Dulu Bangun Jam 3 Pagi Bantu Ibu Bungkus Nasi, Kini Jeni Adilasari Wujudkan Mimpi
Credit:istimewa
Kapanlagi.com - Jeni Adilasari, sejak usia belia, telah menunjukkan tekad kuat membantu keluarga di Bojonegoro. Setiap pukul tiga dini hari, ketika sebagian besar anak seusianya masih terlelap, ia membantu ibunya membungkus nasi untuk dijual. Beberapa bungkus tak hanya dititipkan ke warung, tetapi juga ia bawa sendiri ke sekolah untuk ditawarkan ke teman-temannya.
Hari-hari Jeni diwarnai perjuangan. Hidup tak pernah benar-benar memberi ruang untuk pilihan lain selain membantu. Sepulang sekolah, ia kerap tak menemukan ibunya di rumah. Hingga suatu sore, rasa penasaran membawanya bertanya pada tetangga. Jawabannya sederhana, namun membekas kuat di ingatannya, ibunya sedang "sekolah" di Mekaar.
Di lingkungan tempat tinggalnya, "sekolah" bukan berarti ruang kelas dengan papan tulis. Itulah istilah warga untuk menyebut Pertemuan Kelompok Mingguan (PKM), ruang belajar bersama ibu-ibu untuk mengelola usaha, keuangan, dan harapan. Dari situlah Jeni mulai memahami bahwa ibunya bukan sekadar berjualan, tetapi sedang berjuang membangun masa depan keluarga.
Advertisement
"Sejak itu saya punya tekad. Kalau ibu-ibu seperti ibu saya saja mau belajar dan berani bermimpi, saya ingin suatu hari bisa berdiri di samping mereka," kenang Jeni.
1. Jeni Punya Daftar Impian
Semangat Jeni tak pernah surut. Setelah lulus SMA, Jeni tak ragu melangkah mendaftar sebagai Account Officer (AO) PNM Mekaar. Program itulah yang membantu ibunya mendapatkan modal, belajar mengelola usaha, dan perlahan menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi keluarga mereka.
Lima tahun bergabung, Jeni bukan hanya menyaksikan perubahan pada nasabah-nasabah yang ia dampingi, tetapi juga pada dirinya sendiri. Ia menyimpan daftar impian, hal-hal yang dulu terasa mustahil dan satu per satu mulai tercentang. Dari membantu ekonomi keluarga, menjadi tumpuan bagi adik-adiknya, hingga mimpi yang paling ia simpan rapat yaitu menginjakkan kaki di Tanah Suci.
(Vidi Aldiano meninggal dunia setelah 6 tahun berjuang lawan kanker.)
2. Impian Jeni Terwujud di Tahun 2026
Impian itu akhirnya terwujud pada Januari 2026. Kini, setiap kali mendampingi para ibu dalam pertemuan mingguan, Jeni seperti melihat ulang potongan hidupnya sendiri. Di antara tawa, catatan kecil, dan cerita perjuangan, ia tahu satu hal, apa yang dulu ia lihat dari ibunya di bangku "sekolah", kini ia lanjutkan dengan membantu lebih banyak keluarga bertahan, tumbuh, dan berani bermimpi.
"Dari dulu saya selalu percaya, kalau kita menanam niat baik hal-hal baik semesta akan menemukan jalannya sendiri. Tugas kita cuma satu, konsisten berbuat baik walau perlahan," tambahnya.
(Lama tak terdengar kabarnya, komedian senior Diding Boneng dilarikan ke Rumah Sakit.)
(kpl/dyn)
Advertisement
