#MakanMayit Viral, Ini Reaksi Kementerian Pemberdayan Perempuan

Selasa, 28 Februari 2017 14:05 Penulis: Ahmat Effendi
#MakanMayit Viral, Ini Reaksi Kementerian Pemberdayan Perempuan
©istimewa

Kapanlagi Plus - Baru-baru ini muncul satu karya seni kontroversial yang dibuat oleh seniman Natasya Gabriella Tontey. Ia membuat hidangan yang disajikan di atas boneka bayi dan dikemas dengan hashtag #Makanmayit. Selain itu ada pula jelly berwarna merah yang berbentuk janin bayi, serta sejumlah hidangan lain yang mirip otak dan bagian tubuh lain.

Hidangan tersebut membuat banyak orang tidak nyaman, protes pun silih berganti berdatangan. Tak hanya dari masyarakat umum, karya Natasya itu juga dikritisi oleh kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Sejatinya Natasya membuat karyanya sebagai bentuk protes dari praktik stem cell yang menurutnya mirip dengan tindakan kanibalisme dalam bentuk seni. Namun rupanya protesnya itu dikemas dengan cara yang tak bisa diterima oleh masyarakat umum sehingga banyak yang menganggap hidangan tersebut melewati batas kemanusiaan.

Terlebih karena hidangan yang disajikan Natasha sebagian menggunakan campuran ASI dan ekstrak keringat bayi. Banyak yang menganggap even ini bukan lagi suatu karya seni melainkan tindak psikopatik.

Sementara itu kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak beranggapan karya seni tersebut telah melanggar sejumlah norma di antaranya kesusilaan, kepatutan dan agama. Mereka membuat satu press release dan mengajak masyarakat untuk tidak menyebarluaskan konten tersebut.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, Yohana Yembise memberi pernyataan soal seni #MakanMayit yang sempat viral di sosial media. ©kemenpppa.go.idMenteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, Yohana Yembise memberi pernyataan soal seni #MakanMayit yang sempat viral di sosial media. ©kemenpppa.go.id

PRESS RELEASE

Menteri PPPA : Karya Seni #MakanMayit Langgar Norma Kesusilaan

Siaran Pers Nomor: B- 008/Set/Rokum/MP 01/02/2017

Jakarta (27/02) – Belakangan marak diperbincangkan di media sosial terkait karya seni dari seniman muda Indonesia, yang mengusung tajuk #makanmayit. Karya seni yang didalangi oleh Natasha Gabriella Tontey ini, menampilkan makanan berbentuk tubuh bayi dan otak bayi yang dibuat dari ASI (Air Susu Ibu) dan juga keringat ketiak bayi. Makanan tersebut kemudian disuguhkan dalam suatu gelaran pameran di Footurama Jakarta pada bulan Januari 2017 kemarin.

“Hal ini sangat disayangkan, karya seni anak bangsa seharusnya merupakan ekspresi dari kreativitas yang diciptakan dan mengandung unsur keindahan bukan yang justru melanggar norma kesusilaan, kepatutan, dan agama. Negara ini melindungi anak-anak Indonesia sejak mereka masih dalam kandungan. Hal tersebut tidak tercermin dalam karya seni ini”, tutur Yohana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA), menanggapi fenomena tersebut.

Disamping itu penggunaan ASI dan keringat ketiak bayi yang dimasukan ke dalam bahan makanan merupakan suatu hal di luar akal sehat dan tidak lazim untuk dilakukan. ASI bukanlah konsumsi bagi orang dewasa. “Penyalahgunaan ASI melalui karya seni yang disebarluaskan melalui pesan visual ini sangat rentan memberikan dampak negatif bagi masyarakat karena sesuatu yang tidak lazim jika digunakan akan menimbulkan protes di masyarakat,” terang Menteri Yohana.

“Belum lagi dampak bagi anak-anak kita yang melihat pesan visual ini melalui media sosial. Bukan hal yang mustahil anak-anak akan meniru perilaku tersebut”, tambahnya.

Menyikapi fenomena ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menghimbau kepada masyarakat untuk tidak menyebarluaskan kembali karya seni ini di media sosial. Dengan menyebarluaskannya maka kita telah berkontribusi dalam penyebarluasan konten yang negatif bagi anak-anak.

Setiap orang berhak mengembangkan diri dan dijamin dalam pasal 28 c UUD 1945 ayat 1 namun tidak bertentangan dengan norma kepatutan dan nilai-nilai hidup dalam masyarakat.

“Kami juga mendesak kepolisian untuk menindaklanjuti kasus ini karena karya seni ini telah melanggar norma kesusilaan, kepatutan, agama dan bila terbukti melanggar UU akan dikenakan Pasal 27 ayat 1 Undang- Undang ITE dan pasal 282 ayat 3 KUHP kesusilaan”, imbuh Menteri Yohana.

Adanya kasus ini memungkinkan munculnya modus penjualan organ tubuh yang termasuk ke dalam bentuk perdagangan orang di Indonesia. Hal ini mengingat sudah banyak kasus serupa terjadi di luar negeri. 

(prl/sjw)

Editor:

Ahmat Effendi



MORE STORIES




REKOMENDASI