Berdarah Indonesia, Sederet Atlet Ini Perkuat Negara Lain di Olimpiade Tokyo 2020

Jum'at, 30 Juli 2021 08:18
Berdarah Indonesia, Sederet Atlet Ini Perkuat Negara Lain di Olimpiade Tokyo 2020
Lianne Tan - Setyana Mapasa (credit: instagram.com/liannetan20 - instagram.com/setyanam)


Kapanlagi Plus - Gelaran Olimpiade Tokyo 2020 kini masih terus berlanjut hingga 8 Agustus 2021 mendatang. Banyak hal menarik yang menjadi pembahasan dari Olimpiade Tokyo 2020. Tak terkecuali seputar para atlet yang berjuang membela negara masing-masing di ajang olahraga internasional 4 tahunan tersebut.

Kali ini Indonesia mengirimkan 28 atlet kebanggaan yang tersebar di 8 cabang olahraga. Salah satu nama yang belakangan ini mencuri perhatian publik adalah Rio Waida. Satu-satunya peselancar yang mewakili Tanah Air di Olimpiade Tokyo 2020.

Saat beraksi di atas papan selancarnya, sosok Rio Waida mencuri hati masyarakat Indonesia khususnya kaum hawa. Selain soal prestasinya selama ini, Karisma dan ketampanannya pun jadi alasan kenapa ia begitu populer. Bukan cuma itu saja, ada sejumlah fakta menarik lain dari seorang Rio Waida.

Punya nama yang cukup unik, ternyata Rio Waida merupakan atlet yang memiliki darah campuran. Sang ayah berasal dari Indonesia, sedangkan ibundanya merupakan warga negara Jepang bernama Kaoru Waida. Kedua orang tua Rio juga merupakan seorang peselancar. Tak heran kini ia menjadi seorang peselancar profesional.

Jika di kontingen Indonesia ada Rio Waida yang berdarah campuran Jepang, ternyata ada pula atlet keturunan Indonesia yang memperkuat negara lain di Olimpiade Tokyo 2020. Siapa saja mereka? Yuk kepoin selengkapnya dalam ulasan berikut ini.

 

 

1. Lianne Tan, Belgia

Lianne Tan merupakan atlet bulu tangkis yang membela Belgia dalam Olimpiade Tokyo 2020. Wanita kelahiran 20 November 1990 ini sempat bertarung melawan Gregoria Mariska Tunjung dalam babak penyisihan grup tunggal putri. Langkahnya di Olimpiade Tokyo 2020 terhenti setelah dikalahkan 2 set langsung oleh Gregoria.

Sosok Lianne Tan rupanya punya kedekatan dengan Indonesia. Dalam diri atlet berkebangsaan Belgia itu rupanya mengalir darah Indonesia. Diketahui ayah Lianne yang bernama Henk Tan berasal dari Bandung, Jawa Barat. Sedangkan ibunda Lianne, Maria Meyers merupakan warga negara Belgia.

Saat melawan Gregoria (28/7) lalu, Lianne Tan juga kedapatan berbicara menggunakan Bahasa Indonesia dengan sang pelatih. Menariknya, pelatih Lianne, Indra Bagus Ade Chandra, merupakan pria kelahiran Jakarta. Ia pernah menjadi bagian dari tim bulu tangkis tunggal putra Indonesia. Setelah meniti kariernya di Eropa, Indra kini menjadi pelatih untuk tim nasional Belgia.

Tak hanya fasih soal bahasa, Lianne Tan juga kerap membagikan rasa bangganya karena memiliki darah Indonesia. Ia bahkan pernah mengunggah foto ketika mengenakan pakaian adat Tanah Air. Hal itu dilakukan Lianne dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2020 lalu.

 

 

2. Ayah & Kakak Juga Pemain Bulu Tangkis

Lahir di Bilze, Belgia, Lianne Tan sudah menekuni bulu tangkis sejak usianya masih 8 tahun. Kecintaannya pada olahraga yang satu ini rupanya merupakan pengaruh dari sang ayah dan saudara kandungnya yang juga menggeluti bulu tangkis. Bersama sang kakak, Yuhan Tan, Lianne sering berkunjung ke Tanah Air untuk belajar tepok bulu.

