Cut Meutia - Nilai Perjuangan Lebih Dari Sekedar Perdebatan Hijab

Senin, 06 November 2017 14:01 Penulis: Adhib Mujaddid
Cut Meutia - Nilai Perjuangan Lebih Dari Sekedar Perdebatan Hijab
Lukisan Cut Meutia @KapanLagi.com/Adhibmujaddid

Kapanlagi Plus - "Cut Meutia adalah pahlawan yang gigih, pemberani dan pantang menyerah. Beliau adalah sosok wanita tangguh yang mementingkan masyarakat Aceh, demi rakyat, demi kemerdekaan."

Kalimat itu keluar dari cicit Cut Meutia, Dini Hari Usman beberapa waktu lalu, tepatnya saat ia menggelar haul 107 tahun Cut Meutia di Lhokseumawe, Aceh. Sosoknya begitu penuh inspirasi, seakan menjadi simbol postif kegigihan masyarakat Aceh. Tanpa mengesampingkan perjuangan pahlawan lain, perjuangan wanita ini memang luar biasa.

Beliau lahir pada tahun 1870, atau tiga tahun sebelum perang Aceh - Belanda meletus. Ayahnya adalah seorang Ulubalang bernama Teuku ben Daud. Sejak belia, ia sudah dijodohkan dengan Teuku Syah Syarif, hingga akhirnya menikah. Perjodohan itu adalah hal yang lazim di Aceh pada saat itu. Namun ternyata kedekatan Teuku Syah Syarif dengan kolonial Belanda membuat hati Cut Meutia berontak. Akhirnya ia mengikuti kata hatinya untuk menikahi Teuku Muhammad atau Teuku Cik Di Tunong, sosok pejuang besar Aceh yang ditakuti oleh Belanda yang tak lain juga merupakan adik dari Teuku Syah Syarif.

Salah satu lukisan di Rumah Cut Meutia yang menggambarkan perjuangan beliau @adhibmujaddidSalah satu lukisan di Rumah Cut Meutia yang menggambarkan perjuangan beliau @adhibmujaddid

Sekitar tahun 1900, bersama Sang Suami, Cut Meutia memimpin perjuangan gerilya di daerah Pasai. Berkali-kali pasukan Belanda berhasil mereka pukul mundur. Belanda pun memutar otak, mereka mulai mengatur siasat lain. Melalui pihak keluarga, Belanda mencoba membujuk agar Meutia menyerahkan diri kepada Pemerintahan Belanda. Dapat ditebak, tawaran ini sama sekali tak berhasil. Cut Meutia pantang tunduk dan memilih tetap berjuang bersama suaminya.

Perang terbuka jelas bakal menjadi kerugian bagi para pejuang ini. Belanda memiliki persenjataan yang jauh lebih canggih. Mau tak mau, mereka harus menggunakan taktik gerilya di hutan. Namun, tentu saja tak mudah bagi para pejuang ini untuk terus bersembunyi dan mengintai penjajah. Mereka harus jeli melihat situasi dan rajin berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Tanggal 5 Mei 1905, penjajah berhasil menangkap Teuku Cik Di Tunong. Hukuman mati pun langsung dialamatkan pada Cik Di Tunong. Dia dituduh sebagai orang paling bertanggungjawab atas pembantaian tentara Belanda di Muerendah Payah.
"Waktu itu Belanda sedang berpatroli 17 orang. Ketika tiba di Meurendah Payah, mereka tidak menjumpai siapa-siapa. Karena hari sudah malam, mereka nggak pulang. Nah ketika itu lah Belanda diserbu," kata Teuku Rusli, cucu Cut Meutia menceritakan kejadian tersebut

Awalnya Belanda menginginkan agar Cik Di Tunong dihukum gantung. Namun melihat keperwiraan Cik Di Tunong, akhirnya Belanda memutuskan beliau dihukum tembak. Jangankan gentar, saat itu Cik Di Tunong sama sekali tak menunjukkan rasa takut, tak ada kata menyerah. Pada ujung hidupnya tersebut, bahkan ia sempat lantang mengibarkan semangat dan keteguhannya pada Cut Meutia.

"Besok saya akan dihukum tembak oleh Belanda. Bagi saya, itu tidak masalah. Bagi saya, ditembak mati di medan tempur atau tiang gantungan, itu sama saja, itu sama-sama peluru musuh. Lanjutkan perjuangan ini," tutur Teuku Rusli.

Papan di makan Cik Di Tunong @KapanLagi.com/adhibmujaddiPapan di makan Cik Di Tunong @KapanLagi.com/adhibmujaddi

Ada pula satu wasiat yang diucapkan Cik Di Tunong pada Cut Meutia. Ia meminta Cut Meutia agar tetap terus berjuang walau tanpanya. Namun Cik Di Tunong menyadari, Cut Meutia akan lebih baik jika didampingi oleh seorang suami. Oleh karena itu Cik Di Tunong berpesan agar Cut Meutia menikahi salah seorang sahabat seperjuang yang paling ia percaya, yakni Pang Nangroe. Selain itu, Cik Di Tunong berpesan agar Cut Meutia memastikan dia bisa menjaga anak mereka, Teuku Raja Sabi yang kala itu masih berusia lima tahun.

