Dari Trial and Error PLTPH hingga Jadi Best Team, Ini Kisah Amerta Pertiwi UNAIR di Genera-Z Berbakti 2026
Tim Amerta Pertiwi UNAIR terpilih sebagai Best Team. (c) KapanLagi/Budy Santoso
Kapanlagi.com - Perjalanan penuh tantangan akhirnya membawa Tim Amerta Pertiwi Universitas Airlangga (UNAIR) meraih gelar Best Team Genera-Z Berbakti 2026. Sebelum sampai di titik tersebut, mereka harus melewati berbagai cerita selama pengabdian di salah satu binaan Desa Bakti BCA yaitu Desa Wisata Patakbanteng, Wonosobo. Mulai dari turun langsung membersihkan sungai, berjibaku dengan trial and error program Pembangkit Listrik Tenaga Pikohidro (PLTPH), hingga menghadapi pertanyaan kritis judges di babak Final Report.
Bukan cuma soal menjalankan sederet program yang sudah direncanakan sejak awal, pengalaman di lapangan juga mengajarkan mereka untuk beradaptasi. Kondisi alam, waktu yang terbatas, hingga kebutuhan masyarakat membuat setiap langkah menjadi bagian dari proses belajar Amerta Pertiwi selama Genera-Z Berbakti 2026.
Berawal dari Pengabdian di Desa Wisata Patakbanteng

Desa Wisata Patakbanteng menjadi tempat Amerta Pertiwi menuangkan berbagai ide menjadi aksi nyata. Program yang mereka jalankan menyentuh sejumlah bidang, mulai dari lingkungan, pemanfaatan teknologi, hingga sosial.
Advertisement
Salah satu kegiatan membawa mereka turun langsung membersihkan sungai yang menjadi lokasi pemasangan PLTPH. Di balik pengalaman yang cukup menantang itu, mereka juga melihat persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat sekitar.
"Dan kebetulan untuk Patakbanteng itu dilewati sama sungai Serayu, sehingga memang sampah itu pasti akan terus ada di situ selagi warga atau masyarakat di desa-desa tersebut membuang sampah ke sungai," ungkap Sam yang merupakan ketua dari Tim Amerta Pertiwi.
Selain PLTPH, Amerta Pertiwi mengembangkan Rumah Bibit yang dilengkapi perangkat IoT. Menjelang berakhirnya masa pengabdian, mereka juga masih menjalankan sosialisasi mengenai tumbuh kembang dan kesehatan mental remaja.
Trial and Error PLTPH Jadi Salah Satu Tantangan Terbesar

Di antara program yang dikerjakan, PLTPH menjadi salah satu tantangan yang menyita perhatian tim. Pemanfaatan aliran sungai sebagai sumber energi bersih tersebut membutuhkan berbagai penyesuaian agar dapat bekerja sesuai kondisi di lapangan.
Apalagi, tim memilih mengembangkan perangkat secara mandiri. Prosesnya pun tak lepas dari trial and error. Ketika menemukan bagian yang belum bekerja sebagaimana mestinya, mereka harus mencari sumber masalah dan segera melakukan perbaikan.
"Progres yang lainnya itu ada di PLTPH karena kita perlu melakukan trial and error dulu supaya bisa tahu alatnya ini error di mana dan kita langsung segera membenarkan alatnya seperti itu," kata Adib, anggota Tim Amerta Pertiwi.
Tantangan belum selesai. Kelistrikan sebenarnya sudah siap dirangkai, tetapi turbin dan beronjong tetap harus disesuaikan dengan kondisi alam. Bahkan ketika masa pengabdian tinggal hitungan hari, tim masih mencari konfigurasi yang paling sesuai.
"Dari lebar beronjong kita itu, masih belum pas. Dan juga untuk ukuran turbinnya ini, sebenarnya sudah oke, cuma nanti kita harus pikirkan untuk membendungnya seberapa tinggi. Sebagai penanggung jawab, harus tetap optimis, walaupun memang tinggal beberapa hari lagi," ujar Darwin, anggota Tim Amerta Pertiwi.
Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana rencana yang terlihat matang di atas kertas tetap harus berhadapan dengan realitas lapangan. Namun, keterbatasan waktu tak menghentikan salah satu tim dari Genera-Z Berbakti 2026 ini untuk terus mencari solusi.
Masuk Final Report, Program Amerta Pertiwi Diuji Judges

