Tujuh Petinggi BRI di Malang Positif Covid-19, Hasil Swab Lainnya Negatif

Jum'at, 10 Juli 2020 10:38 Penulis: Wulan Noviarina Anggraini
Tujuh Petinggi BRI di Malang Positif Covid-19, Hasil Swab Lainnya Negatif
Kantor BRI Malang © KapanLagi.com/Darmadi Sasongko


Kapanlagi Plus - Tujuh orang petinggi di lingkungan Kantor Wilayah (Kanwil) Bank Rakyat Indonesia (BRI) Malang dinyatakan positif Covid-19. Sementara hasil susulan swab para karyawan yang lain seluruhnya dinyatakan negatif.

"Ini sudah tambah (hasil labnya) tapi hasilnya negatif. Hari ini tambah hasilnya antara 25-30 orang, tapi hasilnya negatif semua. Mboten wonten (tidak ada penambahan). Data seperti kemarin (tujuh orang) dan kita berdoa jangan sampai tambah," tegas Sutiaji, Walikota Malang usai melakukan pemantauan di Kantor Kanwil BRI Malang Jl. RE Martadinata Kota Malang, Kamis (9/7).

Walikota Sutiaji, didampingi Kepala BI Malang, Azka Subhan dan Kepala OJK Malang, Sugiarto Kasmuri mengecek fasilitas layanan sesuai protokol kesehatan di Kantor Kanwil BRI Malang. Mereka memastikan bahwa gedung tempat tujuh pejabat tersebut keseharian berkantor dalam kondisi dikosongkan dan disterilkan dalam jangka waktu tertentu.

"Saya memastikan bagaimana sih gedung, yang kemarin ada yang terkonfirmasi positif  meninggal dunia karena Covid-19. Kita lihat di lantai 3 sudah ditutup total, lantai 4 ditutup total, lantai 2 juga ditutup total.  Sudah dilakukan penyemprotan disinfektan, setiap hari. Semua sterilisasi sudah dan sedang dilakukan," jelasnya.

Walikota bersama Satgas Covid-19 memberikan sejumlah rekomendasi setelah melakukan peninjauan lokasi. Selain itu juga akan dilakukan peninjauan terhadap gedung yang sudah 9 hari dikosongkan itu. Gedung akan kembali dipakai sekitar 14 hari atau sesuai hasil evaluasi.

"Tadi saya minta untuk AC dimatikan, harapannya biar tidak terjadi regenerasi virusnya," tegasnya.

Sutiaji juga meminta agar sebagaian ATM di lokasi agar tidak difungsikan guna efektifitas penerapan physical distance. Masyarakat yang hendak menggunakan ATM dapat menjaga jarak sesuai yang disyaratkan.

1. Pelayanan Masih Jalan

Sementara pelayanan bank kepada nasabah masih terus berjalan dengan terkonsentrasi di bangunan sisi selatan. Selain juga disediakan layanan ATM Mobile Banking yang terparkir.

Protokol diterapkan dengan mewajibkan nasabah antri berjarak, selain harus memakai masker, cuci tangan, pengukuran suhu tubuh dan  penggunaan hand sanitizer. Karyawan yang bertugas juga menggunakan face shield dan masker.

Sutiaji memastikan layanan tersebut aman, karena memang tidak terhubung langsung dengan gedung utama, tempat para petinggi tersebut barkantor. Tidak pernah terjadi akses atau hubungan secara langsung para petinggi tersebut dengan para nasabah.

"Setelah saya tracing dan tracking, tidah ada hubungannya yang bertempat di sini, lantai 2,3,4 tidak pernah hubungan dengan lantai pelayanan di samping sana," tegasnya.

"Semua petugas yang di sana (layanan) itu sudah di-swab dan hasilnya negatif. Secara komunikasi tidak ada hubungan erat kontak kontak langsung dengan layanan di sana (samping)," sambungnya.

Sutiaji meminta para pengguna jasa di Kantor Wilayah BRI Malang tidak was-was lagi melakukan aktivitas keuangan. Karena memang UMKM di Malang Raya sangat berkepentingan dan tercatat kucuran dana untuk UMKM mencapai Rp3,5 T dalam satu semester.

"Sementara sewilayah itu ada 16,5 T, saya tidak ingin terjadinya ini berpengaruh pada masayarakat takut dan sebagainya. Saya pastikan, tidak harus ada rasa ketakutan karena semua sudah saya cek," terangnya.

