Judo Siap Ramah Muslimah? Ini Kata Menpora!

Senin, 22 Oktober 2018 07:14 Penulis: Iwan Tantomi
Judo Siap Ramah Muslimah? Ini Kata Menpora!
© Merdeka

Kapanlagi Plus - Didiskualifikasinya atlet judo Miftahul Jannah dari Asian Para Games 2018 memunculkan dilema. Di satu sisi, aturan adalah aturan dan tidak ada toleransi untuk penggunaan penutup kepala di arena judo. Sementara itu, prinsip dan keteguhan hati perempuan 21 tahun ini patut diacungi jempol. Berkat 'perjuangannya', mata dunia terbuka bahwa harusnya solusi dari permasalahan yang dihadapi oleh atlet-atlet judo muslimah yang berjilbab.

Dalam technical meeting, Penanggungjawab Judo Asian Para Games, Ahmad Bahar menegaskan bahwa atlet judo yang bertanding dilarang memakai penutup kepala, meski tidak menyebutkan kerudung atau jilbab. Hal ini berlaku dalam dunia judo internasional dan nggak ada toleransi bagi siapapun, termasuk Miftahul Jannah, sempat meminta keringanan.

Dilema ini pula yang ingin dipecahkan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi. Dirinya terlihat sangat dekat dan berusaha menjalin komunikasi dengan Miftah setelah tahu bahwa salah satu wakil Indonesia didiskualifikasi dan menutup peluang untuk menambah pundi-pundi medali Asian Para Games 2018.

Supaya nggak ada lagi kasus seperti yang dialami Miftah, pria asal Bangkalan, Madura ini berjanji untuk berjuang agar aturan tersebut lebih fleksibel sehingga judo semakin ramah dengan atlet-atlet muslimah.

"Kami akan menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk mendorong agar pemerintah merekomendasikan federasi judo internasional untuk mengubah poin-poin (aturan) di mana harus ada kelonggaran bagi atlet muslimah di judo untuk memakai penutup tetapi yang tidak membuat cedera atau bahaya," ujar Imam saat memberikan keterangan di MPC Asian Para Games, Arena GBK, Senayan, Jakarta, Selasa (9/10).

Judo, bagi Imam Nahrawi, bukan hanya soal menang-kalah. Lebih dari itu, ada nilai-nilai respek, solidaritas dan penghargaan terhadap prinsip-prinsip. Baik itu prinsip yang dimilik oleh Federasi Judo Internasional, serta para atlet-atletnya. Menurut Imam, Federasi Judo Internasional bisa memecahkan masalah ini dengan memunculkan desain jilbab khusus bagi olahraga judo.

"Ke depan juga kita minta nanti kepada federasi judo internasional untuk membuat regulasi yang lebih lentur, bagaimana jilbab yang memungkinkan cidera atlet itu dipikir ulang. Karena atlet dan cabor yang lain sudah melakukan hal itu seperti renang, taekwondo, pencak silat, karate, wushu dan seterusnya," pintanya.

Sementara Miftah sendiri enggan menjadikan masalah ini berlarut-larut. Perempuan yang memiliki kekurangan fisik pada penglihatan ini sadar bahwa tindakannya melanggar aturan yang berlaku. Tapi ada misi mulia di balik pengorbanannya didiskualifikasi dari arena judo Asian Para Games 2018, yaitu sebagai pembuka jalan agar ada solusi bagi dilema yang dihadapinya, serta jutaan atlet judo muslimah lainnya.

"Karena Miftah ingin mempertahankan prinsip untuk diri sendiri, dan temen-temen atlet muslim yang lainnya kalau bisa harus mempertahankan juga hijabnya," pungkas Miftah.

(kly/tmi)

Reporter:

Iwan Tantomi



MORE STORIES




REKOMENDASI