Usai menyelesaikan pengabdian di Desa Patakbanteng, tantangan Amerta Pertiwi belum benar-benar berakhir. Mereka masih harus menghadapi Final Report untuk mempresentasikan sekaligus mempertanggungjawabkan program yang telah dijalankan.
Sesi tersebut berlangsung cukup intens. VP BCA Nona Faletta, misalnya, menyoroti manfaat ekonomi dari program adopsi pohon sekaligus mempertanyakan penggunaan istilah output dalam presentasi mereka.
"Adopsi pohon ini kalau mau dikaitkan dengan ekonomi harusnya dia berdiri sendiri. Nggak bicara di video dan promosi. Pertanyaan saya manfaat ekonominya di mana? Kalian banyak sekali menuliskan output, yang menurut saya tuh sebenarnya bukan output, itu aktivitas," ujar Nona Faletta.
PLTPH pun tak luput dari pengujian. VP BCA Krisbiakto C. Adi meminta tim menjelaskan lebih jauh dampak yang ingin dihasilkan dari pemanfaatan aliran sungai sebagai energi bersih.
"Oke, kalau itu terjadi apa yang kalian harapkan? Ada listrik, kenapa itu perlu gitu? Yang kalian sampaikan disini semuanya itu belum sampai impact, itu baru outcome," tanya Krisbiakto C. Adi.
Menghadapi pertanyaan tersebut, Sam memilih menyampaikan manfaat yang mereka harapkan secara apa adanya.
"Ditanya impactnya apa, yaudah kita kasih tahu sejujurnya. Buat warga sama wisatawan," kata Sam.
Pertanyaan kritis dari judges membuat Final Report bukan sekadar panggung untuk menunjukkan sederet kegiatan yang telah selesai. Amerta Pertiwi juga ditantang untuk melihat kembali seberapa jauh program mereka dapat memberikan manfaat dan perubahan bagi masyarakat.
Sustainability Jadi Pesan Penting dari Perjalanan Amerta Pertiwi
Di balik berbagai program yang telah dijalankan, keberlanjutan menjadi salah satu hal penting yang dibawa dalam perjalanan Amerta Pertiwi. Sebab, masa pengabdian mahasiswa memang terbatas, sementara manfaat sebuah program diharapkan dapat terus dirasakan setelah mereka meninggalkan desa.
Pesan tersebut juga disampaikan Prof. Dr. Ahmad Sofy Mubarak, S.Psi., M.Si. selaku pendamping Tim Amerta Pertiwi.
"Sustainability bisa terjadi kalau sumber daya itu terjaga, masyarakat menjaga sumber daya, kemudian ada aturan yang jelas, juga ada sarana dan pasarana," ungkapnya.
Pesan itu sekaligus menjadi refleksi dari proses yang dijalani Amerta Pertiwi. Mulai dari PLTPH hingga Rumah Bibit, keberhasilan program pada akhirnya tidak hanya diukur dari apa yang selesai dibangun selama pengabdian, tetapi juga bagaimana manfaatnya bisa terus berkembang bersama masyarakat.
Kerja Keras Berbuah Best Team Genera-Z Berbakti 2026

Setelah seluruh presentasi dan sesi tanya jawab selesai, tibalah momen yang paling mendebarkan: pengumuman Best Team Genera-Z Berbakti 2026.
Tim Laskar Selasik Universitas Gadjah Mada diumumkan sebagai runner-up ketiga, sementara Tim Katalis Universitas Indonesia menjadi runner-up kedua. Persaingan kemudian menyisakan Tim Pelita Universitas Padjadjaran dan Tim Amerta Pertiwi Universitas Airlangga.
Hasil akhirnya membawa kabar manis bagi Amerta Pertiwi. Mereka resmi dinobatkan sebagai Best Team Genera-Z Berbakti 2026. Posisi Runner-Up I diraih Tim Pelita dari Universitas Padjadjaran (UNPAD), disusul Tim KATALIS dari Universitas Indonesia (UI) sebagai Runner-Up II, serta Tim Laskar Selasik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai Runner-Up III. Momen tersebut sontak menghadirkan rasa haru setelah semua proses yang mereka jalani. Bahkan, kemenangan itu terasa sulit dipercaya.
Dari sungai di Desa Patakbanteng, proses trial and error PLTPH, sederet program bersama masyarakat, hingga pertanyaan kritis di Final Report, perjalanan Amerta Pertiwi menunjukkan bahwa pengabdian bukan hanya tentang seberapa banyak program yang berhasil dikerjakan. Ada proses belajar, beradaptasi, mencari solusi, dan memahami kembali arti dampak serta keberlanjutan di balik setiap program.
Penasaran dengan perjalanan lengkap Amerta Pertiwi UNAIR di binaan Desa Bakti BCA hingga momen penentuan Best Team? Saksikan keseruan dan cerita lengkap empat tim dalam Episode 8 Genera-Z Berbakti 2026 di YouTube Solusi BCA. Tayangan inspiratif ini juga bisa disaksikan di Vidio.
(kpl/wri)
Advertisement
D Academy 8
-
Ulang Tahun Selebritis Ulang Tahun Soimah Dirayakan di Panggung Dangdut Academy 8