2. Lembaga Keuangan Diminta Perketat Protokol Kesehatan

Sutiaji juga meminta bank dan lembaga keuangan lain untuk memperketat protokol kesehatan. Lembaga keuangan lain yang menjadi tempat bertemunya masyarakat harus bisa mengambil pelajaran.

"Saya kira berangkat dari sini, nanti kita cek ke bank-bank lain tentu dengan BI dan OJK. Bahwa harapannya setiap ATM ada hand sanitizer, karena setiap kita nombol ini. Keluhan dari sini, dikasih hand sanitizer tidak sampai sehari hilang, sehari hilang," ungkapnya.

Bank diminta untuk menempatkan petugas yang mengingatkan konsumennya masuk ATM memakai hand sanitizer, begitupun sesudahnya. Termasuk juga dipersiapkan thermo gun untuk mengukur suhu tubuhnya.

"Semua yang melayani juga harus pakai sarung tangan, masker dan pakai face sield. Untuk uangnya, kemarin diterangkan BI kalau sudah divacum, 4 hari sebelum diedarkan, sehingga tidak perlu ada ketakutan," jelasnya.

3. 7 Pejabat BRI Positif Covid-19

Sehari sebelumnya, Walikota Sutiaji menegaskan tujuh orang terpapar Covid-19 merupakan unsur pimpinan wilayah. Pengumuman awal 3 orang positif yang salah satunya PDP meninggal dunia. Disusul kemudian kemudian 4 orang lainnya yang juga positif Covid-19.

"Semuanya berada di unsur pimpinan wilayah yang tidak pernah bersentuhan dengan layanan. Sehingga tidak harus ada kekhawatiran," tegas Sutiaji.

Pimpinan bank BUMN tersebut kemudian mengintruksikan seluruh karyawan untuk menjalani swab sebagai bentuk antisipasi. Penelusuran diawali dari pimpinan PDP yang meninggal dunia dan diketahui positif Covid-19.

Penelusuran dilakukan selama 14 hari terakhir dan yang bersangkutan tidak bepergian ke mana pun. Tetapi memang memiliki riwayat penyakit gula, jantung dan hypertensi. Saat itu tidak memiliki gejala (OTG), kecuali gejala penyakit yang sudah diketahui sebelumnya.

4. Sutiaji Tidak Setuju Kalau Kasus Ini Dianggap Klaster Baru

"Kalau bahasa tracing, namanya cluster itu tempat asal-usulnya pandemi itu, tapi kalau kelompok ini bukan klaster, grup lah. Bisa jadi yang meninggal dunia itu termasuk korban yang tertular virus dari orang lainnya. Bisa jadi, tapi kan OTG. Dia punya penyakit lain tadi, yang rawan imunnya, risiko tinggi," jelasnya.

Sementara, Pemimpin Wilayah BRI Malang, Presetya Sayekti mengatakan, pelayanan berdasarkan protokol kesehatan telah diterapkan jauh hari. Fasilitas sudah tersediakan, baik untuk karyawan yang bertugas maupun nasabah yang datang.

"Apa yang ada dalam protokol ini adalah suatu yang sudah selama ini berjalan. Saya hanya menambahkan 2 wastafle untuk memperbanyak, tetapi sebelumnya ada semua," kata Presetya Sayekti.

Selama ini, nasabah wajib menjaga jarak dengan antrian yang sudah ditentukan jumlahnya.  Ruangan juga dilengkapi akrilik demi memberi pelayanan bagi masyarakat. Presetya juga menegaskan, swab yang dilakukan terhadap semua karyawan sekitar 200 orang merupakan bagian dari kewaspadaan dan memistigasi risiko.

"Swab dalam jumlah banyak itu sebanarnya bagian dari kami memistigasi risiko. Jadi temen-temen mudah-mudahan berdoa dan saya yakin itu tidak ada lagi hasil-hasil yang positif berikutnya. Kenapa? Yang kami lakukan swab pertama itu yang sudah kami trasing itu sangat memungkinkan untuk (tertular), bukan di lingkaran kecil saja tetapi coba lebarkan," jelasnya.

Langkah tersebut guna meyakinkan bahwa semua pegawai yang berinteraksi dengan masyarakat tidak lagi dikhawatirkan menjadi carier Covid-19.

(kpl/dar/phi)

Reporter:

Darmadi Sasongko



MORE STORIES




REKOMENDASI