BNPB Catat Korban Gempa Palu Donggala Sebesar 1.948 Jiwa

Senin, 08 Oktober 2018 18:31 Penulis: Sanjaya Ferryanto
BNPB Catat Korban Gempa Palu Donggala Sebesar 1.948 Jiwa
Gempa Palu © Liputan 6


Kapanlagi Plus - Jumlah korban akibat gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah semakin banyak. Hingga kini, badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 1.948 orang meninggal dunia karena bencana tersebut.

"Setiap jam kami mendapatkan data. Tadi saya mendapat kabar ada korban lagi empat. Jadi semua 1.948," ujar Kepala BNPB, Willem Rampangilei, dalam jumpa pers di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Senin (8/10/2018) seperti dilansir Liputan 6.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 855 orang sudah dimakamkan di pemakaman massal yang dibuat pasca bencana tersebut. Sisanya sudah diambil oleh pihak keluarga masing-masing.

1. Ada Kemungkinan Jumlah Bertambah

Jumlah korban meninggal dunia tersebut bukanlah jumlah pasti. Masih akan ada kemungkinan jumlah tersebut akan bertambah, karena hingga kini pihak BNPB masih melakukan proses pencarian dan juga pendataan.

BNPB sendiri nantinya akan menghentikan status tanggap darurat Palu-Donggala pada tanggal 11 Oktober 2018. Meskipun dihentikan, namun pencarian korban masih akan terus dilakukan meskipun dengan jumlah personel dan alat berat yang dikurangi.

"Evakuasi korban akan selesai pada 11 Oktober. Kalau tidak ditemukan akan dinyatakan sebagai korban hilang," ujar Sutopo, humas BNPB di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Minggu (7/10/2018).

2. Sisakan Banyak Cerita Duka

Bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah menyisakan banyak cerita sedih. Dalam bencana ini, ada banyak orang yang kehilangan anggota keluarganya maupun teman dan sahabat.

Salah satunya adalah pria bernama Anjas Firmansyah. Akibat gempa yang berkekuatan 7,4 SR tersebut, dirinya hingga kini belum menemukan istri dan anak keduanya.

Anjas memiliki keyakinan jika keduanya selamat. Namun karena chaos pasca gempa, dirinya berusaha keras untuk mendapatkan info mengenai kondisi istri dan anak keduanya tersebut.

3. Sempat Diperingatkan Sang Istri

Untuk menarik perhatian orang, Anjas pun menuliskan nama anak dan istrinya pada sebuah kardus yang ia ikatkan di tubuhnya. Dirinya pun berjalan kaki beberapa kilometer mendatangi posko bencana dan juga rumah sakit di sekitar Palu.

Dirinya terakhir kali bertemu dengan sang istri sesaat sebelum gempa. Kala itu istrinya yang bernama Atri sempat memberitahukan jika ada gempa, namun Anjas tak menghiraukannya.

Hingga akhirnya gempa besar terjadi, dan dirinya pun keluar rumah hanya menggunakan handuk. Dari situlah dirinya tak bisa menemukan sang istri. Untungnya Anjas bertemu dengan anak pertamanya yang langsung digandengnya untuk lari menjauh dari rumah.

4. Perumahan Tempatnya Tinggal 100% Rata Dengan Tanah

Sayangnya, anak kedua yang bernama Fajar juga tak bisa ditemukan olehnya. Tempat Anjas dan keluarganya tinggal, perumnas Balaroa memang menjadi salah satu tempat yang mendapatkan dampak luar biasa karena gempa.

Perumahan tersebut mengalami kerusakan hingga 100 persen, yang artinya tak ada satupun dari rumah di perumahan tersebut yang masih selamat dan berdiri tegak. Semuanya runtuh akibat gempa.

Diceritakan pula olehnya jika kondisi saat terjadi gempa sangat mengerikan. Tanah di perumnas seakan amblas dan aspal-aspal tebal terangkat ke atas dan posisinya terlipat-lipat.

5. Doa Untuk Anjas

Dirinya pun sempat mendapatkan pertolongan karena tertimpa reruntuhan kayu saat berusaha untuk melarikan diri. Kaki Anjas mendapatkan 5 jahitan karena luka tertimpa kayu.

Dirinya pun masih berusaha untuk mencari istri dan anaknya yang masih menghilang. Mari kita sejenak berdoa semoga Anjas bisa dipertemukan kembali dengan keluarga kecilnya.

(kpl/lip/frs)



MORE STORIES




REKOMENDASI