Diterbitkan:
Kapanlagi.com - Manado tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga dengan kekayaan budayanya yang unik, terutama saat Lebaran tiba. Berbagai tradisi khas dijalankan oleh masyarakat Muslim di kota ini, mulai dari Tumbilotohe, Lebaran Ketupat, hingga Iwad yang sarat akan nilai kebersamaan dan toleransi. Setiap tradisi memiliki latar belakang historis dan makna yang mendalam bagi masyarakat setempat.
Salah satu yang paling mencolok adalah tradisi Tumbilotohe, yaitu malam pasang lampu yang dilakukan menjelang Idul Fitri, menghadirkan suasana magis di berbagai sudut kota. Selain itu, Lebaran Ketupat menjadi momen istimewa untuk berkumpul dan bersilaturahmi, bahkan merangkul keberagaman umat beragama. Tak ketinggalan, tradisi Iwad di Kampung Arab Manado juga menjadi sorotan, di mana warga saling mengunjungi dan memaafkan satu sama lain dengan penuh suka cita.
Dengan kombinasi antara aspek religius, sosial, dan budaya, perayaan Lebaran di Manado menjadi lebih dari sekadar perayaan keagamaan. Ini adalah momentum untuk mempererat persaudaraan, menjaga tradisi turun-temurun, dan menunjukkan bagaimana harmoni dapat terjalin di tengah keberagaman. Lalu, bagaimana detail dari masing-masing tradisi ini? Berikut informasinya.
Advertisement
Dilansir dari ANTARA, tradisi Tumbilotohe berasal dari budaya etnis Gorontalo dan Bolaang Mongondow, yang telah lama menetap di Manado. Tradisi ini berlangsung pada malam ke-27 Ramadhan hingga malam takbiran, di mana masyarakat memasang lampu di depan rumah dan di sepanjang jalan.
Lampu yang digunakan biasanya berupa lampu botol berisi minyak dengan sumbu, yang disusun dalam berbagai pola hiasan. Selain itu, beberapa warga juga menambahkan dekorasi gerbang dari batang tebu dan bunga-bunga untuk memperindah tampilan rumah mereka.
Selain memberikan suasana yang indah di malam hari, tradisi ini juga memiliki makna religius yang kuat. Tumbilotohe dipercaya sebagai bentuk penyambutan Lailatul Qadar, malam penuh berkah yang datang di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Tak hanya itu, tradisi ini juga memperkuat rasa kebersamaan karena dilakukan secara gotong royong oleh seluruh warga dalam menyongsong datangnya hari raya Idul Fitri.
(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)
Di Kabupaten Minahasa Tenggara, masyarakat Muslim juga memiliki tradisi memasang lampu menyambut Idul Fitri, yang dimulai sejak malam ke-27 Ramadhan. Tradisi ini diprakarsai oleh pemuda dan remaja masjid, yang berinisiatif untuk memeriahkan suasana hari H Lebaran.
Lampu yang digunakan merupakan kombinasi dari lampu hias, obor, dan lampu botol, yang dipasang di depan rumah, jalan-jalan, hingga trotoar. Pada malam hari, pemandangan ini menciptakan suasana yang semarak dan penuh kehangatan.
Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga simbol kerukunan antar umat beragama. Warga non-Muslim di daerah tersebut turut serta dalam kegiatan ini, menunjukkan bahwa kebersamaan tetap terjaga di tengah perbedaan keyakinan.
"Ini kombinasi lampu hias yang dipadukan dengan lampu botol serta obor. Nantinya ditempatkan di depan rumah maupun jalan trotoar sehingga pada malam hari kelihatan meriahnya," kata Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Minahasa Tenggara, Artly Kountur di Ratahan, merujuk ANTARA.
Advertisement
Seminggu setelah Idul Fitri, masyarakat di Manado merayakan Lebaran Ketupat, sebuah tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun. Pusat perayaan ini berada di Kelurahan Mahawu dan Ketangbaru, Kecamatan Tuminting, di mana masyarakat berkumpul untuk bersilaturahmi dan berbagi kebahagiaan.
Acara ini diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari makan bersama ketupat dan hidangan khas lainnya, hingga pentas seni dan budaya yang menampilkan tarian serta lomba menyanyi. Kemeriahan ini tidak hanya diikuti oleh warga Muslim, tetapi juga oleh masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan etnis.
Gubernur Sulawesi Utara bahkan pernah menyatakan bahwa Lebaran Ketupat adalah simbol nyata dari toleransi dan keberagaman yang menjadi ciri khas provinsi ini. Tradisi ini memperkuat ikatan sosial antar warga dan menjadi ajang rekreasi bagi keluarga besar yang hadir dari berbagai daerah.
Di Kampung Arab Manado, yang terletak di Kelurahan Istiqlal, Kecamatan Wenang, terdapat tradisi unik yang disebut Iwad. Tradisi ini berlangsung pada hari kedua Lebaran, di mana masyarakat berkeliling kampung untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan.
Silaturahmi dilakukan dengan cara mengunjungi rumah-rumah warga sambil diiringi musik rebana hadroh, menciptakan suasana yang penuh kegembiraan. Tidak hanya antarwarga, pejabat daerah seperti Gubernur Sulut dan unsur Forkopimda juga turut hadir dalam perayaan ini.
Tradisi Iwad mencerminkan nilai-nilai luhur dalam Islam, yaitu persaudaraan dan kebersamaan. Selain mempererat hubungan antarwarga, tradisi ini juga menarik perhatian wisatawan yang ingin melihat langsung keunikan budaya masyarakat keturunan Arab di Manado.
(Ayo ikuti saluran WhatsApp KapanLagi.com biar enggak ketinggalan update dan berita terbaru seputar dunia hiburan tanah air dan juga luar negeri. Klik di sini ya, Klovers!)
(kpl/frr)
Advertisement
Apa Saja Ciri-Ciri Penyakit Jantung pada Urine? Yuk Waspada, Ini Penjelasannya
Aktor Hollywood Val Kilmer, Rekan Main Tom Cruise dalam Film 'TOP GUN' Meninggal Dunia
Apa Itu Post-Holiday Bues Usai Libur Lebaran? Ini Gejala dan Cara Mengatasinya
Rendang hingga Opor, Ini Deretan Masakan Pelengkap Ketupat yang Wajib Ada saat Lebaran
Cara Memasak Rendang agar Daging Empuk dan Santan Tidak Pecah, Tips Sajian Matang Sempurna