Selandia Baru Larang Warganya Pelihara Kucing, Ini Alasannya!

Jum'at, 31 Agustus 2018 15:30 Penulis: Galuh Esti Nugraini
Selandia Baru Larang Warganya Pelihara Kucing, Ini Alasannya!
Ilustrasi kucing (iStock)


Kapanlagi Plus - Di sebuah desa kecil yang terletak di pantai selatan Selandia Baru telah membuat peraturan baru. Para pihak terkait berencana menerapkan sebuah rencana radikal, yaitu melarang adanya kucing di sana. Hal ini demi melindungi satwa liar lainnya.

Hal tersebut diusulkan oleh Environment Southland. Yang mana meminta semua pemilik kucing untuk memasangkan microchip ke binatang peliharaannya tersebut dan mendaftarkan kucingnya ke badan otoritas lokal.

"Kedengarannya ekstrem, tetapi mungkin ada sesuatu yang harus dipertimbangkan oleh komunitas, yakni bagaimanapun juga, kucing bertanggung jawab atas kematian miliaran burung dan mamalia setiap tahun, dan menurut beberapa orang, itu semua adalah kesalahan kita," jelas Dr. Peter Marra, kepala Smithsonian Migratory Bird Centre, yang telah beberapa kali menulis jurnal dan buku tentang masalah ini.

"Kucing adalah hewan peliharaan yang mengagumkan, mereka hewan peliharaan yang spektakuler! Tetapi mereka seharusnya tidak diperbolehkan berkeliaran di luar, ini adalah solusi yang sangat jelas (terhadap kelangsungan ekosistem alami)," lanjutnya.

1. Banyak Kucing Berkeliaran Tertangkap Kamera

Seperti yang tertangkap pada kamera memperlihatkan jika kucing yang berkeliaran di luar telah memangsa banyak burung, serangga hingga reptil di daerah tersebut. Nantinya jika kucing peliharaannya mati, mereka tidak boleh diijinkan lagi memelihara kucing kembali, seperti yang dilansir dari BBC, Kamis (30/8/2018).

"Jadi (melalui aturan ini), kucing Anda tetap bisa menjalani kehidupan alaminya di Omaui, dengan senang hati melakukan apa yang disukainya. Tetapi kemudian ketika ia mati, Anda tidak akan dapat menggantinya," kata Ali Meade, manajer operasi keamanan bio setempat.

2. Melakukan Penyitaan Sepihak

Rupanya mereka tidak main-main dalam rancangan peraturan baru tersebut. Karena siapa pun yang tidak mematuhi akan mendapat peringatan berkala. Hingga di opsi terakhir, harus melakukan penyitaan sepihak pada kucing yang dipelihara.

John Collins, ketua dari Omaui Landcare Charitable Trust, memperjuangkan larangan untuk melindungi cagar alam "bernilai tinggi" di sana. "Kami bukan pembenci kucing, tetapi kami ingin lingkungan kita menjadi kaya akan margasatwa."

3. Masalah Kucing Bukan Hal Baru di Omaui

Sebelumnya perdebatan tentang polusi kucing dan ekosistem lokal bukan menjadi hal yang baru lagi di Omaui. Para ilmuan juga telah menyatakan hal ini. Dr Marra juga telah menjelaskan, 63 spesies kepunahan di seluruh dunia sekarang terkait dengan populasi kucing yang terus meningkat.

Masalahnya ini menjadi sangat krusial ketika berkaitan dengan ekosistem yang sangat sensitif, seperti di Selandia Baru. Maka dari itu para pecinta kucing diminta untuk mengubah pola pikir baru terhadap kucing.

"Kesulitan ini bukan kesalahan kucing, kesalahan manusia," ungkap Dr Marra. Terlebih lagi populasi kucing semakin harinya tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Sumber: Liputan6.com

(kpl/gen)



MORE STORIES




REKOMENDASI