9 Sunnah Sholat Idul Fitri Berdasarkan Anjuran Nabi Muhammad SAW

Selasa, 20 April 2021 16:33 Penulis: Anik Setiyaningrum
9 Sunnah Sholat Idul Fitri Berdasarkan Anjuran Nabi Muhammad SAW
Ilustrasi (Credit: Freepik)


Kapanlagi Plus - Sunnah sholat Idul Fitri banyak dipertanyakan umat Islam menjelang lebaran. Hal tersebut wajar dilakukan karena setiap orang ingin berlomba-lomba dalam kebaikan dengan mengikuti anjuran sunnah sholat Idul Fitri. Untuk menjawab pertanyaan mengenai hal tersebut, berikut rangkuman sunnah sholat Idul Fitri yang dilansir dari merdeka.com dan nu.or.id.

Sholat Idul Fitri hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dikukuhkan). Bahkan, sebagian pendapat menyatakan fardlu kifayah (kewajiban kolektif). Salah satu dalil kesunnahannya adalah firman Allah dalam surat Al-Kautsar:

"Maka sholatlah kepada Tuhanmu dan berkurbanlah." (QS. Al-Kautsar ayat 2).

Mayoritas pakar tafsir menegaskan bahwa yang dimaksud sholat di dalam ayat itu adalah shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha). Dalil lainnya adalah bahwa Nabi rutin melaksanakan shalat Idul Fitri di setiap tahunnya.

Pertama kali beliau mendirikannya adalah pada tahun kedua sejak hijrah ke Madinah, pada tahun di mana perintah kewajiban puasa Ramadhan turun di bulan Sya'bannya (Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 39). Shalat Idul Fitri disunnahkan bagi laki-laki dan perempuan. Dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Lebih utama dilaksanakan di masjid dari pada di tempat lainnya, termasuk lapangan. Hal ini bila daya tampung masjid memadai. Bila sempit, maka lebih utama di lapangan.

Syekh Kamaluddin al-Damiri berkata:

"Melakukan shalat hari raya di masjid lebih utama, karena masjid-masjid adalah sebaik-baiknya, semulia-mulianya dan sebersih-sebersihnya tempat. Dan karena para Imam senantiasa shalat hari raya di Mekah di Masjidil Haram. Hal ini bila masjid luas, seperti masjidil haram dan Bait al-Maqdis. Bila tidak demikian, maka tanah lapang lebih utama, karena Nabi shalat di lapangan sebab sempitnya masjid beliau. Apabila Imam shalat bersama masyarakat dalam kondisi demikian di masjid, maka makruh, karena memberatkan mereka." (Syekh Kamaluddin al-Damiri, al-Najm al-Wahhaj, juz 6, hal. 456).

Sunnah yang sangat dikukuhkan tersebut sudah selayaknya dijalankan dengan sunnah sholat Idul Fitri lainnya agar lebih afdol. Untuk mengetahui selengkapnya, simak informasi berikut ini.

 

1. Mengumandangkan Takbir

Dalam Islam, hari baru pada dasarnya dimulai di Maghrib. Jadi, begitu kita tahu bahwa hari berikutnya akan menjadi Idul Fitri, kita bisa mulai mengumandangkan Takbir 'Idul Fitri di malam sebelumnya. Mengumandang Takbir adalah sunnah sholat Idul Fitri yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW.

Bagaimana takbir 'Idul Fitri dilakukan? Pada dasarnya, kalian akan mengucapkan:

Allahu Akbar , Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illa Allah, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahi Alhamd.

(Allah adalah yang paling agung, tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Allah adalah yang paling agung, dan bagi Allah adalah milik semua pujian.)

Setelah menghafal takbir ini, kalian harus mengatakannya terus menerus. Jadi mulai dari Maghrib sampai keesokan paginya, ketika Imam keluar untuk sholat Ied, kalian harus mengatakannya setiap saat, bahkan ketika memasak,sedang bekerja, dan mengemudi. Terus katakan itu sebanyak yang kalian bisa.

Salah satu syi'ar yang identik dengan Idul Fitri adalah kumandang takbirnya. Anjuran memperbanyak takbir ini berdasarkan firman Allah:

"Dan sempurnakanlah bilangan Ramadhan, dan bertakbirlah kalian kepada Allah". (QS. Al-Baqarah: 185).

