Mengintip Sisi Unik Bondowoso Hingga Berjuluk Republik Kopi

Jum'at, 29 Maret 2019 14:29 Penulis: Iwan Tantomi
Mengintip Sisi Unik Bondowoso Hingga Berjuluk Republik Kopi
© Kemenpar

Kapanlagi Plus - Dibandingkan Banyuwangi, nama Bondowoso mungkin masih belum begitu tenar. Namun jangan salah, tetangga Banyuwangi ini ternyata juga memiliki potensi wisata yang menarik lho, apalagi kalau bukan kopi. Bukan tidak mungkin di masa mendatang bakal ada artis nasional yang membuka kedai kopi di sini. 

Boleh dibilang banyak daerah di Indonesia yang dikenal sebagai daerah penghasil kopi terbaik. Namun, hanya ada satu yang disebut sebagai Republik Kopi. Daerah itu adalah Bondowoso. Sebagai identitas, kopi Bondowoso juga dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Produk Ekowisata Kabupaten Bondowoso, Kamis (28/3), di Palm Hotel, Bondowoso, Jawa Timur.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Ekowisata Kementerian Pariwisata David Makes, menilai munculnya brand ini sangat bagus. Karena, memiliki visi yang maju ke depan.

"Brand Bondowoso Republik Kopi ini sangat luar biasa. 4 tahun lalu, siapa yang mengenal Bondowoso sebagai penghasil kopi. Tapi mereka mengambil brand iu. Dan terbukti kopi Bondowoso mampu menembus mancanegara. Ini namanya visi," papar David.

Hanya saja, David berharap brand ini muncul sesaat kemudian menghilang. Menurutnya harus ada beragam aktivitas untuk mempertahankannya. Dan membuat brand semakin sustain.

"Bondowoso Republik Kopi harus terus diperkuat. Perkenalkan produk lebih masif. Agar brand itu terus melekat dalam wisata agro Bondowoso. Ini harus menjadi andalan," papar David Makes dihadapan media.

Sedangkan Ketua Asosiasi Wisata Agro Indonesia DPD Jawa Timur Joko Sudibjo menambahkan, masih banyak masyarakat yang tidak mengerti definisi wisata agro.

"Banyak yang tidak pas saat mengartikan wisata agro. Memang simplenya wisata agro adalah mengunjungi kebun atau holtikultura. Tapi sebenarnya lebih dari itu. Wisata agro itu harus ada usaha di bidang agro di dalamnya," papar Joko.

Dijelaskannya, dalam wisata agro harus ada proses budidaya. Baik dalam hal budidaya tanaman pangan, budidaya perkebunan, budidaya peternakan, budidaya perikanan, dan lain-lain.

"Wisata agro bukan hal baru. Sejumlah daerah sudah melakukannya. Dan harus ada hal unik yang jadi pembeda dengan wisata agro derah lain. Karena, keunikan itulah daya tariknya. Kalau kemudian sama saja dengan daerah lain, bagaimana wisatawan bisa hadir," papar Joko.

Sedangkan Specialist of Nature Conservation For Ecotourism Development Teguh Hartono berharao ekowisata Bondowoso diberikan sentuhan berbeda.

"Bondowoso memiliki banyak kelebihan. Oleh karena itu pengembangan wisatanya harus fokus. Jangan mengembangkan ekowisata yang sama dengan daerah lain. Ekowisata Bondowoso bisa dikembangkan kekinian. Misalnya diterapkan dengan gaya digital. Jangan tiru konsep lama yang dikembangkan tempat lain. Harus kekinian," katanya.

Namun, Teguh mengingatkan agar pengembangan destinasi wisata mengantisipasi PKL. Menurutnya, saat destinasi ramai, yang banyak datag bukan hanya pengunjung atau wisatawa. Tetapi juga pedagang.

"Oleh karena itu, saran saya pariwisata jangan banyak mau. Cukup dengan 2-3 produk tapi fokus. Jadi pengembangannya akan lebih maksimal. Termasuk untuk mengantisipasi PKL. Karena jika tidak, susah melihat destinasi sustin dan berkualitas," katanya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya juga berharap Bondowoso mulai memikirkan konsep destinasi yang sustain serta kekinian.

"Hadirkan sebuah destinasi yang berkelanjutan. Destinasi yang sustain dan berkelas. Beri juga sentuhan digital. Karena pariwisata saat ini tidak bisa dipisahkan dari dunia digital. Bondowoso masih bisa mengembangkan produk ekowisatanya. Lewat FGD ini saya berharap semua potensi di Bondowoso bisa dikembangkan," harapnya.

 

(kly/tmi)

Reporter:

Iwan Tantomi



MORE STORIES




REKOMENDASI