Cut Meutia yang waktu itu sedang hamil tua sempat menolak, ia tak ingin menikahi siapapun sepeninggal Cik Di Tunong. Namun desakan dan kepentingan yang lebih besar akhirnya membuat Meutia luluh. Ia mengiyakan wasiat tersebut. Cik Di Tunong pun akhirnya meninggal dieksekusi Belanda di tepi Pantai Lhokseumawe.

Tak lama setelah Cik Di Tunong meninggal, Cut Meutia melahirkan bayi kembar, namun keduanya meninggal. Cobaan tak henti-henti mendatangi beliau. Kemudian ia sempat merasakan kelumpuhan pada tubuhnya. Ia sempat berobat ke berbagai tempat dan masih tak kunjung sembuh. Kesembuhan itu akhirnya ia dapat setelah bertemu seoarang ulama yang bisa mengobatinya. Setelah itu lah akhirnya Cut Meutia mulai berpikir untuk melaksanakan wasiat Cik Di Tunong, menikahi Pang Nangroe.

Pesan itu disampaikan Cut Meutia kepada Pang Nanggroe melalui seorang ulama, yaitu Teungku Di Mata Ie. Pang Nangroe pun sempat menolak. Ia merasa dirinya tak pantas menikahi Cut Meutia, ia merasa tak sepadan dengan Cut Meutia, terutama dalam segi keturunan. Namun sumpah adalah sumpah. Demi menghargai almarhum dan meneruskan perjuangan, pernikahan itu pun akhirnya terjadi.

Seorang putra Aceh memandangi foto dan lukisan di kediaman Cut Meutia @foto: KapanLagi.com/adhibmujaddidSeorang putra Aceh memandangi foto dan lukisan di kediaman Cut Meutia @foto: KapanLagi.com/adhibmujaddid

Semangat Cut Meutia bangkit, bahkan mungkin berlipat-lipat. Pengikut Cik Di Tunong pun merapat pada pasangan pimpinan baru ini. Sejumlah tokoh Aceh lainnya juga berada di belakang mereka untuk mendukung. Belanda mulai was-was, sementara itu Cut Meutia dan pasukannya bersembunyi dari hutan ke hutan. Belanda pun kesulitan menemukan jejak para pejuang.

Kepanikan Belanda bisa dibilang sangat berlebihan. Mereka menelusuri jejak Cut Meutia dari desa ke desa. Masyarakat yang dianggap mencurigakan dan menutupi-nutupi keberadaan Cut Meutia pun diintimidasi dan dibakar rumahnya. Cut Meutia pun tak tinggal dia, ia langsung memberi respon. Serangan kembali digencarkan. Beberapa pos Belanda mereka gempur, tepatnya pada tahun 1910.

Belanda makin kebakaran jenggot melihat perlawanan besar para pejuang. Mereka pun membentuk pasukan yang dianggotai oleh perwira-perwira berpengalaman. Namun lagi-lagi mereka gagal. Pasukan Cut Meutia masih lebih gesit dan justru berhasil mencegat patroli-patroli pasukan Belanda. Para penjajah makin geram, karena selain gerakan mereka selalu digagalkan, persenjataan pasukan juga dirampas oleh para pejuang. Tentu saja pasokan senjata ini membuat pasukan Aceh makin kuat.

Melihat kekuatan pejuang yang makin berlipat, Belanda lagi-lagi menyiapkan strategi baru. Mereka mulai menyebarkan propaganda ke masyarakat Aceh dengan mengatakan bahwa Cut Meutia, Pang Nangroe dan pasukannya adalah kelompok pembuat onar. Siasat ini berhasil, sebagian masyarakat percaya dan mulai enggan mengirimkan pasokan logistik ke para pejuang.

Patung tangan Cut Meutia dan sebilah pedangnya @KapanLagi.com/adhibmujaddidPatung tangan Cut Meutia dan sebilah pedangnya @KapanLagi.com/adhibmujaddid

Hal ini tentu menjadi pukulan cukup telak bagi mereka. Cut Meutia dan pasukannya mulai terdesak walau masih sempat sesekali menyerang pos-pos Belanda. Namun sepak terjang Pang Nangroe akhirnya berakhir tepat pada 26 September 1910. Jejak Pang Nangroe berhasil dilacak oleh Sersan van Sloten dan pasukannya. Tepat pada malam hari, perang terbuka kembali meletus. Di pertempuran ini, satu peluru melesat menghujam dada Pang Nangroe.