Ada dua jenis takbir Idul Fitri. Pertama, muqayyad (dibatasi), yaitu takbir yang dilakukan setelah shalat, baik fardhu atau sunnah. Setiap selesai shalat, dianjurkan untuk membaca takbir. Kedua, mursal (dibebaskan), yaitu takbir yang tidak terbatas setelah shalat, bisa dilakukan di setiap kondisi.

 

2. Mandi

Sunnah sholat Idul Fitri agar badan terasa segar saat hari raya yaitu, dengan melakukan ghusl sebelum pergi keluar untuk berdoa.

Dalam hadits riwayat Ibnu Majah, Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Dan dari Amdullah bin Abbas Raliyallahu Anhuma, ia berkata, 'Bahwasannya Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam mandi pada hari Idul Fitri dan Idul Adha."

Mandi juga merupakan salah satu sunnah sholat Idul Fitri Nabi Muhammad. Dalam hadis di atas, Nabi Muhammad memang selalu mandi baik sebelum berangkat sholat idul fitri, maupun sebelum berangkat sholat idul adha.

Waktu mandi ini dimulai sejak tengah malam Idul Fitri sampai tenggelamnya matahari di keesokan harinya. Lebih utama dilakukan dilakukan setelah terbit fajar (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib 'Ala Syarh al-Khathib, juz 1, hal. 252).

Contoh niatnya adalah: "Aku niat mandi Idul fitri, sunnah karena Allah".

 

3. Menghidupi Malam Idul Fitri dengan Ibadah.

Sunnah sholat Idul Fitri selanjutnya yaitu, dianjurkan untuk menghidupi malam hari raya dengan shalat, membaca shalawat, membaca Al-Quran, membaca kitab, dan bentuk ibadah lainnya. Anjuran ini berdasarkan hadis Nabi:

"Barangsiapa menghidupi dua malam hari raya, hatinya tidak mati di hari matinya beberapa hati." (HR. al-Daruquthni). Hadits ini tergolong lemah, namun tetap bisa dipakai sebab berkaitan dengan keutamaan amal, tidak berbicara halal-haram atau akidah. Kesunnahan ini bisa hasil dengan menghidupi sebagian besar malam hari raya. Pendapat lain cukup dengan sesaat.

Riwayat dari Ibnu Abbas, dengan cara shalat Isya berjamaah dan bertekad melaksanakan shalat Subuh berjamaah.

 

4. Makan Sebelum Berangkat Sholat Idul Fitri

Sebelum berangkat shalat Idul fitri, disunnahkan makan terlebih dahulu. Anjuran ini berbeda dengan shalat Idul Adha yang disunnahkan makan setelahnya. Sunnah sholat Idul Ftri ini dilakukan karena mengikuti sunnah Nabi.

Lebih utama yang dimakan adalah kurma dalam hitungan ganjil, bisa satu butir, tiga butir dan seterusnya. Makruh hukumnya meninggalkan anjuran makan ini sebagaimana dikutip al-Imam al-Nawawi dari kitab al-Umm. (Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 592).

 

5. Jalan Kaki Menuju Tempat Sholat Idul Fitri

Berjalan kaki menuju tempat shalat Ied merupakan salah satu sunnah sholat Idul Fitri, berdasarkan ucapan Sayyidina Ali:

"Termasuk sunnah Nabi adalah keluar menuju tempat shalat Id dengan berjalan". (HR. al-Tirmidzi dan beliau menyatakannya sebagai hadis Hasan).

Bagi yang tidak mampu berjalan kaki seperti orang tua, orang lumpuh dan lain sebagainya diperbolehkan untuk menaiki kendaraan. Demikian pula boleh kepulangan dari shalat Ied dilakukan dengan tidak berjalan kaki. (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 282).

 

6. Mengambil Rute Berbeda Ketika Pulang Sholat

Ketika Nabi Muhammad ingin pulang setelah sholat Ied, ia sebenarnya mengambil rute yang berbeda. Kita juga bisa melakukan hal demikian sebagai sunnah sholat Idul Fitri.

Berdasarkan hadis riwayat al-Bukhari, rute perjalanan pulang dan pergi ke tempat sholat Ied hendaknya berbeda, dianjurkan rute keberangkatan lebih panjang dari pada jalan pulang. Di antara hikmahnya adalah agar memperbanyak pahala menuju tempat ibadah.

Anjuran ini juga berlaku saat perjalanan haji, membesuk orang sakit dan ibadah lainnya, sebagaimana ditegaskan al-Imam al-Nawawi dalam kitab Riyadl al-Shalihin. (Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 591).

