Sound Book Jadi Cara Baru Bikin Anak Betah Membaca di Tengah Gempuran Gawai
Sound book bikin anak betah baca buku (Credit: Dokumentasi Pribadi)
Kapanlagi.com - Di tengah dunia yang semakin serbadigital, anak-anak kini terbiasa mendapatkan hiburan dan informasi hanya dalam beberapa sentuhan layar. Kondisi ini membuat buku konvensional terkadang terasa kurang menarik karena tidak memberikan stimulasi sebanyak perangkat digital.
Karena itu, inovasi dalam dunia literasi anak menjadi semakin penting. Salah satu yang mulai banyak digunakan adalah sound book, yaitu buku yang dilengkapi audio interaktif sehingga anak tidak hanya melihat gambar dan membaca teks, tetapi juga bisa mendengarkan suara, musik, bacaan, maupun efek tertentu sesuai isi halaman.
Konsep tersebut membuat kegiatan membaca terasa lebih seperti bermain. Anak dapat menekan tombol audio sambil mengamati ilustrasi dan mengikuti informasi yang disampaikan, sehingga proses belajar menjadi lebih aktif dan multisensori.
Advertisement
1. Belajar Membaca Sekaligus Melatih Banyak Kemampuan
Interaksi antara gambar, suara, dan aktivitas fisik saat menggunakan sound book memberikan stimulasi yang lebih beragam dibandingkan aktivitas membaca teks saja. Pengalaman tersebut dapat membantu anak memperkuat daya ingat, menambah kosakata, melatih kemampuan mendengarkan, sekaligus menjaga konsentrasi selama belajar.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan potensi sound book dalam mendukung proses pembelajaran anak. Penelitian di Magelang menemukan adanya pengaruh signifikan penggunaan sound book terhadap pengenalan huruf pada anak usia 5 sampai 6 tahun.
Sementara itu, penelitian lain di Denpasar menunjukkan bahwa penggunaan sound book interaktif dapat meningkatkan keterlibatan anak dalam proses pembelajaran serta membantu perkembangan pelafalan dan pemahaman kosakata secara kontekstual.
CEO Ziyadbooks, Rubiyanta, melihat sound book sebagai salah satu cara untuk menyesuaikan metode literasi dengan karakter anak yang tumbuh di era digital.
"Kami melihat bahwa anak-anak saat ini lebih responsif terhadap stimulasi audio dan visual. Karena itu, sound book kami hadirkan dengan tombol suara yang mudah ditekan dan ilustrasi yang menarik. Jadi, anak merasa seperti sedang bermain sambil belajar," ujarnya.
Ziyadbooks sendiri telah lebih dari 20 tahun berkontribusi dalam dunia literasi anak. Berbagai seri sound book edukatif pun telah dihadirkan, mulai dari Soundbook Learning How to Do Shalat, Soundbook My First Daily Doa, Soundbook Wild Animal, Soundbook Animals in the Quran, hingga Soundbook 100 Kata Pertamaku.
Setiap seri dirancang dengan ilustrasi yang menarik serta materi yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Dengan begitu, buku tidak hanya menjadi media untuk membaca, tetapi juga sarana bagi anak untuk mengeksplorasi informasi melalui pengalaman yang lebih interaktif.
2. Audio Bukan Pengganti Peran Orang Tua
Meski teknologi audio dapat membuat kegiatan membaca semakin menarik, kehadiran sound book tetap tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran orang tua dalam mendampingi anak.
Menurut Rubiyanta, interaksi antara anak dan orang tua justru menjadi bagian penting agar aktivitas membaca memberikan manfaat yang lebih maksimal.
"Sound book adalah alat bantu. Yang terpenting adalah bagaimana orang tua mendampingi anak saat membaca. Orang tua harus menjelaskan makna cerita dan mengajukan pertanyaan sederhana. Bisa juga mengajak anak mengulang kosakata yang didengar. Interaksi seperti ini yang membuat literasi bermakna," tegasnya.
Pendampingan tersebut juga memungkinkan orang tua mengetahui sejauh mana anak memahami informasi yang didengar. Misalnya, setelah audio selesai diputar, orang tua dapat bertanya tentang karakter, benda, suara, atau kosakata yang baru saja dipelajari.
Dengan cara sederhana seperti itu, sound book dapat menjadi jembatan antara teknologi dan kebiasaan membaca. Anak tetap mendapatkan pengalaman menggunakan media interaktif, tetapi aktivitas tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan literasi.
3. Ziyadbooks Dorong Buku dan Teknologi Berjalan Bersama
Upaya Ziyadbooks menghadirkan inovasi di dunia buku anak juga mendapat apresiasi melalui Brand Indonesia Excellence Award 2026 untuk kategori Stationery & Books yang diselenggarakan oleh INFOBRAND.ID bersama TRAS N CO Indonesia.
Pengakuan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Ziyadbooks dalam menghadirkan produk literasi yang mengikuti perubahan kebutuhan anak tanpa meninggalkan fungsi utama buku sebagai media belajar.
Rubiyanta mengatakan perkembangan teknologi tidak harus selalu dipandang sebagai pesaing buku. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan selama teknologi digunakan untuk memperkaya pengalaman belajar anak.
"Kami percaya buku dan teknologi bisa berjalan beriringan. Tanggung jawab kami adalah memastikan anak-anak tetap mendapat kedalaman literasi, meskipun metode membaca mereka terus bertransformasi," pungkasnya.
Di tengah kebiasaan anak yang semakin dekat dengan perangkat digital, sound book pun menawarkan pendekatan berbeda. Buku tetap menjadi pusat aktivitas, sementara audio digunakan sebagai elemen tambahan untuk membuat proses belajar lebih hidup.
Pada akhirnya, teknologi bukan soal menggantikan buku atau orang tua, melainkan bagaimana memanfaatkannya untuk membuat anak kembali tertarik membuka halaman demi halaman.
(Ibunda Zaskia Adya Mecca Alami Serangan Stroke dan dibawa ke UGD.)
(kpl/gtr)
Advertisement
D Academy 8
-
Fashion Selebriti Jirayut Kenakan Jersey Setengah Merah Biru di Final FIFA ASEAN Cup
-
Event Dangdut Potret Tasya Allesia Hibur Para Penonton di Kediri
-
Dangdut Academy Harsiwi Achmad Tegaskan Couple Muncul Alami di Dangdut Academy 8