Opening Ceremony Festival Crossborder Sota 2019, Tampilkan 4 Tarian Daerah Fantastis

Sabtu, 15 Juni 2019 08:58 Penulis: Wuri Anggarini
Opening Ceremony Festival Crossborder Sota 2019, Tampilkan 4 Tarian Daerah Fantastis
©Kemenpar

Kapanlagi Plus - Bicara soal potensi wisata yang dimiliki Indonesia memang seolah nggak ada habisnya. Nggak heran jika banyak wisatawan yang berkunjung ke tanah air untuk menikmati berbagai destinasi yang dimiliki. Selain itu, euforia kemeriahan festival khas suatu daerah juga memberikan daya tarik tersendiri. Seperti Festival Crossborder yang sedang sering diagendakan pemerintah buat menarik kunjungan wisatawan di batas negara.

Yang paling baru di tahun ini adalah Festival Crossborder Sota 2019 yang diselenggarakan di Merauke. Opening ceremony-nya berlangsung meriah banget karena banyak atraksi yang disajikan. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah aksi para penari dari Sanggar Daho Kehe yang fantastis.

Sanggar asal Merauke itu mampu membuat penonton mendekat. Daho Kehe membawakan 4 tarian sekaligus. Menariknya Daho Kehe menampilkan 4 tarian sekaligus. Dan semuanya berada dalam satu tema. 4 tarian itu dibawakan dalam satu tema.

Sebagai pembuka, ditampilkan Tari Berburu. Dalam tarian ini, para penari pria tampil menggunakan replika panah, lengkap dengan busurnya. Tarian ini menjadi penyambut para tamu yang hadir. Seperti Wakil Bupati Merauke Sularso, juga unsur CIQS. Para penari digambarkan sedang mencari hewan buruannya.

Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional III Kementerian Pariwisata Muh Ricky Fauziyani, memgatakan budaya adalah kelebihan Papua.

“Atraksi budaya Papua, seperti tari-tarian, selalu mampu menarik minat wisatawan. Dan terbukti kali ini tarian Papua juga bisa membuat para pengunjung tertarik. Apalagi kali ini ada pesan yang disampaikan dalam tarian itu,” papar Ricky.

Selain Tari Berburu, Sanggar Daho Kehe juga menampilkan Tari Mambri. Dalam sesi ini, masuk sejumlah penari lain membawa tombak. Tak lama kemudian, dua kelompok ini bertemu. Mereka terlibat dalam Tari Perang.

Mereka digambarkan terlibat peperangan. Namun kedua belah pihak sama-sama menjadi korban. Kemudian, masuklah penari wanita. Mereka mengobati dan berdoa untuk kedua pihak. Setelah para penari pria bangun, senjata-senjata yang ada kemudian dilucuti. Penari pria dan wanita pun sama-sama menari Sajojo.

“Makna yang ada dalam tarian sangat luar biasa. Mengajarkan kebersamaan. Cara penyampainnya sangat luar biasa. Atraksi ini membuat pembukaan Festival Crossborder Sota 2019 menjadi spesial,” papar Ricky.

Sedangkan Wakil Bupati Merauke Sularso mengaku sangat senang dengan adanya event ini. Untuk itu, Sularso menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pariwisata.

“Saya sangat berterima kasih buat Kemenpar. Karena sentuhan dan kebijakan Kemenpar menyentuh Merauke. Juga telah mengangkat potensi yang ada di Merauke. Kegiatan ini sudah dirancang jauh-jauh hari. Di samping seni budaya, semua potensi diangkat. Kita perlihatkan kita punya budaya unggulan, budaya Marin Anim. Kita akan padukan dengan budaya tetangga, Papua Nugini,” katanya.

Sularso menjelaskan, Merauke telah menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan. Sektor untuk meningkat perekonomian masyarakat. Juga untuk mendatangkan wisatawan.

“Pariwisata bisa untuk percepatan pembangunan. Hal itu sesuai visi presiden dan bupati. Kita harus bersama-sama memajukan Merauke melalui pariwisata,” katanya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, memberikan apresiasinya atas pembukaan Festival Crossborder Sota 2019.

“Event ini mempunyai banyak makna. Pertama mengangkat potensi yang ada di Merauke. Kedua mendatangkan wisatawan asal Papua Nugini,” papar Mantan Dirut PT Telkom itu.

Dijelaskannya, crossborder menjadi senjata pamungkas untuk memenuhi target kunjungan wisatawan.

(*/wri)

Editor:

Wuri Anggarini



MORE STORIES




REKOMENDASI