 

7. Berhias

Idul Fitri merupakan sebuah perayaan. Maka dianjurkan untuk mengenakan pakaian terbaik bagi pria dan wanita serta mengenakan wewangian. Sunnah sholat Idul Fitri ini bertujuan untuk menampakkan kebahagiaan di hari yang berkah itu. Berhias bisa dilakukan dengan membersihkan badan, memotong kuku, memakai wewangian terbaik dan pakaian terbaik.

Lebih utama memakai pakaian putih, kecuali bila selain putih ada yang lebih bagus, maka lebih utama mengenakan pakaian yang paling bagus, semisal baju baru. Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa tradisi membeli baju baru saat lebaran menemukan dasar yang kuat dalam teks agama, dalam rangka menebarkan syiar kebahagiaan di hari raya Idul Fitri.

"Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu 'Anhu, bahwa: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang kami punya, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang kami punya, dan berkurban dengan hewan yang paling mahal yang kami punya." (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak)

Kesunnahan berhias ini berlaku bagi siapapun, meski bagi orang yang tidak turut hadir di pelaksanaan shalat Idul Fitri. Khusus bagi perempuan, anjuran berhias tetap harus memperhatikan batas-batas syariat, seperti tidak membuka aurat, tidak mempertontonkan penampilan yang memikat laki-laki lain yang bukan mahramnya dan lain sebagainya. (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 281).

 

8. Saling Memberi Ucapan

Sunnah sholat Idul Fitri berasal dari beberapa hadis yang disampaikan al-Imam al-Baihaqi, beliau dalam kitab Sunnahnya menginventarisir beberapa hadis dan ucapan para sahabat tentang tradisi ucapan selamat di hari raya.

Meski tergolong lemah sanadnya, namun rangkaian beberapa dalil tersebut dapat dibuat pijakan untuk persoalan ucapan hari raya yang berkaitan dengan keutamaan amal ini.

Argumen lainnya adalah dalil-dalil umum mengenai anjuran bersyukur saat mendapat nikmat atau terhindari dari mara bahaya, seperti disyariatkannya sujud syukur. Demikian pula riwayat al-Bukhari dan Muslim tentang kisah taubatnya Ka'ab bin Malik setelah beliau absen dari perang Tabuk, Talhah bin Ubaidillah memberinya ucapan selamat begitu mendengar pertaubatnya diterima. Ucapan selamat itu dilakukan dihadapan Nabi dan beliau tidak mengingkarinya.

Tidak ada aturan baku mengenai redaksi ucapan selamat ini. Salah satu contohnya "taqabbala allahu minna wa minkum", "kullu 'amin wa antum bi khair", "selamat hari raya Idul Fitri", "minal aidin wa al-faizin", "mohon maaf lahir batin", dan lain sebagainya.

Pada prinsipnya, setiap kata yang ditradisikan sebagai ucapan selamat dalam momen hari raya, maka sudah bisa mendapatkan kesunnahan tahniah ini. Bahkan, Syekh Ali Syibramalisi menegaskan tahniah juga bisa diwujudkan dalam bentuk saling bersalam-salaman. Karena itu, sangat tidak tepat klaim dari sebagian kalangan bahwa ucapan selamat hari raya yang berkembang di Indonesia tidak memiliki dasar dalil agama.

 

9. Mendengarkan Khutbah

Ketika sholat Idul Fitri selesai, pada dasarnya jamaah harus duduk dan mendengarkan khutbah. Mendengarkan khutbah merupakan salah satu sunnah sholat Idul Fitri.

Sebagai pengingat bagi kita, jangan berbicara selama khutbah! Dengarkan saja pesan dari imam dan terima berkah itu.

Ketika khutbah telah disampaikan, mungkin akan ada banyak orang yang ingin menyambut kalian. Berkaitan dengan sunnah sholat sebelumnya salam sunnah yang bisa kalian ucapkan saat lebaran:

" Taqabbala Allah minna wa minkum " (Semoga Allah menerima dari kami amal baik dan juga dari Anda). Tanggapan termudah untuk ini adalah mengatakan "Ameen".

Itulah sejumlah sunnah sholat Idul Fitri yang bisa kalian lakukan agar ibadah di hari raya semakin afdol.

 

(kpl/ans)



MORE STORIES




REKOMENDASI