Celluma Resmi Hadir di Indonesia, Tiga Dokter Senior Pastikan Teknologi PBM Aman untuk Kulit Nusantara

Celluma Resmi Hadir di Indonesia, Tiga Dokter Senior Pastikan Teknologi PBM Aman untuk Kulit Nusantara
Celluma hadir di Indonesia (Dok. Pribadi)

Kapanlagi.com - Teknologi fotobiomodulasi atau Photobiomodulation (PBM) kini hadir di Indonesia melalui Celluma, perangkat terapi cahaya yang dikembangkan dari riset biostimulasi cahaya NASA untuk astronot. Kehadiran teknologi ini tidak hanya ditandai dengan peluncuran produk, tetapi juga pembentukan Celluma Indonesia Advisory Board yang melibatkan praktisi klinis berpengalaman.

Pembentukan advisory board tersebut menjadi langkah penting untuk menjembatani perkembangan teknologi dengan kebutuhan dermatologi di Indonesia. Para dokter yang terlibat akan memberikan pandangan klinis agar penggunaan teknologi PBM dapat dilakukan secara profesional, berdasarkan bukti ilmiah, serta relevan dengan kondisi kulit dan lingkungan tropis Indonesia.

1. Dari Riset NASA hingga Teknologi Fotobiomodulasi

Celluma hadir di Indonesia melalui PT Redo Marketing Indonesia. Teknologi ini berangkat dari pengembangan riset biostimulasi cahaya NASA dan kemudian dikembangkan untuk berbagai kebutuhan terapi berbasis fotobiomodulasi.

Menurut dr. Feilicia Henrica, Sp.D.V.E, FINSDV, yang menjadi salah satu anggota Celluma Indonesia Advisory Board, pemahaman mengenai teknologi tersebut tidak cukup hanya melihat dampaknya pada permukaan kulit. Mekanisme yang terjadi di tingkat sel juga menjadi bagian penting untuk dipahami.

"Kami tidak berhenti pada pertanyaan what the device does on the skin. Lebih jauh, kami ingin memahami what happens inside the cell, bagaimana energi cahaya berinteraksi dengan cellular chromophores, dan bagaimana interaksi tersebut diterjemahkan menjadi respons biologis," ujar dr. Feilicia Henrica.

Ia menilai pertemuan antara sains, teknologi, dan praktik klinis menjadi kunci agar PBM tidak sekadar dipandang sebagai tren dalam dunia perawatan kulit.

"Inilah titik di mana science, technology, dan clinical practice bertemu. Sebuah jembatan yang membawa Photobiomodulation (PBM) dari sekadar tren, menjadi terapi yang dipahami mekanismenya, didukung oleh scientific evidence, dan diterapkan secara profesional dalam praktik klinis."

Pandangan serupa disampaikan dr. Ruri Diah Pamela, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV, Kepala Departemen Dermatologi RSPNN sekaligus anggota advisory board. Menurutnya, pemahaman mengenai kesehatan kulit kini mulai bergeser dari sekadar memperhatikan tampilan luar menuju kondisi kulit pada tingkat sel.

"Ada pergeseran besar yang sedang terjadi dalam cara kita memahami kulit sehat. Selama bertahun-tahun, perawatan kulit berfokus pada apa yang terlihat di permukaan. Kini, sains membawa kita jauh lebih dalam: ke tingkat sel, tempat proses penuaan dan peremajaan kulit sesungguhnya bermula," tambah dr. Ruri.

2. Tiga Dokter Senior Bergabung dalam Advisory Board

Celluma Indonesia Advisory Board diisi oleh tiga dokter senior, yaitu dr. M. Akbar Wedyadhana, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV, IFAAD, dr. Ruri Diah Pamela, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV, serta dr. Feilicia Henrica, Sp.D.V.E, FINSDV.

Bagi dr. Ruri, perkembangan tren longevity juga membuat masyarakat semakin memperhatikan bagaimana menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang. Menurutnya, konsep tersebut seharusnya tidak hanya berkaitan dengan menyamarkan tanda penuaan, tetapi juga menjaga fungsi dan kesehatan kulit.

"Sebagai dokter yang menekuni bidang ini, saya melihat tren longevity yang tengah menjadi trend global bukan sekadar gaya hidup, melainkan cara berpikir baru: bagaimana menjaga kulit tetap sehat dan berfungsi baik selama mungkin, bukan sekadar menutupi tanda usia. Di sinilah “glow” perlu dimaknai ulang, bukan kilau di permukaan, tetapi cerminan sel-sel kulit yang sehat dan berenergi."

Ia juga menekankan pentingnya penggunaan pendekatan yang memiliki dasar ilmiah.

"Yang ingin saya sampaikan lewat forum ini: kulit yang sehat selalu dimulai dari dalam, dari unit terkecilnya. Dan yang kita butuhkan adalah bukti ilmiah, pendekatan yang berpijak pada ilmu dan bisa dipertanggungjawabkan."

"Harapan saya, cara pandang ini dapat menghadirkan standar perawatan kulit yang lebih rasional, aman, dan relevan bagi kulit orang Indonesia," tutup dr. Ruri.

Sementara itu, dr. M. Akbar Wedyadhana, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV, IFAAD, Direktur Medis Senopati Skin Center, mengatakan bahwa advisory board memiliki peran untuk memastikan teknologi dapat diterapkan sesuai kebutuhan praktik dermatologi di Indonesia.

"Sebagai advisory board, komitmen kami adalah menjembatani sains dengan realitas dermatologis di Nusantara," ujar dr. M. Akbar.

Menurutnya, perkembangan teknologi di bidang estetika dan kedokteran regeneratif harus berjalan beriringan dengan bukti ilmiah, etika, dan keselamatan pasien. Para dokter juga perlu memahami cara mengoperasikan perangkat, mengetahui indikasinya, serta mengoptimalkan penggunaannya dalam praktik sehari-hari.

3. Celluma Bawa 15 Tahun Data Klinis

PT Redo Marketing Indonesia selaku distributor tunggal Celluma di Indonesia turut menyoroti perjalanan panjang teknologi tersebut. National Sales Manager PT Redo Marketing Indonesia, Vanda Wulandari, menyebut Celluma telah memiliki 15 tahun data klinis, FDA Clearance, dan Medical CE Mark.

"Celluma datang, bukan tanpa bukti, dan bukan tanpa perjalanan panjang. Lima belas tahun data klinis, FDA Clearance, Medical CE Mark. Celluma hadir di hampir 100 negara. Dan sampai hari ini, lebih dari 35.000 perangkat telah menyentuh kehidupan orang-orang di seluruh dunia."

Menurut Vanda, kehadiran Celluma di Indonesia bukan hanya berkaitan dengan peluang bisnis, tetapi juga tanggung jawab untuk menghadirkan teknologi yang dapat digunakan masyarakat dengan pemahaman yang tepat.

"Bagi kami, ini bukan sekadar peluang bisnis. Ini adalah amanah. Dan dari amanah itu, lahir sebuah keyakinan. Bahwa akan tiba harinya, di mana teknologi photobiomodulation ini akan diadopsi masyarakat, dan bisa ada di hampir setiap rumah kita."

Peluncuran Celluma Indonesia sekaligus pembentukan Advisory Board tersebut digelar dalam Aruna International Summit 2026. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen PT Redo Marketing Indonesia sebagai Home of Global Trusted Brands untuk menghadirkan teknologi yang diklaim terdepan, aman, dan didukung bukti klinis bagi masyarakat Indonesia.

(Martha Tilaar meninggal dunia di usia 89 tahun.)

(kpl/gtr)

Rekomendasi

Trending