Deg-degan sampai Hampir Panik di Panggung, Intip Cerita Seru Battle IPB University dan UNPAD di BCA Genera-Z Berbakti 2026
Battle Tim UNPAD dan IPB University dalam Genera-Z Berbakti 2026. (c) KapanLagi/Budy Santoso
Kapanlagi.com - Persaingan tiap kampus di Genera-Z Berbakti 2026 dalam memperebutkan desa binaan Bakti BCA semakin seru memasuki episode ketiga. Setelah sebelumnya tim UIN Bandung dan Universitas Gadjah Mada (UGM) bertarung memperebutkan kesempatan mengimplementasikan program di Desa Terong, kini giliran IPB University dan Universitas Padjadjaran (UNPAD) yang saling berhadapan untuk memperebutkan Desa Gunung Padang.
Tim finalis dari IPB University diwakili oleh Tya, Lubna dan Miki. Sementara itu, tim UNPAD diwakili oleh Yusfi, Dellpati dan Ghifa. Di balik presentasi yang terlihat penuh percaya diri, ternyata ada banyak cerita yang tak terlihat di layar.
Mulai dari pertemuan tak disengaja kedua tim ketika survei desa, rasa gugup sebelum naik panggung, pengalaman burnout yang sempat membuat salah satu peserta kehilangan semangat, hingga tekad kuat untuk terus berjuang meski hidup dipenuhi tantangan.
Advertisement
Semua emosi itu menjadi bagian dari perjalanan setiap kampus sebelum akhirnya mereka menunjukkan kemampuan terbaik di hadapan panelis yang terdiri dari Nicholas Saputra, Cinta Laura Kiehl, dan Tri Mumpuni.
1. Perasaan Deg-degan yang Ternyata Dialami Semua Peserta
Meski sudah melalui berbagai tahap seleksi dan para finalis melakukan berbagai persiapan, rasa gugup tetap tak bisa dihindari ketika momen battle akhirnya tiba. Hal itu diakui Miki dari tim IPB University yang mengaku sempat dibuat tegang sesaat sebelum memasuki panggung.
"Sebelum ke stage, rasa deg-degan ada. Ternyata semenantang ini buat naik ke stage," cerita Miki.
Perasaan serupa juga dirasakan Tya. Menariknya, pengalaman tampil di atas panggung sebenarnya bukan hal baru baginya. Sejak kecil, ia sudah terbiasa mengikuti fashion show. Namun, tampil membawakan gagasan di Genera-Z Berbakti 2026 ternyata menghadirkan tantangan yang benar-benar berbeda.
"Menurutku lebih deg-degan ini sih daripada tampil fashion show yang cuma kurang dari lima menit terus kita pergi," ungkap Tya.
(Untuk pertama kalinya, Tom Holland konfirmasi pernikahannya dengan Zendaya.)
2. Cerita Personal yang Bikin Battle Terasa Lebih Bermakna
Sebelum sesi presentasi dimulai, para panelis Genera-Z Berbakti 2026 mengajak peserta berbincang lebih dekat. Dari percakapan itu, muncul kisah-kisah yang memperlihatkan perjuangan masing-masing finalis di balik status mereka sebagai mahasiswa berprestasi.
Lubna dari IPB University misalnya, secara jujur mengaku sempat mengalami burnout akibat padatnya aktivitas yang dijalani dan upaya mengejar impiannya. Salah satu impian yang dimiliki Lubna saat ini adalah mengemban pendidikan di Inggris.
"Ada banyak faktor yang membuat saya burnout. Mulai dari akademik, tuntutan organisasi, dan juga kegiatan ini sebenarnya. Ketika saya gagal, pada saat impian terbesar saya, maka rasanya lebih sakit daripada gagal-gagal yang biasanya," ujar Lubna.
Cerita berbeda datang dari Dellpati atau yang akrab disapa Del, peserta dari UNPAD. Ia tumbuh dalam kondisi ekonomi yang tidak mudah. Sang ayah bekerja sebagai driver ojek online, tetapi kondisi tersebut justru menjadi alasan baginya untuk terus mengejar pendidikan.
Dalam kesempatan perkenalan di hadapan panelis, Del menceritakan bahwa salah satu pengalaman yang paling diingat adalah ketika dirinya diterima di Universitas Padjadjaran. Kala itu, Del mendengar beberapa orang mempertanyakan kondisi ekonomi keluarganya untuk membayar uang kuliah.
"Saya punya keyakinan bahwa satu-satunya hal yang bisa mengubah khalayak umum dan diri sendiri adalah pendidikan. Memang tidak sebanding dengan faktor ekonomi yang hari ini sedang menimpa. Namun itu bukan jadi penghalang saya, bukan jadi penghambat saya untuk meraih cita-cita," ungkap Del.