Di ujung hayatnya, Pang Nangroe masih sempat berpesan pada Raja Sabi agar menyelamatkan diri bersama ibunya. Ia juga meminta Raja Sabi terus melanjutkan perjuangannya. Pang Nanggroe akhirnya meninggal. Jasadnya kemudian dimakamkan di samping Masjid Lhoksukon, Aceh Utara.

Setelah Pang Nangoe syahid, Cut Meutia berusaha bangkit dengan sisa-sisa pasukannya. Basis pertahanan dipindahkan ke daerah Gayo. Perlawanan tetap dilakukan oleh para pejuang dengan berbagai strategi. Salah satunya adalah memancing kedatangan Belanda dengan menyebarkan kabar ia akan menggelar kenduri di berbagai tempat. Begitu Belanda terpancing dan mendatangi tempat yang dimaksud, seketika pasukan Cut Meutia menyerang.

Pertempuran demi pertempuran pun mereka lewati. Semangat pantang menyerah walau ditinggal orang-orang terdekat sama sekali tak menyiutkan nyali. Namun Tuhan berkata lain, nampaknya kasih sayang-Nya terlalu besar pada Cut Meutia. Tepat pada bulan Oktober 1910, serangan Belanda berhasil membuat Cut Meutia terdesak. Ia akhirnya syahid bersama pengikut setianya. 3 peluru melesat ke tubuhnya, 1 mengenai kepala, dua lainnya bersarang di dada.

Menjelang nafas terakhirnya, Cut Meutia berpesan pada pengikutnya untuk mencari dan menjaga Raja Sabi yang waktu itu sempat terpisah darinya. Ia juga berharap para penerusnya terlebih dahulu mundur ke dalam sambil menyiapkan taktik lain mengingat Belanda makin kuat menekan.

Monumen Cut Meutia di dekat kediamannya @KapanLagi.com/adhbmujaddidMonumen Cut Meutia di dekat kediamannya @KapanLagi.com/adhbmujaddid

Atas segala jasa besarnya, pada tahun 1964 Pemerintah Indonesia akhirnya mengangkat Cut Meutia sebagai Pahlawan Nasional. Sementara itu, Wakil Presiden kita Mohammad Hatta kabarnya juga mengagumi Cut Meutia hingga menamai anak perempuannya Meutia. Tahun lalu, Pemerintah Indonesia juga memproduksi lembaran seribu rupiah bergambar wajah cantik pahlawan ini. Keputusan pemerintah ini ternyata memantik berbagai reaksi. Salah satu yang sempat ramai adalah protes sebagian masyarakat yang meyakini Cut Meutia harusnya menggunakan jilbab, tidak seperti yang ditampilkan di lembaran uang tersebut.

Isu tersebut akhirnya mulai redam dengan sendirinya begitu keturunan Cut Meutia memberi klarifikasi. Menurut mereka, pada zaman perjuangan, memang tidak ada jilbab. Wanita Aceh hanya menggunakan selendang tipis untuk menutup kepala. Jadi apa yang ada di lembaran uang tersebut sama sekali tidak penting untuk dipermasalahkan. Terlebih pemerintah sudah meminta izin secara langsung pada keluarga Cut Meutia.

Garis keturunan Cut Meutia. Aleta Molly, Teuku Rusli dan Dini Hari Usman dan keluarga. @KapanLagi.com/adhibmujaddidGaris keturunan Cut Meutia. Aleta Molly, Teuku Rusli dan Dini Hari Usman dan keluarga. @KapanLagi.com/adhibmujaddid

Tepat pada 22 Oktober lalu, keluarga besar Cut Meutia kembali berkumpul setelah sekian lama. Mereka menggelar acara Haul 107 tahun Cut Meutia di Lhokseumawe. Mereka datang dari berbagai kota, termasuk Banda Aceh dan Jakarta. Dalam rombongan terlihat juga Aleta Molly, seorang penyanyi muda. Ia ditemani oleh Sang Ibu, yakni Cut Dini Hari Usman dan beberapa sahabat lainnya, yakni Erevano dan Ozy Syahputra. Di acara itu pula masyarkat menyatakan harapannya agar akses jalan ke makam Cut Meutia diperbaiki. Hingga hari ini, akses memang sangat sulit. Jangankan mobil, sepada motor pun akan kesulitan mencapainya.

Begitu banyak inspirasi dan makna positif yang bisa dipelajari dan dihayati dari perjuangan Cut Meutia ini. Jelas sangat lebih arif tentunya bagi kita untuk meneruskan perjuangan ini daripada mempergunjingkan apakah Cut Meutia berhijab. Selamat Hari Pahlawan, hargailah para pahlawanmu. Rayakan kemerdekaan ini dengan karya!

(kpl/adb)

Editor:

Adhib Mujaddid



MORE STORIES




REKOMENDASI