Nggak Perlu Takut ke Rumah Sakit saat Pandemi, Asal…
credit: Merck Indonesia
Kapanlagi.com - Selama pandemi, orang-orang memang diharapkan lebih banyak beraktivitas di rumah. Nggak heran jika mungkin kamu juga membatasi bepergian di tengah pandemi. Selain itu, beberapa tempat pun banyak dihindari, karena dianggap memiliki risiko penularan. Termasuk salah satunya adalah rumah sakit.
Meski begitu, kamu mungkin perlu datang ke rumah sakit sekali waktu, baik saat pandemi maupun masa new normal. Inilah pentingnya, kenapa kamu nggak perlu sampai merasa takut datang ke rumah sakit di masa sekarang. Sebab, dengan mengikuti protokol kesehatan yang diterapkan, nggak masalah datang ke rumah sakit jika sedang ada keperluan.
Hal inilah yang disampaikan oleh dr. Anis Karuniawati, Ph.D, SpMK(K) (Head of Global Vaccine & Plasma Segment, Bioprocessing, Process Solutions, Merck Life Science) dalam Merck Life Festival. "Takut boleh, karena kalau nggak takut kita nggak bisa berhati-hati," ungkapnya.
Advertisement
Lebih lanjut, dr Anis juga menyampaikan, risiko penularan di rumah sakit memang ada. Penularan penyakit yang terjadi di fasilitas kesehatan biasa disebut dengan nosocomical infection atau infeksi nosokomial.

"Apa sebenarnya infeksi nosokomial ini? Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang didapatkan pasien saat sedang berada di rumah sakit. Namun, seiring perkembangannya infeksi nosokomial ini juga bisa diartikan sebagai infeksi yang didapatkan pasien ketika dirawat di pelayanan kesehatan lainnya, seperti panti jompo maupun puskesmas. Infeksi nosokomial ini bisa dialami pasien setelah perawatan lebih dua hari, atau bagi pasien operasi, infeksi nosokomial juga bisa terjadi setelah 30 hari perawatan pasca operasi," ungkap dr Anis.
Adapun infeksi nosokomial bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Menurut dr Anis, keberadaan mikroba seperti bakteri sangat memengaruhi, baik yang ada dalam tubuh, di luar tubuh, maupun yang berasal dari penggunaan anti-mikroba. Selain itu, kerentanan pasien juga berpengaruh. Pasien bayi dan manula, dengan status imun yang rendah seperti malnutrisi, punya penyakit kronik juga rentan mengalami infeksi nosokomial.

"Begitu juga dengan faktor lingkungan. Di sinilah pentingnya menjaga sanitasi dan higienitas baik antar pasien, tenaga kesehatan, hingga pengunjung di fasilitas kesehatan, termasuk makanan dan minuman, tempat tidur, hingga udara, untuk meminimalkan terjadi infeksi nosokomial di rumah sakit," jelas dr Anis.
Bukan itu saja, dr Anis juga menjelaskan jika ruangan yang terkontaminasi dapat menyebabkan pasien di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lebih mudah terkena infeksi nosokomial. Hal ini bisa terjadi karena bakteri pada tubuh pasien menempel pada permukaan di sekitar pasien, bakteri kemudian hidup dan bertahan pada permukaan, bakteri pada permukaan mengontaminasi benda dan orang atau pasien lain, bakteri berpindah dari satu orang ke orang lain, bakteri dari pesien rawat sebelum ke pasien rawat berikutnya. Maka, semakin rendah jumlah bakteri dalam lingkungan, semakin rendah pula risiko terjadinya infeksi.
"Umumnya infeksi nosokomial sering terjadi pada infeksi saluran kemih pada penggunaan kateter urin, infeksi aliran darah, pneumonia pada penggunaan ventilator, serta infeksi daerah operasi. Infeksi nosokomial jarang terjadi pada infeksi kulit dan jaringan lunak, gastroenteritis, sinusitis, konjungtivitis, hingga endometitris setelah melahirkan," imbuh dr Anis.

Lantas, apakah Covid-19 juga bisa menjadi penyebab terjadinya infeksi nosokomial? Menurut dr Anis Covid-19 bisa menular dengan dua cara. Pertama dari droplet dari bersin, batuk atau bicara sesorang yang memiliki gejala saluran napas dengan jarak 1 meter. Ini disebut sebagai kontak langsung. Kemudian, Covid-19 juga bisa menyebar lewat fomite pada benda di sekitar pasien yang tercemar virus. Ini disebut sebagai kontak tak langsung.
"Hasil studi di 10 rumah sakit di Inggris dan 1 rumah sakit di Italia menyebutkan jika lama rawat inap bisa berisiko menyebabkan terjadinya nosocomial Covid-19. Selain itu, kejadian di sebuah rumah sakit besar di AS diketahui jika 1 dari 12 pasien Covid-19 yang swab positif pada hari ke-15 juga mengalami infeksi nosocomial," jelas dr Anis.

Nah untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial ini pihak rumah sakit sebenarnya telah menerapkan protokol kesehatan ketat, sehingga kamu tak perlu takut berkunjung saat harus datang ke rumah sakit.
"Kuncinya adalah patuhi segala aturan yang ada di rumah sakit, termasuk protokol kesehatan yang berlaku saat ini. Seperti cuci tangan menggunakan sabun sampai bersih, minimal selama 20 detik, setiap kali datang ke rumah sakit untuk mencegah terjadinya penularan di permukaan atau fomite. Gunakan masker standar untuk mencegah terjadinya penularan mikroba, baik yang melalui droplet seperti Covid-19, maupun udara atau airborne. Selain itu, cukup satu orang yang mengantarkan ke rumah sakit, tak perlu rombongan. Kalau semua langkah tersebut bisa dijalankan, terjadinya infeksi nosokomial pun bisa diminimalkan," pungkas dr Anis.
Sebagai tambahan informasi, acara Merck Life Festival merupakan sebuah festival sains dan kesehatan yang diadakan secara virtual pada 12 Desember 2020 oleh Merck Indonesia. Selain dr. Anis Karuniawati, Ph.D, SpMK(K) Merck Life Festival juga menghadirkan berbagai pembicara lain yang mengulas perubahan dan dinamika yang terjadi dalam ranah sains dan kesehatan, serta dampaknya terhadap berbagai aspek kehidupan manusia.

Termasuk salah satunya adalah Menristek Indonesia Prof. Bambang P. S. Brodjonegoro, Ph.D yang turut memberikan sambutan. "Indonesia memiliki visi untuk keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah di tahun 2035 dan menjadi negara maju di tahun 2045. Untuk mendorong terwujudnya ekosistem inovasi yang kondusif, dibutuhkan sinergi triple helix antara akademisi, pemerintah, dan industri, untuk mendorong inovasi yang diciptakan untuk dapat dihilirisasi masyarakat dan menjadi penggerak sendi-sendi perekonomian."
(Vidi Aldiano meninggal dunia setelah 6 tahun berjuang lawan kanker.)
(kly/tmi)
Advertisement
