Korban Mimisan, Motivator Sempat Minta Maaf Cium Tangan Anak SMK yang Ia Tampar

Sabtu, 19 Oktober 2019 12:30 Penulis: Wulan Noviarina Anggraini
Korban Mimisan, Motivator Sempat Minta Maaf Cium Tangan Anak SMK yang Ia Tampar
Walikota Malang © KapanLagi.com/Darmadi Sasongko


Kapanlagi Plus - Jumlah siswa SMK Muhammadiyah 2 Malang yang menjadi korban pukulan oleh motivator Agus Setiyawan sebanyak 10 orang. Salah satu korban mengalami mimisan, sehingga baru 9 orang yang bisa dimintai keterangan.

"Dari 10 korban, yang membuat laporan polisi 9 orang, satu mimisan nanti kita cek kembali. Kalau memang yang bersangkutan sudah bisa membuat keterangan berita acara pemeriksaan saksi korban, kami akan sampaikan. Yang sudah bertanda tangan 9 orang, tim sidik masih melengkapi penyidikan," kata AKBP Doni Alexander, Kapolres Malang Kota, Jumat (18/10).
 
Doni mengatakan, korban sudah menjalani visum dan baru satu orang yang diketahui hasilnya. Satu korban mengalami luka di bibir sementara lainnya menyisakan lebam.

"Hasil visum masih satu, karena luka di bibir sisanya bekas lebam nanti akan kami sampaikan. Saya minta bersabar sehingga nanti bisa jelas," ungkapnya.

1. Motivator Minta Maaf

Sementara Nur Cholis, Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 2 Malang menceritakan, sesudah mengetahui kejadian tersebut mengumpulkan 10 anak yang menjadi korban kekerasan guna menceritakan kejadian tersebut. Setelah itu, Agus Setiyawan datang memenuhi panggilan sekolah dan bertemu anak-anak.

"Sudah minta maaf, semuanya sudah dimintai maaf, bahkan Pak Agus salim mencium tangan siswa. Sebenarnya menurut kami sudah kita maafkan, tetapi secara kelembagaan kan (tidak bisa begitu saja), namanya sudah viral juga. Otomatis dunia pendidikan tidak bisa terima ini," katanya.

Kata Nur Cholis, sebagai pribadi permintaan maaf itu bisa diterima, tetapi secara kelembagaan dan hukum diserahkan kepada pihak yang berwenang.

"Sehingga saya tidak bisa apa-apa, saya minta maaf, kalau secara pribadi saya maafkan tetapi secara kelembagaan kita tunggu saja. Sakit hatinya anak-anak tidak bisa cepat bisa terobati," katanya.

2. Di Luar Kendali

Nur Cholis menceritakan, setelah membuka acara seminar tersebut meninggalkan sekolah. Kegiatan didampingi seorang guru, karena proses pembelajaran masih tetap berlangsung seperti biasanya. Awalnya semua berjalan baik-baik, termasuk penyampaian testimoni dari sekolah lain dan mahasiswa.

"Ternyata yang terjadi di luar kendali kami. Kami harus rapat, guru-guru harus mengajar. Di sini hanya ada satu guru, kaprodinya, waktu itu juga melayani tamu," katanya.

Namanya anak-anak, melihat kesalahan ketik sedikit mungkin tertawa. Dan dalam situasi seperti itu, guru menyatakan bahwa tawa anak-anak tidak bisa disalahkan.

"Tetapi namanya motivator kan tidak boleh emosi, harus terkendali. Karena kita yakin motivator yang kita datangkan tidak ada yang seperti itu. Sehingga tidak ada pendampingan pun sebenarnya, tidak masalah, aman-aman saja," katanya.

3. Motivator Jadi Tersangka

Guru sekaligus operator yang menunggu kegiatan tersebut masih baru sehingga tidak memang belum mengetahui budaya kegiatan belajar di sekolah SMK. Sementara anak-anak masih bisa mengendalikan diri dengan situasi tersebut.

"Mungkin dia spontan memvideokan, karena merasa tidak tega atau bagaimana. Itu di luar kendali kita. Kita juga tidak bisa melarang anak-anak seperti itu. Saya tidak menyalahkan anak-anak, karena itu kondisi alami," katanya.

Agus Setiyawan atau Agus Piranhamas sendiri telah ditangkap di Surabaya dan statusnya ditetapkan sebagai tersangka. Agus dianggap melakukan penganiayaan anak di bawah umur.

Tersangka dijerat Pasal 80 Undang-Undang Nomor 34 tahun 2014, tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

(kpl/dar/phi)

Reporter:

Darmadi Sasongko



MORE STORIES




REKOMENDASI