3. Adu Ide Kritis, Kreatif, dan Penuh Strategi
Memasuki sesi Idea Pitch, kedua tim langsung menunjukkan kualitas proposal yang telah mereka siapkan untuk dipresentasikan di panggung Genera-Z Berbakti 2026. Tya tampil mewakili IPB University dengan mempresentasikan program Sabilulungan Lestari yang mencakup pengelolaan sampah, tanaman obat keluarga (TOGA), hingga agroforestry.
Agar konsepnya lebih mudah dipahami, ia bahkan membawa maket yang menggambarkan implementasi program agroforestry di Desa Gunung Padang.
Detail presentasi yang dibawakan Tya sukses menarik perhatian tim lawan.
"IPB University itu proper banget untuk bisa nyiapin konsep, menjelaskan konsep, dan lebih detailnya itu kayak detailnya detail banget gitu," puji Del.
Namun, UNPAD tak tinggal diam. Yusfi maju mewakili timnya untuk mempresentasikan program Mega Lestari yang berfokus pada revitalisasi MCK serta instalasi bioseptic tank menggunakan agen dekomposer bakteri.
Meski demikian, rasa panik tak terhindarkan kala Yusfi hendak melakukan presentasi. Di mana, Yusfi sempat tidak bisa mengoperasikan clicker meskipun pada akhirnya bisa mengendalikan situasi.
"Di awal clicker-nya nggak jalan gitu kan, itu sebenarnya bikin aku panik sih. Tapi fun fact, aku malu sih nyeritainnya. Sebenarnya aku salah pencet clicker, makanya clicker-nya nggak jalan gitu kan," ceritanya.
Terlepas dari itu, penampilannya pun mendapat apresiasi dari rekan satu tim.
"Aku nggak pernah nyangka dia bisa se-gacor itu. Dia hit the point. Yang mana itu juga berpengaruh ke sesi-sesi selanjutnya, yang memudahkan Dellpati maupun aku," puji Ghifa.
Persaingan semakin panas ketika memasuki sesi Think Tank. Kali ini Dellpati dan Lubna harus menjawab berbagai pertanyaan mendalam dari panelis.
Nicholas Saputra terlihat memberi perhatian khusus pada konsep agroforestry milik IPB University. Ia bahkan mendatangi meja presentasi untuk melihat langsung maket yang telah disiapkan tim.
Di balik layar, dukungan antarteman terasa begitu kuat. "Pas Lubna maju ke depan, aku bangga banget karena aku yakin Lubna pasti bisa jawab," ungkap Miki memberikan dukungan.
Sementara itu, Tri Mumpuni menguji lebih jauh konsep sanitasi yang dibawa UNPAD dengan mengkritisi aspek kultur kebersihan masyarakat. Meski mendapat pertanyaan yang cukup tajam, Dellpati tetap mampu menjawab dengan tenang.
"Kagum banget sama beliau karena dia benar-benar tenang menjawab pertanyaan panelis," ujar Yusfi memuji Del.
Battle berlanjut ke tahap Head to Head yang mempertemukan Miki dan Ghifa. Pada sesi ini, kedua peserta saling mengkritisi proposal lawan.
Miki mempertanyakan urgensi revitalisasi MCK karena menurutnya fasilitas tersebut sebenarnya sudah tersedia di lokasi. Sebaliknya, Ghifa menilai program yang diajukan IPB University terlalu banyak sehingga belum terlihat benang merah yang menghubungkan seluruh program.
Perdebatan berlangsung seru, tetapi tetap mengedepankan argumentasi berbasis data dan solusi. Justru di sinilah kemampuan berpikir kritis para finalis benar-benar diuji. Tak hanya itu, para panelis pun dibuat pusing untuk menentukan tim mana yang akan lolos karena keduanya sama-sama menghadirkan program yang impresif.
Lalu, tim mana yang akhirnya berhasil memenangkan battle dan mendapat kesempatan mengimplementasikan program pengabdiannya di Desa Gunung Padang?
Jawabannya bisa kamu saksikan di episode 3 Genera-Z Berbakti 2026 yang tayang di YouTube Solusi BCA atau ketik bca.id/genzberbakti. Juga tersedia di Vidio. Siap-siap dibuat ikut tegang melihat bagaimana ide, keberanian, dan semangat pantang menyerah para finalis diuji hingga detik terakhir.
(Rizky Billar polisikan enam akun sosial media terkait hoaks cerai dan perselingkuhan.)
(kpl/wri)
Advertisement
