Vonis Bebas di Sidang Ke-66, Siti Aisyah Korban Permainan Intelejen Korea Utara

Selasa, 12 Maret 2019 10:53 Penulis: Rezka Aulia
Vonis Bebas di Sidang Ke-66, Siti Aisyah Korban Permainan Intelejen Korea Utara
Siti Aisyah dinyatakan bebas setelah dua tahun perjuangan. © AFP


Kapanlagi Plus - Nama WNI, Siti Aisyah, jadi sorotan atas kematian Kim Jong Nam, kakak tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Dua tahun lalu wanita malang ini ditangkap karena sempat dituduh melakukan pembunuhan di bandara Malaysia. Siti pun harus menjalani proses peradilan di Pengadilan Shah Alam Malaysia yang cukup panjang.

Lewat perjuangan yang tak mudah akhirnya Siti dibebaskan dari tuduhan pada Senin, 11 Maret 2019. Dari puluhan kali persidangan ini akhirnya terkuak berbagai fakta mencengangkan. Yuk ikuti perjuangan Siti Aisyah lepas dari dakwaan pembunuhan ini!

1. Sidang Perdana: Pembunuhan dan Persekongkolan

Sidang perdana dilakukan pada bulan Maret 2017 di Pengadilan Tinggi Sepang. Dalam sidang ini berisi agenda pembacaan tuntutan pada Siti Aisyah. Kala itu ia didampingi Tim Perlindungan WNI Kedutaan Besar RI untuk Malaysia bersama tim kuasa hukum dari Gooi & Azzura.

Jaksa penuntut umum mengganjar wanita 25 tahun ini dengan delik pembunuhan dan persekongkolan menurut Kitab UU Hukum Pidana.

Masih di sidang pertama, Siti Aisyah mengaku dijebak. Ia mengaku mendapat iming-iming 400 RM (1,2 juta rupiah) untuk melakukan prank pada target yang ternyata Kim Jong-Nam. Para oknum mengaku prank ini untuk tayangan televisi.

Siti mengaku diperintah dua pria bernama James dan Chan yang memiliki ciri fisik seperti orang Korea atau Jepang. Siti tak tahu cairan yang ia usap di wajah Jong-Nam adalah racun. Siti mengira cairan itu sekedar baby oil.

2. Reka Ulang di Bandara

Tak hanya Siti Aisyah yang ditangkap dalam kematian Jong-Nam. Seorang wanita Vietnam, Doan Thi Huong, juga ditangkap kala itu. Keduanya pun melakukan agenda reka adegan di Bandara pada bulan Oktober 2017. Reka adegan ini dijaga ketat kepolisian, juga hadir hakim dan jaksa.

Siti dan Doan menjelaskan bagaimana ia mengoleskan racun pada korban. Selama reka adegan Siti terlihat tak sehat dan menangis. Ia juga didorong dengan kursi roda kala itu

3. Kejanggalan

Tim pengacara Siti Aisyah menilai bukti-bukti dari Jaksa Penuntut amat lemah. Dari sederet bukti yang dihadirkan tak ada satu pun membuktikan Siti Aisyah pembunuh adik tiri Kim Jong-Un.

"Jika mengikuti situasi yang ada, tidak ada kejelasan siapa yang membunuhnya. Berdasarkan rekaman CCTV yang diputar di pengadilan, Siti Aisyah tidak melakukan apapun. Yang terekam hanya SA sedang berlari," kata Gooi Soon Seng.

Sebaliknya, kata Gooi, terdakwa lain asal Vietnam Doan Thi Huong yang saat itu bersama Siti lah yang justru terlihat memaparkan racun VX nerve agent ke wajah Kim. "Doan Thi Huong mengaku melakukan sesuatu, tetapi kalau Siti tidak. Hal itu bisa dilihat jelas lewat rekaman CCTV," ungkap Gooi.

4. Kejanggalan dari Keterangan Kim Jong Nam Sebelum Tewas

Masih ada kejanggalan lain yang ditemukan Pengacara Gooi. Terdapat keterangan bahwa Jong-Nam menuju klinik setelah terkena racun itu.