Selama ini Lianne lebih banyak berlaga di turnamen BWF International Challenge yang diselenggarakan di kawasan Eropa, Amerika, dan Afrika. Nggak main-main, sejak partisipasinya di tahun 2008, Lianne Tan telah memenangkan sembilan gelar BWF International Challenges.

Olimpiade 2020 ini merupakan olimpiade ketiga Lianne Tan. Sebelumnya ia juga tampil di Olimpiade 2012 London dan Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. Kini ia menempati peringkat 38 dunia dengan 230 kemenangan di semua kompetisi tunggal dan ganda.

Selain berprestasi di bidang olahraga khususnya bulu tangkis, Lianne Tan juga punya profesi mentereng lainnya. Ia merupakan lulusan jurusan kedokteran Gigi Radboud University Nijmegen pada tahun 2018 lalu. Di luar aktivitasnya sebagai atlet, Lianne merupakan seorang dokter gigi lho KLovers.

 

 

3. Ade Resky Dwicahyo, Azerbaijan

Lahir dan besar di Indonesia, Ade Resky Dwicahyo kini memperkuat tim nasional bulu tangkis Azerbaijan dalam Olimpiade Tokyo 2020. Ia menjadi satu-satunya pemain tunggal putra yang diturunkan oleh negara yang letaknya berada di perbatasan Eropa dan Asia tersebut. Tentu KLovers mungkin semakin penasaran dengan sosok Ade yang namanya sangat identik dengan Indonesia tapi kenapa membela Azerbaijan?

Ade Rezky Dwicahyo lahir di Kendari, Sulawesi Tengah, 14 Mei 1998. Lahir dan besar di Indonesia, Ade pernah membela Tanah Air di Kejuaraan Junior Asia dan Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis pada tahun 2016. Sayangnya kala itu Indonesia tersingkir di babak perempat final dari Korea Selatan. Meski saat itu kalah, keinginan Ade untuk bisa mengembangkan kariernya di dunia bulu tangkis sangat besar.

Satu tahun kemudian, Ade Resky mendapat tawaran untuk membela Azerbaijan. Karena tekadnya untuk bisa berprestasi di kancah internasional, Ade lantas menerima tawaran tersebut. Bahkan Ade juga melepas status WNI-nya dengan beralih menjadi warga negara Azerbaijan.

"Ketika menerima proposal dari Azerbaijan, saya merasa punya peluang lebih besar untuk berkarier di level dunia dan tampil di Olimpiade," ujar Ade seperti dilansir dari channel YouTube Badminton Europe.

 

 

4. Prestasi Menanjak

Harapan Ade Resky Dwicahyo untuk bisa semakin mengembangkan karier bulu tangkisnya dengan memutuskan pindah ke Azerbaijan pun perlahan terwujud. Selain dapat kesempatan berlaga di Olimpiade Tokyo 2020, sederet prestasi di kancah internasional sukses ia catatkan selama 3 tahun terakhir.

Tahun 2019 lalu, Ade berhasil mendapatkan gelar di sejumlah kompetisi. Di ajang Egypt International dan Cameroon Internasional, Ade berhasil meraih peringkat pertama. Sedangkan dalam gelaran Benin International, Ghana International Challenge, Kharkiv International dan Algeria International yang berlangsung di tahun yang sama, Ade meraih posisi runner-up.

Nggak cuma membela Azerbaijan dari sektor tunggal, Ade Resky juga bermain di laga ganda putra bersama Azmy Qowimuramadhoni. Prestasinya pun tak kalah mentereng. Mereka mampu konsisten dengan menjuarai sejumlah kompetisi. Seperti Belarus International hingga South Africa International pada tahun 2018. Saat ini, Ade Rizky menempati peringkat ke-72 dunia untuk nomor tunggal putra dan ranking ke-262 di sektor ganda putra.

 

 

5. Nyl Yakura, Kanada

Di Olimpiade Tokyo 2020, Nyl Yakura merupakan atlet perwakilan Kanada dari cabang bulu tangkis sektor ganda putra. Bersama pasangannya, Jason Ho-shue, Nyl sempat melawan ganda putra kebanggaan Indonesia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan saat penyisihan grup. Ahsan dan Hendra berhasil menang 2 set langsung dengan skor 21-12, 21-11.

