Kisah Atta Ul Karim, Pebisnis Karpet dengan Harga Sultan Langganan Para Selebriti

Selasa, 18 Agustus 2020 07:00
Kisah Atta Ul Karim, Pebisnis Karpet dengan Harga Sultan Langganan Para Selebriti
Atta Ul Karim © pribadi


Kapanlagi Plus - Meneruskan bisnis karpet milik sang ayah, Atta Ul Karim membuka Al-Barkat Carpets di Indonesia sejak tahun 2009. Dari yang awalnya hanya satu toko, kini tersebar di berbagai kota besar di Indonesia.

"Pertama kali ke Indonesia tahun 2009 untuk melanjutkan usaha orangtua saya. Awalnya cuma punya satu toko, sekarang alhamdulilah sudah ada 27 cabang di Bogor, Bandung, Medan, Surabaya dan lainnya," kata Atta ditemui di tokonya, kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu pekan lalu (15/8/2020).

1. Karpet Harga Sultan

Karpet yang dijual oleh pria kelahiran 1993 ini tidak main-main karena diimpor langsung dari beberapa negara di antaranya Turki, Iran, Afghanistan, Kazakhstan serta tentu saja kampung halamannya yakni Pakistan. Lantaran dirancang dari bahan berkualitas tak heran bila harganya dari jutaan hingga miliaran rupiah.

"Karpet-karpet dari negara berbeda, misalnya Iran ada yang handmade pakai tangan bahannya wool sama sutra. Itu yang bikin mahal, karena pakai tangan dan benangnya tipis, dalam satu inch ada 180 ikat disulam. Kalau pakai mesin yang bagus berbahan acrylic," kisah Atta.

"Karpet itu kan barang seni ya, jadi nggak ada batasan harga karena sama seperti lukisan. (Kisaran) harga ratusan juta sampai satu miliar juga ada. Berukuran besar dan motifnya seratus persen sutra," imbuhnya.

2. Langganan Selebriti

Karpet yang dijual oleh Atta Ul Karim rupanya sudah banyak jadi koleksi selebriti. Kebanyakan mereka mencari karpet yang tidak dimiliki oleh orang lain.

"Artis yang beli di sini banyak ada Ashanty, Tyas Mirasih, Titi Kamal, Nikita Willy, masih banyak lagi. Karena mereka artis, jadi sukanya yang orang lain nggak punya. Ibaratnya hanya dia aja yang punya motif itu. Lebih dicari yang unsur seni dan limited edition," pungkas Atta.

(kpl/abs/rsp)



MORE STORIES




REKOMENDASI