"Di pengadilan, jaksa menyebut bahwa petugas keamanan bilang Kim diserang oleh dua perempuan yang mengacu pada Siti dan Doan. Namun saat berada di klinik, berdasarkan keterangan perawat yang memeriksa, juga dilihat dari catatan medis korban, Kim mengaku diserang oleh satu wanita (one woman)," papar Gooi.

"Jadi memang tidak ada bukti bahwa Siti yang melakukan serangan," lanjutnya.

5. Bukti Amat Lemah

Gooi diminta hakim menjelaskan mengapa sosok Siti ada di bandara kala insiden terjadi. Sekali lagi pengacara ini menegaskan Siti diminta warga Korea Utara untuk melakukan aksi jahil alias prank dengan dalih untuk acara TV. Kini para oknum ini telah melarikan diri dan kembali ke negaranya.

Gooi menemukan bukti kliennya hanya korban kambing hitam.Pasalnya Siti Aisyah tak memiliki motif atau latar belakang apa pun untuk membunuh Jong-Nam. Penemuan kaus Siti yang diklaim terkena racun pun janggal.

"Ketika polisi mengambil kaus itu di hotel Siti, saya bertanya ditaruh di mana kaus itu lalu dijawab di plastik hitam. Tetapi saat saya tanya di pengadilan, kaus itu disimpan di plastik transparan. Polisi juga mengaku memberi tanda di kausnya (bagian yang terpapar), namun kemudian tanda di kaus itu hilang," papar Gooi.

6. Tak Ada DNA Siti

Kaus yang diklaim memiliki paparan racun ini amat ganjil. Pasalnya selain keganjilan plastik itu, tak ada DNA Siti. Hal ini meyakinkan Gooi bahwa kasus ini hanya manipulasi dan kliennya adalah korban.

"Selain itu, disebutkan juga kaus itu digunakan Siti saat insiden. Tetapi tidak ada DNA Siti ditemukan di kaus tersebut, padahal kaus itu tidak pernah dicuci. Kaus itu kemudian dikirim ke ahli kimia yang membenarkan ada sisa racun terpapar namun kemudian bukti tersebut malah dihancurkan. Kenapa dihancurkan? Benda ini jelas tidak bisa lagi dijadikan bukti karena sudah dimanipulasi," tambah Gooi.

7. Sidang Ke-66, Siti Aisyah Bebas

Setelah perjuangan dua tahun, akhirnya Siti mendapatkan keadilannya. Sidang ke-66 yang digelar pada Senin 11 Maret 2019 ini dihadiri Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Rusdi Kirana yang didampingi Dirjen Administrasi Hukum Umum Kemenkumham, Cahyo Rahadian Muzhar, Direktur Pidana Ditjen AHU, Lilik Sri Haryanto dan Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Lalu Muhammad Iqbal.

"Pembebasan ini didasari oleh permintaan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkum HAM) kepada Jaksa Agung Malaysia sehingga memutuskan untuk menggunakan wewenangnya berdasarkan Pasal 254 Kitab Hukum Acara Pidana Malaysia, yaitu untuk tidak melanjutkan penuntutan terhadap kasus Siti Aisyah (nolle prosequi)," ujar Dirjen AHU Cahyo Rahadian Muzhar.

Cahyo menjelaskan alasan Menkum HAM Yasonna H Laoly mengajukan permintaan pembebasan Siti. Pertama, Siti Aisyah meyakini yang dilakukannya semata-mata bertujuan untuk kepentingan acara reality show sehingga dia tidak pernah memiliki niat untuk membunuh Kim Jong-nam.

"Kedua, Siti Aisyah telah dikelabui dan tidak menyadari sama sekali bahwa dia sedang diperalat oleh pihak intelijen Korea Utara dan terakhir Siti Aisyah sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dari apa yang dilakukannya," ujarnya.

 

 

Reporter: Merdeka.com/Fellyanda Suci Agiesta

 

(kpl/mdk/rna)

Editor:

Rezka Aulia



MORE STORIES




REKOMENDASI