Mungkin masih banyak KLovers yang belum tahu jika dalam diri Nyl Yakura mengalir darah Indonesia. Yap! Lahir di Scarborough, Ontario, Kanada pada 14 Februari 1993, pemilik nama lengkap Nyls Kiyoshi Yakura ini mendapat darah Indonesia dari sang ibu yang diketahui bernama Susan. Sedangkan ayah Nyl merupakan orang Jepang.

Selain bermain di nomor ganda putra, Nyl Yakura juga pernah bermain di sektor tunggal dan ganda campuran. Seperti dilansir dari Indosport.com, atlet berusia 18 tahun ini dinobatkan sebagai kcbadmintonclub.com, Nyl Yakura telah dinobatkan sebagai 'Golden Boy' oleh Badminton Kanada.

Sebutan tersebut diberikan lantaran Nyl Yakura menjadi salah satu atlet peraih medali terbanyak sepanjang sejarah bulu tangkis Ontario. Melansir berbagai sumber, hingga sekarang Nyl telah mendapatkan 24 medali. Saat ini ia menduduki peringkat 32 dunia di sektor ganda putra dan rangking 106 di nomor ganda campuran.

 

 

6. Setyana Mapasa, Australia

Satu lagi atlet berdarah Indonesia yang pada olimpiade kali ini memperkuat tim negara lain. Ia adalah Setyana Daniella Florensia Mapasa atau yang lebih dikenal Setyana Mapasa. Pebulutaskis berusia 25 tahun itu menjadi wakil Australia di sektor ganda putri bersama pasangannya Gronya Somerville.

Atlet yang akrab disapa Tyana itu lahir di Kawangkoan, Manado, 15 Agustus 1995. Ketika masih remaja, Tyana menjadi salah satu pemain yang digadang-gadang bisa berprestasi di masa depan. Tahun 2013, ia pernah mewakili Indonesia di Kejuaraan Dunia Junior yang berlangsung di Bangkok. Kala itu Tyana sukses membawa pulang medali perak.

Melansir Kompas.com, setelah menjuarai ajang tersebut Setyana Mapasa kemudian mendapat tawaran dari tim pemandu Australia untuk mewakili Negeri Kangguru. Ia lantas menerima tawaran tersebut dan memilih pindah sejak tahun 2013. Sedangkan di tahun 2014, Setyana dinaturalisasi sehingga menjadi warga negara Australia.

"Di tahun itu juga ada tim pemandu dari Australia yang menawarkan kepada papa dan mama saya agar saya pindah bermain untuk Australia. Kebetulan saya waktu itu lagi cedera. Tawaran itu saya terima dengan perkiraan waktu barangkali hanya akan bermain satu dua tahun sebelum melanjutkan sekolah," ujarnya.

 

 

7. Olimpiade Pertama yang Diikuti

Olimpiade Tokyo 2020 ini merupakan gelaran olimpiade pertama yang diikui oleh Setyana Mapasa. Di Olimpiade Rio 2016 lalu ia belum memenuhi syarat 3 tahun tinggal di Australia sehingga tak bisa turun mewakili Negeri Kangguru.

Sejauh ini, prestasi terbaik yang pernah ditorehkan Setyana adalah saat ia berhasil meraih juara pertama di ajang Kanada Terbuka tahun 2019 lalu. Saat itu Setyana juga berpasangan dengan Gronya Somerville. Dari segi ranking dunia, sekarang ia menduduki peringkat ke-28 di nomor ganda campuran.

Walaupun sudah menjadi warga negara Australia, nyatanya Setyana masih sering pulang ke kampung halamannya. Sejumlah momen saat dirinya berada di Manado pun ia bagikan di media sosialnya.

Well, walaupun 4 atlet tersebut bertanding untuk memperkuat negara lain, Lianne Tan, Ade Resky Dwicahyo, Nyl Yakura dan Setyana Mapasa tetap menunjukkan rasa bangganya karena memiliki darah Indonesia dalam diri mereka.

Yuk kita dukung terus atlet-atlet Tanah Air yang kini berjuang di Olimpiade Tokyo 2020 ya KLovers. Meski dari jauh, doa dan dukungan kita bisa jadi penyemangat besar lho bagi mereka. Semangat terus para atlet Indonesia!

 

 

(kpl/lou)



MORE STORIES




REKOMENDASI