dikenal sebagai penyebar agama Islam. Kedatangan Kyai Hamimuddin diperkirakan semasa atau bersamaan dengan Eyang Jugo (Soeryo Koesoemo atau Kyai Zakaria II), tokoh penyebar Islam di Gunung Kawi, Wonosari, Malang.
Karena itu tidak menutup kemungkinan di Gunung Kawi atau lokasi pelarian laskar Diponegoro lain juga sudah berdiri tempat ibadah serupa. "Pesan yang sering dikatakan Pageran Diponegoro, di manapun berada sebarkan agama Islam," tegasnya.
Â
Secara kasat mata, bagian atas terlihat kayu yang sudah lapuk atau berlubang bekas dimakan rayap atau sejenisnya. Kayu tersebut di topang oleh bagian di bawahnya yang sudah dibungkus kayu jati berukir ayat dalam Surat Al-Mukminun. Begitupun bagian empat tiangnya sudah dibungkus kayu jadi berukir. Kayu aslinya tidak nampak karena berada di tengah-tengah atau dilapisi kayu jati.
Terkait keberadaan Masjid Bungkuk sebagai yang tertua di Malang Raya, KH Moensif Nachrawi tidak dapat memastikan klaim tersebut. Walaupun sejumlah sejarawan kerap memberikan pernyataan tersebut.
Â
Usai Kyai Hamimuddin, kepemimpinan pondok dilanjutkan KH Muhammad Thohir, putra mantu dari pernikahan dengan putri ketujuhnya, Murtosiah. Kyai Thohir yang berasal dari Banggil, Pasuruan dan masih berdarah keturunan Sunan Ampel.
Kyai Thohir dikenal walliyullah dan kharismatik. Dua Pahlawan Nasional yakni KH Hasyim Asyari dan KH Masjkur pernah menuntut ilmu kepada Kyai Thohir. KH Hasyim Asyari adalah pendiri NU dan KH Masjkur dikenal sebagai Pemimpin Laskar Sabilillah dan Menteri Agama di masa Presiden Ir. Soekarno.
Kyai Thohir meninggal dunia tahun 1933 dan Pondok dilanjutkan oleh putranya, KH Nachrowi Thohir. KH Nachrowi Thohir ini yang kemudian dikenal sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) bersama 12 Kyai Besar lainnya. KH Nachrowi Thohir juga pernah menjabat Ketua Umum PB NU.
Â
Pondok Pesantren Bungkuk secara turun-temurun menjadi pusat kegiatan dan dakwah Islam hingga saat ini. KH Moensif Nachrawi sendiri merupakan keturunan atau generasi keempat dari KH Hamimuddin.
Para pendiri Pondok Pesantren Bungkuk atau Miftahul Falah secara turun menurun dimakamkan di depan kompleks Masjid At-Thohiriyah. Pusara-pusara itu menjadi saksi sejarah perjuangan perjalanan peradaban Islam di Malang Raya.
Â