JILF 2026 Ditutup, Ajak Rawat Ruang Hidup lewat Sastra

Jakarta International Literary Festival (JILF) 2026
Kapanlagi.com - Jakarta International Literary Festival (JILF) 2026 resmi ditutup pada Minggu (25/10/2026) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Festival sastra bertema "Living Space | Ruang Hidup" ini berlangsung selama empat hari, sejak 22 Oktober 2026, dan menghadirkan 19 penulis Indonesia serta empat penulis mancanegara dalam program Bincang Kata (Authors' Forum).
Selain Bincang Kata, JILF 2026 menyuguhkan program Pasar Kata (Community Showcase), Baca Kata (Reading Night), Pentas Kata (Performance), Pasar Buku (Bazaar), dan Program Kolaborasi (Collaboration Program). Malam penutupan dimeriahkan pertunjukan musik Usman and The Blackstones, The Brandals, serta Yacko & Down for Life.
Direktur Eksekutif JILF 2026, Avianti Armand, mengucapkan apresiasi kepada para penulis, penikmat sastra, dan mitra komunitas yang memeriahkan festival. Ia berharap JILF 2026 bisa memberi asupan "gizi" pada khazanah sastra Indonesia. "Semoga empat hari ini bisa memberikan 'makanan sastra' yang bisa menjadi bekal kita sampai ke festival sastra berikutnya," kata Avianti pada malam penutupan.
Advertisement
Avianti menambahkan, JILF 2026 berupaya menjadi ruang perjumpaan sekaligus percakapan kritis, dengan keberanian untuk mempertanyakan ketimpangan, mendengarkan pengalaman berbeda, dan membuka ruang bagi suara yang kurang didengar. "JILF tidak boleh berhenti sebagai perayaan sastra selama beberapa hari saja, ia harus terus merawat ruang bagi cerita, ingatan, dan masa depan yang lebih adil," ujarnya.
1. Dukungan Pemerintah dan Pengelola TIM

Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Endah T. D. Retnoastuti, menyebut sastra sebagai bagian penting dari kekayaan ekspresi dan identitas bangsa yang menghadirkan pemikiran, imajinasi, serta dialog lintas budaya. "Penguatan sastra membutuhkan ekosistem yang saling mendukung, mulai dari penulis, penerbit, komunitas, festival, hingga lembaga kebudayaan nasional dan internasional," katanya.
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta bersama Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta (UP PKJ) TIM selaku penyelenggara ingin menghadirkan ruang bagi sastrawan, komunitas, dan masyarakat untuk berkarya dan berdialog. "Kami berharap Taman Ismail Marzuki terus menjadi ruang yang terbuka, inklusif, dan kolaboratif dalam memperkuat ekosistem sastra dan kebudayaan Jakarta menuju kota global yang berbudaya," ungkap Kepala UP PKJ TIM Harry Sanjaya.
Salah satu kurator JILF 2026, Usman Hamid, mengatakan tema "Living Space | Ruang Hidup" merupakan pernyataan politis, bukan sekadar abstraksi puitis. "JILF hadir dengan menyuarakan dan menjadi medium untuk mengingat pelbagai hal yang telah hilang atau dihilangkan: tanah air, tempat tinggal, ekosistem, dan juga hak untuk bersuara, untuk mengingat, menjadi berbeda, dan tetap tinggal," ujarnya. Dua kurator lainnya adalah Ibe S. Palogai dan Ratih Kumala.
Dalam catatan kuratorial, para kurator menyoroti kehilangan ruang hidup yang dialami masyarakat, termasuk kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera yang disebut mengancam sejarah dan kebudayaan. "Sastra dapat membuka pengalaman yang disingkirkan dari narasi dominan, serta mempertemukan sejarah yang selama ini dipisahkan. Namun, kemungkinan itu tidak menjadikan sastra dengan sendirinya emansipatoris," ungkap Ibe Palogai. Ratih Kumala menambahkan, "Festival ini menjadi kesempatan untuk mempertemukan beragam pengalaman dan sejarah, sekaligus menguji batas representasi, kemungkinan keterhubungan, serta tanggung jawab yang menyertai praktik bercerita."
2. Penulis Thailand Dorong Penerjemahan Karya
Veeraporn Nitiprapha, penulis asal Thailand yang menjadi salah satu pembicara, berharap ada alokasi sumber daya lebih banyak untuk penerjemahan karya sastra dari luar negeri. Hal yang sama, menurutnya, selalu ia minta kepada pemerintah Thailand karena proyek penerjemahan penting untuk membuat kita saling mengenal.
"Orang-orang terhubung oleh budaya, cerita, dan karya sastra. Saya selalu minta sama pemerintah saya untuk menerjemahkan supaya kita bisa saling mengenal lebih baik. Karena saat ini dunia tidak lagi sama. Kita harus saling mengerti lewat literatur," kata Veeraporn.
JILF 2026 didukung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Kementerian Kebudayaan, UP PKJ, Taman Ismail Marzuki, 500 Tahun Jakarta, JakPro, dan Sekolah Cikal. Produser pelaksananya adalah Yayasan Gudskul Kolektif.
Festival ini juga digandeng sejumlah Festival Friends, antara lain Amnesty International, Narabahasa, Karyakarsa, patjarmerah, Klub Baca Bianglala, Perpus Berjalan, Lentera Kata, dan Sedjarah Pakaian.
(Martha Tilaar meninggal dunia di usia 89 tahun.)
(kpl/jje)
Advertisement
D Academy 8
- Dangdut AcademyMimpi Sederhana Peserta DA, Pingin Fotonya Diedit Netizen











































