Masjid Rancangannya Disebut Iluminati, Ridwan Kamil Buka Suara

Senin, 10 Juni 2019 20:45 Penulis: Guntur Merdekawan
Masjid Rancangannya Disebut Iluminati, Ridwan Kamil Buka Suara
Ridwan Kamil dan Masjid Al Safar © Istimewa


Kapanlagi Plus - Reporter: Aksara Bebey/Merdeka.com

Sebelum jadi politikus, Ridwan Kamil merupakan seorang arsitek yang popularitasnya sudah dikenal luas. Belum lama ini, Kang Emil mengenalkan sebuah mahakarya terbarunya, yakni Masjid Al Safar yang terletak di Rest Area KM 88 Tol Cipularang.

Belum lama dikenalkan, Masjid yang dirancang oleh Kang Emil itu langsung jadi sorotan. Bagaimana tidak, ada beberapa pihak yang menuding jika desain dari masjid Al Safar penuh dengan pesan atau simbol illuminati.

Dilansir dari Merdeka.com, salah satu sosok yang melayangkan tuduhan tersebut adalah seorang ustaz bernama Baequni. Untuk meluruskan masalah, Kang Emil pun lantas mengajak Ustaz Baequni untuk bertemu dang diskusi langsung. Perbincangan mereka dilakukan di Gedung Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Bandung. Sementara itu, Ahmad Syafei selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga hadir sebagai penengah.

1. Pembelaan Kang Emil

Kang Emil tentunya tak terima jika masjid rancangannya yang kental dengan bentuk segitiga dituding melambangkan illuminati. Menurutnya, banyak masjid-masjid besar lain yang juga menerapkan konsep serupa.

"Kenapa Al Safar (dipermasalahkan)? Masjid Raya Jakarta masuk mihrabnya segitiga, kenapa tidak heboh? Mungkin karena arsiteknya bukan Ridwan Kamil," buka Kang Emil.

2. Disebut Anak Dajjal

Berbagai tudingan miring pun sempat berdatangan untuk Kang Emil. Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai anak Dajjal cuma karena rancangan masjidnya. Mendengar hal itu, Ibu Kang Emil sampai nangis.

"Saya hanya ingin menunjukkan, kita harus proporsional. Ibu saya sedih, saya disebut anak dajjal. Kalau mau adil, bahas satu-satu. Mihrab di Majid Nabawi ada segitiganya. Apakah ini konspirasi? Wallahualam. Intinya jangan menghakimi dulu. Pulang dari sini mau paham atau tidak paham, saya tidak masalah," sambung pria berusia 47 tahun itu.

Pria yang akrab disapa Emil ini menyatakan, semua kegaduhan tentang dugaan iluminati itu tidak terlepas dari adanya perbedaan persepsi. Segitiga menurut pemahamannya sebagai seorang arsitek tentang geometris tidak sama dengan pihak lain.

3. Komentar Pihak MUI

Sementara itu, Ketua MUI Jabar, Rahmat Syafei mencoba bersifat netral dalam perdebatan ini. Menurutnya, perbedaan pandangan, selama tidak menyimpang dalam asas akidah, bisa diselesaikan dengan saling menghargai. Adapun wacana fatwa tentang bentuk masjid, dia sebut tidak perlu dibahas. Kalaupun mau, harus dikaji dengan waktu yang lama.

"Yang berkaitan dengan perbedaan pandangan adalah toleransi," ujar Rahmat Syafei.

(mdk/gtr)



MORE STORIES




REKOMENDASI