CLOSE

Perjalanan Sejarah HUT PGRI 2024, dari Perjuangan Guru pada Masa Penjajahan ke Kemerdekaan

Perjalanan Sejarah HUT PGRI 2024, dari Perjuangan Guru pada Masa Penjajahan ke Kemerdekaan
HUT PGRI ke-70 di SUGBK, Jakarta, Minggu (13/12/2015). (Credit: Liputan6.com/Johan Tallo)

Kapanlagi.com - Setiap 25 November, kita merayakan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (HUT PGRI) yang bertepatan dengan Hari Guru Nasional. Momen istimewa ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga sebuah pengingat akan perjalanan panjang para guru Indonesia, mulai dari masa penjajahan hingga meraih kemerdekaan. PGRI bukan hanya sekadar organisasi, melainkan simbol semangat kebangsaan dan tonggak sejarah penting dalam dunia pendidikan tanah air.

Sejarah PGRI dimulai pada tahun 1912, saat berdirinya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB), sebuah organisasi yang memperjuangkan hak-hak para guru pribumi. Perjalanan panjang yang dilalui oleh organisasi ini mencerminkan tekad dan keberanian para guru dalam memperjuangkan posisi mereka di tengah tantangan penjajahan.

Puncaknya terjadi pada 25 November 1945, tepat seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, saat Kongres Guru Indonesia di Surakarta melahirkan PGRI. Semangat "merdeka" yang berkobar saat itu menjadi landasan bagi para guru untuk bersatu dalam memperjuangkan pendidikan dan kemajuan bangsa.

1. Awal Perjuangan: Lahirnya PGHB di Era Kolonial

Di tahun 1912, gelora semangat kebangsaan mulai menggema di hati para guru pribumi melalui lahirnya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Organisasi yang bersifat unitaristik ini menyatukan beragam profesi guru, mulai dari Guru Bantu hingga Kepala Sekolah, meskipun dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda.

Mengacu pada informasi dari situs resmi PGRI, para pendidik ini mengabdi di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua, berjuang menghadapi tantangan berat akibat perbedaan pangkat, status sosial, dan pendidikan. Namun, semangat kolektif yang mereka bangun menjadi fondasi penting bagi perjuangan yang lebih besar di masa mendatang.

(Menyusuri jejak Indonesiadi Balik Produksi Drama Korea.)

2. Transformasi ke PGI: Semangat Kebangsaan Makin Menguat

Pada tahun 1932, PGHB bertransformasi menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI), sebuah langkah berani yang melampaui sekadar pergantian nama, melainkan menjadi lambang perjuangan untuk menegaskan identitas kebangsaan yang kuat.

Penggunaan kata "Indonesia" jelas menjadi momok bagi penjajah Belanda, namun bagi para guru pribumi, itu adalah harapan yang tak terelakkan.

Dengan semangat juang yang membara, guru-guru Indonesia menantang diskriminasi dan memperjuangkan kesetaraan hak, hingga salah satu tonggak pentingnya adalah peralihan jabatan Kepala HIS yang sebelumnya selalu dipegang oleh orang Belanda, kini beralih ke tangan pribumi.

3. Zaman Jepang: Tantangan Baru bagi Guru Indonesia

Di tengah bayang-bayang pendudukan Jepang yang mengekang, organisasi-organisasi, termasuk PGI, terpaksa terdiam, dan sekolah-sekolah ditutup, memaksa para guru untuk menghentikan perjuangan mereka.

Namun, semangat kebangsaan tak pernah surut; harapan akan kemerdekaan tetap terpelihara dalam hati para pendidik ini. Meskipun masa-masa sulit itu menjadi ujian bagi tekad mereka, para guru terus berjuang dalam keterbatasan, mengingat betapa pentingnya pendidikan untuk masa depan bangsa.

Dan akhirnya, setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, harapan yang terpendam itu kembali menyala, membangkitkan semangat baru untuk membangun tanah air.

4. Lahirnya PGRI: Momentum Sejarah di Kongres Guru Indonesia

Setelah mengumandangkan proklamasi kemerdekaan, Surakarta menjadi saksi pentingnya sejarah pada 24-25 November 1945, ketika Kongres Guru Indonesia digelar.

Dalam suasana yang penuh semangat dan persatuan, para guru dari berbagai latar belakang, tanpa memandang tamatan, agama, daerah, atau pandangan politik, bersatu untuk merumuskan masa depan pendidikan bangsa.

Di sinilah lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November 1945, hanya seratus hari setelah Indonesia merdeka.

Dengan tekad yang membara di tengah tantangan, mereka mengusung tiga visi utama: mempertahankan dan menyempurnakan kemerdekaan, meningkatkan pendidikan yang berpihak pada rakyat, serta memperjuangkan hak-hak buruh, khususnya guru.

5. Penetapan Hari Guru Nasional: Pengakuan untuk Pengabdian Guru

Dalam rangka menghargai dedikasi para guru yang telah berjuang untuk bangsa, pemerintah menetapkan 25 November sebagai Hari Guru Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994.

Tanggal ini bukan hanya bertepatan dengan hari lahir PGRI, tetapi juga menjadi momen penting untuk mengenang peran guru sebagai garda terdepan dalam pendidikan Indonesia.

Hingga kini, PGRI tetap konsisten dalam menjalankan fungsi sebagai organisasi yang memperjuangkan profesi dan kesejahteraan guru. Para guru, lebih dari sekadar pengajar, adalah agen perubahan yang berperan penting dalam membentuk karakter dan masa depan bangsa.

6. Mengapa 25 November diperingati sebagai HUT PGRI dan Hari Guru Nasional?

Hari ini kita merayakan momen bersejarah, yaitu hari lahir Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), yang didirikan pada 25 November 1945, tepat seratus hari setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.

Sebuah tonggak penting yang tidak hanya menandai berdirinya organisasi guru, tetapi juga semangat perjuangan dan dedikasi para pendidik dalam membangun bangsa.

7. Apa latar belakang berdirinya PGRI?

PGRI muncul sebagai hasil dari Kongres Guru Indonesia yang bersejarah di Surakarta, sebuah momen penting yang menyatukan beragam kelompok guru dalam semangat perjuangan untuk mendukung kemerdekaan serta memajukan dunia pendidikan di tanah air.

8. Apa tujuan utama PGRI saat didirikan?

PGRI memiliki tiga misi utama yang tak terpisahkan: menjaga kemerdekaan yang telah diperjuangkan, mengangkat derajat pendidikan yang berakar pada kepentingan rakyat, dan memperjuangkan hak-hak guru agar mendapatkan pengakuan dan perlindungan yang layak.

9. Bagaimana PGRI berkembang dari era kolonial hingga sekarang?

Dari akar sejarahnya sebagai PGHB di masa penjajahan Belanda, organisasi ini bertransformasi menjadi PGI pada tahun 1932, dan kemudian dikenal sebagai PGRI pada tahun 1945.

Sejak itu, PGRI tak henti-hentinya berjuang sebagai garda terdepan dalam memajukan dunia pendidikan sekaligus menjaga dan menguatkan nilai-nilai kebangsaan yang menjadi jati diri bangsa.

(BCL Bantah Isu Hamil, minta netizen stop berasumsi.)

(kpl/rmt)

Rekomendasi

Trending