Penanganan Lonjakan Covid-19 Jadi Prioritas, Begini Sinergi yang Dilakukan Rumah Sakit dan Pemerintah

Kamis, 17 Juni 2021 08:00 Penulis: Wuri Anggarini
Penanganan Lonjakan Covid-19 Jadi Prioritas, Begini Sinergi yang Dilakukan Rumah Sakit dan Pemerintah
(c) Shutterstock

Kapanlagi Plus - Lonjakan kasus Covid-19 mulai terlihat pasca libur lebaran. Beberapa daerah mulai melaporkan kenaikan angka kasus Covid-19 yang ditandai dengan peningkatan keterisian tempat tidur atau BOR (Bed Occupancy Rate) yang terjadi di sejumlah rumah sakit yang ada di berbagai daerah. Angka ini diperkirakan terus meningkat di minggu-minggu berikutnya. Menurut catatan libur panjang sebelumnya, yaitu Natal, Tahun Baru, Idul Fitri dan libur panjang lainnya, kenaikan ini akan mencapai puncaknya pada 5-7 minggu setelah momen liburan tersebut. 

Menurut Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) dr. Lia G. Partakusuma, SpPK(K), MM, MARS, pengalaman yang telah terjadi sebelumnya memperlihatkan semakin tinggi jumlah kasus positif Covid-19 akan mempengaruhi semakin tingginya persentase pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. 

“Belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa rata-rata 20% dari total pasien positif COVID-19 itu perlu dirawat di rumah sakit, dan 5% diantaranya harus dirawat di ruangan isolasi,” terang dr. Lia. 

Setiap rumah sakit memang memiliki kapasitas tempat tidur yang berbeda, tergantung jenis dan lokasinya. Beberapa provinsi memiliki jumlah rumah sakit dengan kapasitas tempat tidur lebih besar jika dibandingkan dengan provinsi lainnya. 

“Sebagai contoh DKI Jakarta, terjadi kenaikan BOR, namun jumlah tempat tidur di Jakarta cukup banyak. Kenaikan belum sampai 70%, jadi kelihatannya belum overload. Namun memang di beberapa daerah lainnya, seperti Kudus dan Bangkalan, rumah sakit disana tidak besar kapasitasnya. Begitu terjadi lonjakan kasus, rumah sakit tidak lagi mampu menampung pasien,” jelas dr. Lia. 

dr. Lia menambahkan bahwa semua rumah sakit yang menjadi anggota PERSI menerapkan anjuran Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan kapasitas tempat tidur untuk pasien Covid-19. 

“Jika BOR-nya telah terisi lebih dari 80% dari peruntukan untuk COVID-19, maka kapasitas akan ditambah lagi menjadi 40%. Dan 25% dari tempat tidurnya harus menjadi ICU khusus ruang isolasi COVID-19. Saat ini memang datanya terus bergerak, setiap rumah sakit harus mempelajari ini, dan harus bergerak cepat serta bekerja sama jika terjadi lonjakan kasus,” kata dr. Lia. 

Rumah sakit anggota PERSI yang memiliki kapasitas tempat tidur tidak banyak juga memberikan laporan jika pasiennya sudah mulai membludak. Antrian di IGD mulai panjang, termasuk rumah sakit yang ada di Jakarta. 

“Karena pasien harus di skrining terlebih dahulu, dilakukan tes COVID-19. Pada saat menunggu hasil tes, ini yang menyebabkan antrian pasien menjadi panjang. Hal ini sebenarnya tidak kita inginkan. Kita maunya pasien cepat masuk, dan cepat juga keluar. Agar tidak berkerumun di Rumah Sakit,” ujar dr. Lia. 

Jika kapasitas rumah sakit sudah tidak mencukupi, langkah rujukan akan diambil oleh rumah sakit. “Tapi tidak semua pasien bersedia dirujuk. Malah ada yang akhirnya menolak dirawat. Ini kan sebetulnya tidak boleh, apalagi dalam kondisi wabah seperti sekarang ini,” ungkap dr. Lia. 

Kondisi seperti inilah yang membuat sinergi rumah sakit dan pemerintah sangat dibutuhkan. Menurut dr. Lia, setiap rumah sakit pasti memiliki titik batas dari sisi tempat tidur, obat-obatan, APD dan tenaga kesehatan. 

“PERSI telah mengeluarkan edaran agar anggota kami saling berkoordinasi satu sama lain dalam mempersiapkan tempat tidur, SDM, logistik, obat-obatan, serta berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Semoga masyarakat bisa memahami bahwa kemampuan rumah sakit itu memiliki batas, sehingga tidak lalai dalam menjalankan protokol kesehatan,” himbau dr. Lia. 

dr. Lia mengungkapkan saat ini komunikasi antara rumah sakit dan pemerintah dalam upaya penanganan Covid-19 sudah berjalan cukup baik. 

“Data sudah mulai terintegrasi dan diumumkan secara berkala oleh Satgas COVID-19. Kemenkes juga rutin melakukan briefing untuk menyampaikan update situasi terkini. Sehingga kami dari PERSI dapat meningkatkan kesiagaan dan tahu bagaimana untuk bertindak. TNI dan POLRI juga sangat membantu dalam pelaksanaan di lapangan. Semoga sinergi baik ini terus terjaga dan dapat terus kita tingkatkan bersama,” ungkap beliau. 

Yang tidak kalah penting, peran aktif masyarakat juga dibutuhkan dalam upaya penanganan pandemi Covid-19 ini. Tidak semua rumah sakit dan daerah memiliki kapasitas tempat tidur yang cukup banyak untuk pasien Covid-19. 

“Masyarakat diharapkan agar dapat tetap menjaga protokol kesehatan dan melaksanakan himbauan Pemerintah untuk vaksinasi. Karena semakin banyak masyarakat yang positif COVID-19, maka kebutuhan rawat inap di rumah sakit juga akan semakin meningkat. Jika kapasitas rumah sakit penuh, akan membuat kepanikan. Rumah sakit juga akan semakin sulit untuk membantu pasien,” tutup dr. Lia

 

(*/wri)

Editor:

Wuri Anggarini



MORE STORIES




REKOMENDASI