Bukan Diet Biasa, Sustainable Diet Tawarkan Pola Makan Sehat untuk Sayangi Bumi
Ilustrasi Diet © Shutterstock.com
Kapanlagi.com - Belakangan ini, perubahan iklim semakin menjadi perhatian. Perubahan iklim mengakibatkan kondisi cuaca ekstrem yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, banjir di mana-mana yang disebabkan oleh curah hujan tinggi, dan kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia itu sendiri.
Generasi masa kini bisa mengawali beri perhatian pada bumi dari langkah sederhana namun bermakna, misalnya saja dengan mengenal dan memulai praktik sustainable diet atau konsumsi pangan berkelanjutan.
Mungkin masih banyak yang belum paham, apa sih sustainable diet itu? Food and Agriculture Organization (FAO) menjelaskan sustainable diet atau konsumsi pangan berkelanjutan adalah pola makan yang meminimalisir dampak buruk terhadap lingkungan dan sosial.
Advertisement
Pola makan sustainable diet mengutamakan asupan pangan sehat dari sumber yang berkelanjutan. Pola makan sustainable diet ini penting lho, karena ternyata tekitar 26% gas emisi rumah kaca dunia berasal dari aktifitas yang berhubungan dengan sektor pangan dan pertanian.
1. Kurangi Nasi
Dengan pola makan yang berkelanjutan, emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim diharapkan dapat ditekan, sehingga mengurangi risiko pemanasan global.
Mulia Nurhasan, Food & Nutrition Scientist dari Center for International Forestry Research (CIFOR), mengatakan sustainable diet dapat dilakukan dengan memilih menu atau makanan yang ramah lingkungan, dan tetap memperhatikan kebutuhan gizi tubuh.
“Salah satu langkah memulai sustainable diet untuk masyarakat Indonesia adalah dengan mengurangi makan nasi, mengapa? karena jika kita semua mengkonsumsi nasi dengan berlebihan makan diperlukan lahan yang lebih besar untuk memproduksi beras, padahal lahan pertanian yang cocok untuk pertanian padi sudah semakin sedikit. Membuka lahan baru di tempat-tempat yang tidak cocok untuk pertanian padi malah beresiko untuk lingkungan dan sosial masyarakat setempat. Selain itu lahan pertanian produksi beras tersebut menghasilkan emisi methane (CH4) cukup tinggi, sehingga berkontribusi pada tingginya emisi gas rumah kaca yang berbahaya bagi lingkungan,“ jelasnya.
2. Demi Kelestarian Alam
Mulia menganjurkan untuk mulai mengurangi konsumsi nasi dan menggantikannya dengan sumber karbohidrat lain yang ramah lingkungan karena menghasilkan gas rumah kaca yang lebih kecil seperti umbi-umbian, singkong dan jagung.
“Porsi makan nasi yang dikurangi juga dapat digantikan dengan makanan tinggi asupan zat gizi mikro, seperti berbagai jenis ikan, dan berbagai macam sayuran berwarna-warni, dimana bukan hanya baik untuk kesehatan, tapi juga untuk kelestarian alam,” tuturnya.
3. Pengaruh Sisa Makanan
Penyebab perubahan iklim yang paling umum diketahui oleh masyarakat adalah jejak karbon kendaraan bermotor hingga deforestasi atau penggundulan hutan.
Tapi, ada juga nih penyebab lain yang lagi banyak dibahas, yaitu sampah sisa makanan atau food waste juga ikut berpengaruh. Mitos atau fakta ya? Chaus menyebutkan bahwa hal tersebut memang benar.
"Ada banyak pengaruhnya (dari food waste). Di Indonesia pembukaan lahan menjadi faktor utama. Kemudian limbah padat juga sangat berpengaruh. Lalu sampah organik yang 70% di antaranya merupakan sisa makanan yang bisa menjadi jejak karbon. Banyak orang yang tak menyadari jika membuang sisa makanan bisa berdampak buruk bagi lingkungan," jelas Chaus.
Mulia mengamini Chaus, dan lebih jauh mengungkapkan, sisa makanan yang terbuang percuma memang memperburuk emisi gas metana yang juga merupakan gas rumah kaca, ungkapnya. Meskipun wilayah Indonesia sangat luas, fenomena food waste sendiri lebih banyak menumpuk di kota besar, dimana masyarakat tidak punya lahan untuk menimbun sampah organik, atau hidup secara individualis sehingga tidak terbiasa berbagi makanan dengan tetangga.
“Tanpa disadari, sisa makanan terbuang ikut menyebabkan perubahan iklim. Mirisnya lagi, hal ini terjadi di tengah-tengah kelaparan yang masih tinggi di Indonesia” tutur Mulia.
4. Bagian dari Nilai Hidup
Mulia menyampaikan harapannya, agar sustainable diet bukan hanya menjadi tren yang timbul tenggelam, tetapi justru menjadi bagian dari nilai hidup yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Menurut Mulia, agar nilai-nilai keberlanjutan sistem pangan tertanam dengan baik, sangat penting bagi masyarakat untuk memahami konsepnya, dan bukan sekedar ikut-ikutan hype.
“Jika masyarakat tidak memahami konsep mendasarnya tentang pentingnya konsumsi pangan sehat dari sistem pangan yang berkelanjutan, maka hal ini akan semata-mata menjadi tren yang timbul tenggelam. Padahal tidak seperti fad diet, sustainable diet ini landasan ilmiahnya sangat kuat. Rekomendasi untuk mengurangi konsumsi nasi dan meningkatkan keragaman sayur dan ikan, misalnya, didukung banyak studi ilmiah. Penelitian menunjukan untuk masyarakat Indonesia, rekomendasi ini baik untuk kesehatan tubuh dan alam,” tuturnya.
(Ibunda Zaskia Adya Mecca Alami Serangan Stroke dan dibawa ke UGD.)
(kpl/tdr)
Advertisement
D Academy 8
-
Fashion Selebriti Jirayut Kenakan Jersey Setengah Merah Biru di Final FIFA ASEAN Cup
-
Event Dangdut Potret Tasya Allesia Hibur Para Penonton di Kediri
-
Dangdut Academy Harsiwi Achmad Tegaskan Couple Muncul Alami di Dangdut Academy 8