Penelitian Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur Ungkap Rendahnya Pemahaman Teks Bahasa Inggris Gen Z
Univeristas Muhammadiyah Kalimantan Timur / partnership
Kapanlagi.com - Penelitian berjudul 'Students Reading Comprehension of English Textual Literacy Among Zillenial Generation' yang dilakukan oleh Yeni Rahmawati, Khusnul Khatimah, Dzul Rachman, Sunarti, selaku para dosen Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), berangkat dari realitas bahwa pembelajaran membaca bahasa Inggris masih menjadi tantangan bagi banyak siswa. Dalam wawancara, Yeni menjelaskan bahwa membaca teks berbahasa Inggris, baik melalui kegiatan membaca nyaring (reading aloud) maupun membaca untuk pemahaman (reading for comprehension), tidak semudah membaca teks berbahasa Indonesia.
Kondisi tersebut mendorong banyak penelitian yang mengkaji tingkat pemahaman bacaan siswa dan efektivitas strategi membaca. Namun, menurut Yeni, penelitian yang secara khusus menggambarkan kondisi aktual pemahaman bacaan Generasi Z masih sangat terbatas. Padahal, generasi ini dituntut memiliki tingkat literasi yang tinggi karena sebagian besar masih berada pada jenjang pendidikan menengah.
"Oleh karena itu, penelitian deskriptif yang menggambarkan kemampuan membaca mereka penting untuk dilakukan," ungkapnya.
Penelitian ini juga bertujuan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pemahaman bacaan siswa. Para peneliti menyoroti pesatnya perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, yang memberi kemudahan akses informasi sekaligus memunculkan tantangan baru. Kemudahan tersebut berpotensi membentuk kebiasaan memperoleh informasi secara instan.
Advertisement
"Kondisi ini dapat membuat sebagian siswa lebih memilih cara praktis dibandingkan menelusuri informasi melalui proses membaca mendalam," jelas Yeni.
1. Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memiliki literasi tekstual bahasa Inggris, namun tingkat pemahamannya masih rendah. Kemampuan literasi bahasa Inggris Generasi Z secara umum belum berkembang optimal. Siswa cenderung kesulitan memahami dan menafsirkan informasi dari teks berbahasa Inggris, terutama pada teks dengan tingkat kesulitan menengah hingga tinggi. Pemahaman terhadap makna implisit, gagasan utama yang kompleks, serta informasi yang membutuhkan penalaran mendalam masih menjadi kendala utama.
Peneliti menegaskan bahwa temuan ini sejalan dengan hasil studi internasional seperti PISA yang menunjukkan bahwa tingkat literasi membaca siswa Indonesia masih tergolong rendah. Temuan tersebut memperkuat urgensi peningkatan kemampuan literasi membaca, khususnya literasi tekstual bahasa Inggris.
"Upaya ini memerlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari sekolah, pendidik, orang tua, hingga pemanfaatan teknologi secara bijak," ujarnya.
Bagi guru, dosen, dan praktisi pendidikan, hasil penelitian ini menjadi gambaran nyata kesenjangan antara tuntutan literasi abad ke-21 dan kemampuan aktual peserta didik. Peneliti menekankan pentingnya penerapan strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang tepat. Upaya sederhana seperti mengoptimalkan pojok baca dengan menyediakan teks yang sesuai dengan kemampuan dan minat siswa, serta melibatkan orang tua dalam membangun budaya membaca di rumah, dapat menjadi langkah awal yang efektif.
Di jenjang pendidikan tinggi, temuan ini juga menjadi perlunya penyegaran metode pembelajaran membaca yang inovatif dan kontekstual. Strategi membaca yang variatif, interaktif, dan relevan dengan kehidupan siswa diharapkan mampu meningkatkan minat membaca.
"Proses membaca seharusnya tidak dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sarana untuk mengembangkan cara berpikir, sehingga pendekatan pembelajaran perlu bergeser dari sekadar berorientasi pada hasil menuju proses yang menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, inferensial, dan reflektif," jelas peneliti.
Sebagai penutup, Yeni mewakili para peneliti menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak secara otomatis menjamin peningkatan kemampuan literasi membaca. Membaca perlu dipahami sebagai kebiasaan dan proses berpikir yang dibangun secara sadar, konsisten, dan kolaboratif.
"Penelitian ini mengajak pendidik, orang tua, dan pemangku kepentingan pendidikan untuk menumbuhkan budaya membaca yang mendalam dan berkelanjutan, dengan memanfaatkan teknologi secara bijak sebagai pendukung, bukan pengganti proses literasi," pungkasnya.
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
(Lama tak terdengar kabarnya, komedian senior Diding Boneng dilarikan ke Rumah Sakit.)
(kpl/jje)
Advertisement
